UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Tolak Kesepakatan Pengangkatan Uskup, Kardinal Zen Dapat Dukungan Online 

Pebruari 9, 2018

Tolak Kesepakatan Pengangkatan Uskup, Kardinal Zen Dapat Dukungan Online 

Seorang desainer Hong Kong merilis sebiuah gambar berbingkai pada 6 Januari yang memperlihatkan lima karakter huruf Cina dan gelombang berwarna kuning. Kelima karakter huruf Cina ini memiliki makna “Kami mendukung Kardinal Zen.” OMK pengguna Facebook menggabungnya dengan foto dan gambar lain untuk menunjukkan dukungan mereka kepada Kardinal Zen. (Foto: Facebook)

Orang Muda Katolik (OMK) di Hong Kong menggunakan Facebook untuk mendukung Joseph Kardinal Zen Ze-kiun beberapa hari setelah uskup keenam kota ini mengkritik Vatikan karena bersiap-siap “menyerahkan diri” kepada Partai Komunis Cina di tengah spekulasi tentang kesepakatan antara kedua belah pihak terkait pengangkatan uskup.

Ribuan pengguna media sosial di wilayah semi-otonomi tersebut mengganti foto profil mereka untuk menunjukkan dukungan mereka kepada kardinal yang ditahbiskan tahun 2006 dan pensiun tahun 2009 itu.

Gambar berbingkai untuk foto profil dibuat oleh seorang desainer Hong Kong bernama Dominic. Dalam gambar ini terdapat gelombang berwarna kuning di bagian bawah dengan lima karakter huruf Cina di atasnya. Sebuah foto Kardinal Zen, gambar animasi atau lebih banyak digunakan wajah mereka sendiri terletak di atas gelombang itu.

“Melihat begitu banyak umat Katolik yang mendukung ‘kakek’ secara spontan, saya memutuskan untuk menggunakan foto profil berbingkai itu,” kata Dominic, 38, kepada ucanews.com.

Kelima karakter huruf Cina itu memiliki makna “Kami mendukung Kardinal Zen.” Karakter kedua dari kiri secara implisit mengidentifikasi kardinal sebagai seorang martir dengan memperlihatkan Yesus di kayu salib dengan warna merah-putih.

Gambar itu “mewakili semua klerus yang menderita di Cina daratan,” kata Dominic.

Gelombang berwarna kuning merujuk pada bendera Vatikan dan postingan blog Kardinal Zen. Dalam blognya, kardinal menyebut masalah Gereja di Cina sebagai badai yang perlu ditenangkan.

“Kami tidak takut badai karena kami percaya akan Allah,” tulis kardinal.

Agama Kristen masuk ke Cina sejak Dinasti Tang pada abad ke-8, namun para misionaris diusir ketika komunis mulai berkuasa tahun 1949.

Dalam beberapa dekade terakhir, keduanya melakukan gencatan senjata meskipun Beijing menghancurkan sejumlah gereja dan mendikte para klerus pro-pemerintah mana yang seharusnya diangkat dan ditahbiskan.

Meme Facebook baru itu didesain bersama orang muda Hong Kong lainnya, Peter, 29. Ketika ditanya apakah ia sengaja mempopulerkan “pemujaan personalitas,” ia mengatakan “jika seseorang memilih untuk menginterpretasikannya demikian, itu urusan mereka, yang pasti saya tidak pernah melihatnya demikian.”

Seorang warga setempat lainnya yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan jika pemujaan tengah dibentuk, maka poster paus dan para uskup akan berada di tempat-tempat religius di seluruh kota itu. Namun bukan ini masalahnya.

Sejak beberapa tahun terakhir, OMK Hong Kong menunjukkan bahwa mereka tidak siap untuk digertak atau dibungkam oleh pengendali pelanggaran Beijing di kota itu setelah penyerahan kembali ke Cina dari Inggris tahun 1997.

Hanya dalam pekan ini seorang hakim senior mendakwa Joshua Wong dan dua aktivis vokal lainnya yang memimpin aksi protes “payung” yang digelar tahun 2014 di wilayah itu.

“Orang muda tidak bisa diam, tapi saya tidak bisa menghentikan mereka,” kata Kardinal Zen.

Ia pun tidak akan berusaha menghentikan mereka dalam menyampaikan pendapat tentang Cina atau Vatikan.

Pensiunan kardinal itu menjelaskan bahwa banyak orang tua di Hong Kong juga tidak sepakat dengan sejumlah kebijakan yang diambil Tahta Suci.

“Saya pergi Misa di sebuah katedral (baru-baru ini) dan seusai Misa banyak biarawati melewati saya dan berkata sambil berbisik, ‘Saya dukung Anda! Saya dukung Anda!’”

Kardinal menambahkan: “Saya tidak suka membuat kegaduhan karena sudah ada banyak keributan.”

Seorang warga Hong Kong berusia 36 tahun yang hanya mau dipanggil sebagai Giana mengatakan ia menggunakan meme kardinal di akun Facebook-nya karena ia mengagumi keberanian dan sikap tegasnya.

“Takhta Suci tidak memahami umat Katolik Hong Kong dan situasi Gereja di Cina. Bahkan kini Paus ingin berunding dengan pemerintah Cina,” katanya.

“Kardinal Zen adalah satu-satunya orang yang berteguh pada pendiriannya dan yang menyampaikan kebenaran,” lanjutnya.

Michael Law, OMK berusia 30 tahun, menggunakan meme kardinal untuk “mengungkapkan cinta saya kepada kardinal di tengah semua erangan yang dihapainya selama beberapa hari terakhir ini.”

“Kami butuh suara seorang nabi saat ini. Kardinal Zen lebih dari sekedar seorang gembala – ia adalah saksi hidup akan kebebasan agama yang sejati dan teladan bagi orang muda,” katanya.

Ia mengatakan Gereja Katolik telah membangun reputasi kuat sebagai pembela hak asasi manusia dan kebebasan individu. Bahkan Gereja Katolik menggelar aksi protes damai di masa lalu untuk menolak rezim otokrat seperti Polandia, Korea Selatan dan Filipina.

“Saya khawatir kesepakatan Sino-Vatikan akan semakin memperlemah prestise moral Gereja dan memperdangkal misi evangelisasi yang begitu kaya sejak Vatikan II,” katanya.

Warga Hong Kong lainnya juga khawatir akan adanya semakin banyak pemujaan personalitas.

“Saya tidak perlu mengubah foto profil Facebook saya karena saya tidak ingin dicap sebagai pendukung pemujaan,” kata seorang OMK.

“Tapi saya mendukung kardinal dan menganggapnya teladan,” lanjutnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi