UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pakistan Menjatuhkan Hukuman Mati pada Pembunuh “Penghujat Agama”

Pebruari 9, 2018

Pakistan Menjatuhkan  Hukuman Mati pada  Pembunuh “Penghujat Agama”

Para demonstran berpartisipasi dalam protes di Karachi pada April 2017 terkait pembunuhan Mashal Khan. (Foto: Rizwan Tabassum/AFP)

Pengadilan Pakistan telah menjatuhkan hukuman mati pada seorang dan lima orang lainnya menjalani hukuman penjara seumur hidup karena membunuh seorang siswa liberal yang dituduh melakukan penodaan agama.

Mashal Khan, seorang mahasiswa jurnalistik, 23, dan pemikir liberal, dilucuti, dipukuli dan ditembak oleh sekelompok mahasiswa sebelum dilempar dari lantai dua asramanya di Universitas Abdul Wali Khan di kota Mardan,  Pakistan barat laut pada  April 2017.

Imran Ali, yang mengaku menembak korban, dijatuhi hukuman mati.

Hakim Fazle Subhan juga memberikan hukuman empat tahun penjara kepada 25 terdakwa lainnya dan sebagiannya dibebaskan karena kurangnya bukti, menurut dokumen pengadilan.

Pengadilan telah menjatuhkan hukuman terhadap 61 orang termasuk tiga orang yang melarikan diri diberi hukuman sembilan bulan percobaan.

Putusan tersebut diumumkan pada 7 Februari di Penjara Pusat, distrik Haripur, provinsi Khyber Pakhtunkhwa di tengah keamanan yang ketat.

Keluarga almarhum mengatakan kepada media bahwa mereka akan menantang putusan pengadilan anti-terorisme karena membebaskan 26 orang.

“Mereka, 26 orang yang dibebaskan oleh pengadilan terlihat dalam rekaman video saat penyerangan tersebut,” kata Iqbal Khan, ayah dari Mashal Khan, kepada media di London, dimana dia diundang untuk berbicara di Universitas Oxford oleh peraih Nobel termuda Malala Yousafzai.

“Mereka tidak pantas berjalan bebas, kita akan pergi ke pengadilan tinggi untuk memastikan keadilan dilayani.”

Sebuah laporan resmi menyimpulkan bahwa Mashal Khan secara sengaja dituduh menghujat, laporan investigasi mengatakan bahwa pembunuhan tersebut dilakukan oleh anggota kelompok pelajar sekuler yang merasa terancam dengan semakin menonjolnya Mashal Khan sebagai kritikus atas peningkatan biaya kuliah dan dugaan korupsi di universitas tersebut.

Ratusan pendukung partai Islam memberikan sambutan selamat datang kepada tersangka yang dibebaskan, menghujani mereka dengan kuntuman  mawar.

“Namaku Abbas Awan, insyaallah, jika orang mengingat nama Mashal Khan yang murtad, tidak ada yang berani melakukan penghujatan,” kata seorang terdakwa yang dibebaskan dalam sebuah rekaman ketika berbicara ditengah partai Islam.

Video dari adegan  itu banyak beredar di Twitter.

Putusan itu tidak bisa mengubah pola pikir fundamentalis

Uskup Agung Joseph Arshad, pemimpin  Gereja Katolik Pakistan, mengatakan kebanyakan orang di negara tersebut menganggap kasus ini sebagai masalah agama.

“Tragedi Mashal Khan sendiri tidak dapat mengubah pola pikir fundamentalis. Pendidikan yang berkualitas adalah satu-satunya solusi, namun kami senang bahwa keadilan telah dipenuhi. Hukum harus  memperbaiki sistem agar orang merasa lebih aman,” katanya.

Pastor Nasir William, ketua  Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Islamabad-Rawalpindi, menghargai upaya peradilan tersebut.

“Kritik terbuka dan pelecehan terhadap hakim oleh perdana menteri yang digulingkan  Nawaz Sharif dan ulama garis keras menunjukkan ada kekuatan yang lebih tinggi di atas pengadilan. UU Penghujatan telah mempermudah balas dendam,” kata imam tersebut.

Ia mengatakan, “Tidak ada yang benar-benar tulus untuk memperbaiki keadaan. Satu-satunya solusi adalah memberikan hukuman yang sama kepada mereka yang melaporkan kasus penghujatan palsu.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi