UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pelayanan Sosial Presenter TV Terinspirasi oleh Nilai-Nilai Katolik

Pebruari 2, 2018

Pelayanan Sosial Presenter TV Terinspirasi oleh Nilai-Nilai Katolik

Daniel Mananta memberikan kata sambutan saat peresmian kapel yang didirikannya di Wae Mata, Keuskupan Ruteng, Flores. (Foto: Daniel Mananta)

Presenter televisi kondang  Indonesia Daniel Mananta  mempraktekkan iman Katoliknya di sudut yang jauh dari nusantara yang luas ini.

Ketika Mananta menghadiri Misa hari Minggu pada empat tahun  lalu di kapel Wae Mata, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur,  yang mayoritas Katolik, dia melihat atap kapel itu bocor.

Selebriti TV kondang itu sangat  terkesan dengan cara umat Katolik setempat berjalan kaki beberapa kilometer untuk menghadiri Misa Kudus mingguan di kapel yang rusak itu di sebuah paroki wilayah Keuskupan Ruteng.

“Saya tersentuh oleh pengalaman itu dan ingin memperbaiki gereja itu,” kata Mananta, 36, anak sulung dari  dua bersaudara dari keluarga bisnis.

Renovasi kapel itu merupakan ungkapan terima kasih kepada Tuhan atas pemulihannya dari penyakit misterius yang dideritanya selama enam bulan yang mempengaruhi pita suaranya di tahun 2012.

Pengobatan dan operasi gagal menyembuhkan  penyakitnya. “Tapi, berkat  doa dan mukhjizat  Tuhan saya sudah sembuh,” katanya.

Proyek pembangunan kembali kapel dimulai tahun 2014 dan selesai pada tahun berikutnya.

“Yang saya inginkan adalah bahwa umat Katolik setempat memiliki tempat ibadah yang layak untuk berdoa dan mengikuti  Misa,” kata Mananta, yang telah menerima berbagai penghargaan industri hiburan.

Sementara kapel Wae Mata adalah satu-satunya gereja tempat  dia ikut terlibat secara  langsung, Mananta juga telah  mendanai puluhan proyek pembangunan gereja lainnya di seluruh Indonesia melalui Gregorius Albert, seorang awam Katolik, yang juga terlibat dalam pembangunan gereja karena ia sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai presenter.

Temukan kekuatan dalam nilai-nilai Katolik

Beberapa tahun terakhir ini, bangsa kita terperosok dalam banyak skandal narkoba dan skandal lainnya yang melibatkan aktor, aktris dan penyanyi, serta beberapa dari mereka  menjadi pengedar dan pengguna.  Tapi, Mananta mengatakan bahwa kehidupan pribadinya jauh dari gosi dan narkoba  karena dia selalu berpegang  pada nilai-nilai Katolik yang diimaninya.

“Iman Katolik membantu saya mengatasi banyak tantangan dan masalah,” kata Mananta, yang menghabiskan tujuh tahun  belajar di Aquinas College dan kemudian melanjutkan studi ke  Edith Cowan University, Perth, Australia.

Tahun 2002, ia kembali ke Indonesia, tempat  kelahirannya, dan ingin berkontribusi untuk negara itu.

Dan pada tahun berikutnya ia memenangkan kontes MTV Indonesia untuk orang-orang yang ingin menjadi joki video atau penyiar musik VJ.

Kariernya terus menanjak, Mananta terus membintangi sinetron dan film sekaligus membidangi program award dan pencarian bakat.

Dia mendapatkan profil regional saat menjadi host di Asian Idol series  yang diputar di Malaysia, Filipina, Singapura dan Vietnam serta Indonesia.

Namun bintang industri hiburan yang sedang naik daun itu tidak membiarkan ketenaran masuk ke kepalanya.

Kunci untuk hidup bahagia, katanya, adalah  selalu hidup dengan nilai-nilai Katolik seperti berbagi kasih  kepada orang lain.

Mananta menjelaskan  Paus Fransiskus sebagai “idola” dan tokoh yang memiliki prinsip mendalam. “Saya sudah membaca biografinya,” katanya. “Dia sangat lucu dan aku mencintainya. Saya juga mengindolakan Yesus Kristus.”

Teladan Paus Fransiskus mendorongnya untuk mengunjungi dan mendukung lansia, mengunjungi panti asuhan, yayasan kanker, pasien rumah sakit dan memberikan beasiswa bagi siswa dari keluarga miskin.

Kapel yang didirikan oleh Daniel Mananta.

 

Pesan untuk orang muda 

Mananta sangat memprioritaskan untuk membantu kaum muda, yang banyak di antara mereka percaya bahwa mencapai impian dan harapan kadang tidak realistis dengan cara-cara kesuksesan yang instant.

“Sebenarnya, ini butuh proses,” katanya. “Untuk mencapai puncak, orang harus mulai dari bawah – dengan melakukan hal-hal kecil.”

Dia telah mencoba menanamkan di kalangan kaum muda pemahaman tentang nilai kerja keras dan iman.

Mananta mengatakan kepada kaum muda bahwa saat masih menjadi mahasiswa di Australia dulu ia bekerja sebagai pencuci piring restoran dan juga menjaga  toko.

Orang muda seharusnya tidak malu melakukan pekerjaan kasar, katanya, karena melakukan tugas semacam itu dengan baik bisa menghasilkan prestasi yang lebih tinggi dalam hidup.

Maria Aurelia, 22, seorang Katolik, mengatakan Mananta telah menjadi panutan baginya.

“Dia bekerja tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk Gereja Katolik melalui pelayanan sosialnya,” katanya.

“Saya bangga padanya karena dia memiliki iman yang kuat dan peduli terhadap kemanusiaan,” tambah mahasiswi itu.

Delis Kartika, 27, seorang Muslim, mengatakan bahwa dia mengenal Mananta hanya  melalui televisi.

Dia bersih dari narkoba, tidak seperti banyak selebritis lainnya. Ia melayani tanpa melihat latarbelakang agama, termasuk kepada orang muda Muslim, kata Kartika.

Pastor  Agustinus Agung, kepala  Paroki St. Theresia dari Kanak-Kanak  Yesus Rangga, Keuskupan Ruteng, mengatakan bahwa bantuan Mananta dalam membangun kembali kapel Wae Mata di parokinya menjadi contoh yang baik bagi orang lain.

“Saya dan umat paroki menyampaikan terima kasih atas bantuannya. Saya berharap para pemuda di paroki dan tempat lain belajar sesuatu dari Daniel,” katanya.

Katolik di Indonesia dimulai dengan kedatangan pedagang Portugis di abad ke-16.

Konradus Epa, Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi