UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Karena Bantu Nelayan, Dua Aktivis Katolik Di Vietnam Dihukum Penjara

Pebruari 7, 2018

Karena Bantu Nelayan, Dua Aktivis Katolik Di Vietnam Dihukum Penjara

para pendukung membawa lembaran kertas bertuliskan “Hoang Duc Binh tidak bersalah” dan “Bebaskan Hoang Duc Binh” setelah Binh dan seorang aktivis lingkungan hodup lainnya, Nguyen Nam Phong, dijebloskan ke penjara pada 6 Februari. (Foto: Thanh Nien Cong Giao)

Dua aktivis lingkungan hidup beragama Katolik di Vietnam dijebloskan ke penjara setelah membantu ratusan nelayan dalam menyampaikan gugatan terhadap sebuah perusahaan baja milik Taiwan karena mencemari wilayah pesisir.

Hoang Duc Binh, 35, dihukum penjara 14 tahun karena “melawan aparat yang bertugas” dan “menyalahgunakan kebebasan demokrasi untuk melanggar kepentingan negara, kepentingan legitimasi dan hak-hak organisasi dan warga negara.”

Sementara itu, Nguyen Nam Phong, 38, juga didakwa melawan petugas dan dihukum penjara dua tahun.

Keduanya menjalani sidang putusan pada 6 Februari di Pengadilan Rakyat di Distrik Dien Chau, Propinsi Nghe An.

Sepuluh kerabat Binh ditahan dan diduga dipukul polisi berpakaian preman ketika mereka ingin mengikuti persidangan. Hanya ibu Binh dan istri Phong yang diijinkan mengikuti persidangan.

“Pengadilan melanggar undang-undang dasar dan tidak menunjukkan bukti yang mengaitkan kedua terdakwa dengan kejahatan itu. Pengadilan menghukum mereka berdasarkan tuduhan yang dibuat oleh prokurator,” kata Ha Huy Son, satu dari tiga penasihat hukum yang membantu kedua terdakwa tersebut.

Son, satu dari segelintir penasihat hukum yang berani membela para aktivis hak asasi manusia (HAM) di negara itu, mengatakan kedua terdakwa meminta para hakim untuk menunjukkan video dan bukti, tapi permintaan mereka ditolak. Para hakim menjadikan polisi sebagai saksi pada persidangan.

“Tidak ada satu pun pengadilan di dunia, kecuali di Vietnam, yang menghukum orang tanpa bukti di persidangan,” kata Son. “Saya khawatir pengadilan tidak adil dan secara salah menghukum kedua warga negara itu. Binh dan Phong tidak bersalah.”

Dalam sebuah pernyataan, Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat “sangat kecewa” atas dakwaan dan hukuman yang diberikan kepada Binh dan Phong.

“Tren meningkatnya penangkapan, dakwaan dan hukuman berat kepada para aktivis damai sejak awal 2016 sangat memprihatinkan,” kata departemen itu dalam pernyataannya.

Surat kabar negara, Nghe An, menuduh Binh memposting video yang memfitnah para penguasa dan memutarbalikkan kebenaran dan membantu mengorganisasi kelompok-kelompok yang mengadvokasi kompensasi bagi nelayan yang kehilangan mata pencaharian menyusul tumpahan zat beracun dari perusahaan baja Formosa Plastics Group tahun 2016. Insiden ini mengakibatkan pencemaran di bibir pantai sepanjang 200 kilometer dan menghancurkan kehidupan laut.

Binh adalah wakil ketua Phong Trao Lao Dong Viet atau sebuah organisasi independen yang didirikan tahun 2008 untuk mempromosikan hak-hak pekerja.

Pada Februari 2017, Binh dan Phong bersama ratusan orang meninggalkan Paroki Song Ngoc untuk mengajukan gugatan terhadap perusahaan Formosa di Pengadilan Rakyat di Kota Ky Anh, Propinsi Ha Tinh.

Menurut surat kabar itu, kelompok itu menyebabkan kemacetan di sebuah jalan utama. Binh meminta Phong yang mengendarai mobil mereka untuk tidak membuka pintu mobil jika diminta oleh polisi.

Pastor Yohanes Pembaptis Nguyen Dinh Thuc yang memimpin aksi mengatakan aksi menolak membuka pintu mobil yang dilakukan oleh Phong sudah tepat. Hal ini dilakukan untuk melindungi orang di dalam mobil termasuk dua biarawati karena aparat dan pasukan keamanan telah memblokade jalan dan secara brutal menyerang ratusan orang. Beberapa aparat keamanan memecahkan pembersih kaca depan mobil dan memukul mobil itu.

Pastor Thuc, juga aktivis lingkungan hidup, mengatakan ia pernah dua kali meminta untuk dihadirkan dalam persidangan sebagai saksi, tapi tidak pernah mendapat jawaban. Ia juga meminta pengadilan untuk membebaskan kedua korban tidak bersalah itu tanpa syarat.

Sejumlah aktivis mengatakan hukuman 14 tahun penjara untuk Binh merupakan satu hukuman terberat yang pernah diberikan kepada seorang aktivis di Vietnam. Hukuman ini bertujuan untuk mengancam orang supaya tidak melakukan aksi protes melawan Formosa yang didukung oleh pemerintah.

Ada sekitar 550.000 umat Katolik di Keuskupan Vinh yang melayani Propinsi Nghe An, Ha Tinh dan Quang Binh.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi