UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kelompok Muslim Garis Keras akan Lawan Parpol Nasionalis

Pebruari 5, 2018

Kelompok Muslim Garis Keras akan Lawan Parpol Nasionalis

Sekitar 700.000 umat Islam mengikuti sebuah aksi protes yang digelar pada 2 Desember 2016 untuk menuntut agar Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama, seorang keturunan Cina beragama Protestan, dijebloskan ke penjara atas tuduhan penistaan agama. (Foto: Ryan Dagur/ucanews.com)

Kelompok Muslim garis keras berjanji akan melakukan kampanye melawan sejumlah partai politik (Parpol) nasionalis menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang akan berlangsung secara serentak di beberapa wilayah Indonesia tahun ini dan pemilihan presiden (Pilpres) tahun depan.

Salah satu target utama mereka adalah Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P).

“Bagi kami, partai tersebut biang kerok persoalan bangsa ini,” kata Slamet Maarif, juru bicara aliansi kelompok Muslim garis keras.

Berbicara kepada ucanews.com, ia mengatakan bahwa mereka akan melakukan mobilisasi untuk mengalahkan para kandidat yang didukung oleh PDI-P dan Parpol nasionalis lainnya.

Ini berarti ada perubahan dari sekedar mendukung para kandidat yang memilki agenda bernuansa Islam.

Sejumlah kelompok Islam garis keras memainkan peran politik yang signifikan sejak mereka membantu mengalahkan Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama dalam pemilihan gubernur tahun lalu.

Ahok didukung oleh PDI-P dan Parpol nasionalis.

Target selanjutnya bagi kelompok pro-Islam adalah Pilkada yang akan digelar secara serentak di 171 propinsi dan kabupaten/kota Juni nanti.

Ansufri Idrus Sambo, seorang tokoh Muslim garis keras, mengatakan taktik yang digunakan untuk melawan Ahok dengan mengerahkan aksi massa akan dilakukan lagi.

“Kami akan memonitor setiap wilayah untuk memastikan bahwa umat Islam memilih kandidat yang sejalan dengan misi kami,” katanya.

Januari tahun lalu, kelompok Islam garis keras mengaku telah mengajukan sejumlah nama calon kandidat kepada beberapa Parpol berbasis Islam. Di antaranya melobi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang dipimpin oleh Prabowo Subianto.

Eva Kusuma Sundari dari PDI-P membantah tuduhan bahwa kandidat PDI-P tidak mengikuti ajaran Islam.

Ia mengatakan kelompok garis keras menggunakan agama sebagai cara untuk melegitimasi ambisi politik mereka.

“Mayoritas anggota PDI-P itu Muslim termasuk saya,” katanya.

“Kami percaya bahwa apa yang kami perjuangkan sesuai dengan ajaran Islam,” lanjutnya.

Pengamat politik Boni Hargens mengatakan Muslim garis keras mengecap orang lain “kafir” dan anti-Islam atau komunis. Namun Muslim moderat akan sekuat tenaga melawan upaya mereka untuk mengubah Indonesia menjadi sebuah negara agama.

Menurut Boni, sikap tegas dibutuhkan oleh pemerintah untuk melawan penggunaan strategi kampanye sektarian yang memecahbelah semacam itu.

“Jika tidak, Pilkada mendatang khususnya di wilayah-wilayah mayoritas Muslim akan seperti Jakarta,” katanya.

Ahmad Basari, seorang Muslim berusia 25 tahun dari Bogor, Jawa Barat, mengatakan ia bergabung dengan aksi menentang Ahok tahun lalu karena ia kecewa dengan sejumlah Parpol non-Islam.

“Selama perjuangan kami menjebloskan Ahok ke penjara, mereka tidak melakukan apa pun,” katanya.

“Mereka malah mendukungnya,” lanjutnya.

Ia menambahkan bahwa jika Indonesia terus dipimpin oleh Presiden Jokowi dan PDI-P, umat Islam akan menderita.

Namun pendekatan berbasis agama seperti itu tidak berlaku bagi Abdullah Boe, seorang Muslim dari Propinsi NTT.

“Saat Pilkada kami tidak memilih pemimpin agama tapi pemimpin masyarakat,” jelasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi