UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pastor Menjadikan Hidupnya untuk Melawan Ketidakadilan di Papua

Pebruari 15, 2018

Pastor Menjadikan Hidupnya untuk Melawan Ketidakadilan di Papua

Pastor John Djonga, 59, dari keuskupan Jayapura di Papua, diurnal batas keberaniannya dalam berbicara atasnama orang yang tertindas. (Foto: Ryan Dagur/ucanews.com)

Ancaman kematian, medan yang sulit dan interogasi polisi karena dugaan pengkhianatan tahun lalu tidak mengurangi semangat Pastor John Djonga untuk memberikan pelayanan di provinsi Papua yang bergolak itu.

Pastor Djonga, 59, dari keuskupan Jayapura ini sudah menjalankan lebih dari 30 tahun pelayanan di daerah terpencil Papua ini, yang tidak hanya sulit dijangkau,  namun juga sangat miskin meskipun daerah ini kaya akan sumber daya alam.

Imam itu  tiba di Papua sebagai katekis tahun 1988 dari daerah asalnya di Flores. Terinspirasi oleh kekurangan pastor di daerah itu, ia masuk  Seminari Tinggi Keuskupan Jayapura tahun 1990 dan ditahbiskan menjadi imam  tahun 2001.

Tugas perutusan yang berisiko

Melakukan tugas keagamaan di Papua merupakan tugas yang penuh resiko. Wilayah mayoritas Kristen itu muncul sebagai titik balik konflik sejak bergabung dengan Indonesia lebih dari 50 tahun  lalu.

Kelompok pro-kemerdekaan terus melakukan serangan secara bergerilya dalam beberapa tahun terakhir ini, korban terus berjatuhan sampai sekarang  meskipun polisi melaporkan banyak penangkapan para kelompok kriminal bersenjata itu.

Sebuah laporan Koalisi Internasional untuk Papua menemukan bahwa penangkapan terus meningkat empat kali lipat dari 1.083 tahun 2015 menjadi 5.361  tahun 2016, kebanyakan terjadi selama demonstrasi damai untuk mendukung kelompok tersebut.

Laporan terakhir menunjukkan bahwa klaim pemerintah bahwa HAM  membaik di Papua tidak akurat.

Pastor Djonga,  kini  sebagai pastor Paroki  Kristus Raja Wamena ini, mengatakan  dia sering bertemu dengan orang-orang yang mengatakan telah dianiaya oleh pasukan keamanan setempat.  Beberapa laporan menyatakan mereka disiksa  dan Pastor Djonga tidak takut menuntut tentara untuk didisiplinkan saat mereka bertindak keluar dari perintah pimpinannya.

“Saya memilih menjadi imam bukan hanya untuk orang  Katolik saja tapi juga untuk kelompok pro-kemerdekaan, yang kebanyakan bersembunyi di hutan,” katanya kepada ucanews.com.

Sejumlah  imam memilih untuk berteman dengan pemberontak, katanya.

“Mereka juga adalah teman  saya dan membutuhkan layanan terlepas bebas dari afiliasi politik mereka,” katanya.

“Saya dekat dengan mereka, saya juga dekat dengan tentara dan polisi,” tambahnya.

Anak laki-laki Papua menonton helikopter militer Mi17 di bandara Erwer di Agats, distrik Asmat, di Papua Barat pada 27 Januari.  (Foto: Bay Ismoyo/AFP)

 

Pastor Djonga berharap dapat membantu mengurangi serangan yang  mengakibatkan jatuh korban sia-sia dengan memainkan peran perantara.

“Meskipun personil militer atau kelompok pro-kemerdekaan adalah Muslim, ketika saya berbicara tentang kemanusiaan tidak ada hambatan di antara kami,” katanya.

Namun, dia mengaku menerima ancaman pembunuhan dan  intimidasi lainnya secara rutin, terkadang setiap hari.

Setelah mengadu kepada gubernur Papua  tahun 2007  bagaimana militer menggunakan taktik untuk mengintimidasi masyarakat setempat, dia mengatakan bahwa dia menerima telepon yang mengerikan dari seorang tentara  yang tidak dikenal.

“Dia mengatakan kepada saya bahwa saya akan dikubur hidup sedalam 700 meter,” kata Pastor Djonga.

“Tapi, saya tidak takut karena saya tahu ini adalah risiko yang melekat pada pelayanan saya.”

Tahun  2016 dia ditanyai oleh polisi karena memimpin sebuah pelayanan doa yang dihadiri oleh anggota kelompok separatis Papua. Dia kemudian dibebaskan tanpa biaya.

“Saya mengatakan kepada polisi bahwa apakah mereka pro-Indonesia atau  ingin mandiri, saya harus melayani mereka. Itu tugas saya,” katanya.

Di luar kekerasan

Risiko kesehatan yang berkaitan dengan diet dan rendahnya tingkat pendidikan termasuk di antara isu-isu lain yang mengganggu daerah itu, kata Pastor Djonga.

Lebih dari 72 anak-anak di kabupaten  Asmat, sebuah daerah terpencil di provinsi paling timur negara itu,  meninggal dalam beberapa bulan terakhir karena kekurangan gizi sementara sekitar 650 orang telah mengidap campak, kata kepala distrik setempat Elisa Kambu.

Tim medis dan militer dikirim ke kabupaten tersebut untuk memberikan pertolongan dan keadaan darurat diumumkan pada 15 Januari, demikian menurut laporan media.

Meskipun kedatangan tim medis TNI  di Kabupaten  Asmat pada  27 Januari untuk membantu wabah campak baru-baru ini, Pastor Djonga mengatakan bahwa rintihan dan penderitaan orang-orang miskin di wilayah tersebut sering kali diabaikan oleh pemerintah. (Foto: Bay Ismoyo/AFP)

 

Bagi Pastor Djonga, kisah kematian tragis semacam itu bukanlah hal baru.

Tahun lalu dia terlibat dalam penyelidikan dengan sekelompok sukarelawan untuk mendokumentasikan kematian massal hampir 100 orang di kabupaten Yahukimo. Kematian terjadi selama  beberapa bulan.

“Kematian tragis seperti ini adalah cerita yang sering terjadi, namun kami tidak melihat upaya luar biasa untuk menghentikannya,” katanya.

Marah karena apa yang dilihatnya sebagai usaha yang tidak maksimal dari pemerintah, dia pergi ke sebuah stasiun TV nasional bulan lalu dan mengkritik pemerintah.

Komentarnya di MetroTV memicu perdebatan sengit dengan seorang menteri pemerintah yang tampil di acara yang sama.

“Saya mengatakan kepadanya bahwa ucapan saya didasarkan pada pengalaman nyata, ada klinik di Papua tapi tidak ada perawat dan obat-obatan. Bagaimana pemerintah berjanji akan memperbaiki situasi jika tidak mempertimbangkan masalah dasar seperti ini?” tanyanya.

Dia mengatakan bahwa anak-anak dirampok dari kesempatan mendapatkan standar pendidikan yang layak dengan kekurangan serupa yang mengakibatkan kekurangan staf dan sumber daya.

“Bangunan sekolah ada tapi tidak ada guru, apalagi buku,” katanya.

“Saya sudah bekerja di sini selama 30 tahun tapi belum ada perubahan berarti,” keluhnya.

Seorang ‘gembala ideal’

Pastor Djonga mengatakan bahwa melibatkan dirinya dalam masalah sosial adalah bagian dari menjawab panggilan Tuhan.

“Sebagai pastor saya melayani kawanan saya dengan Sakramen-sakramen, tapi itu adalah tugas standar, saya juga merasa berkewajiban  terlibat langsung dengan masalah sehari-hari dan masalah yang mereka hadapi,” katanya.

Dia mendesak keterlibatan Gereja yang lebih besar di Papua mengingat tantangan besar yang dihadapi rakyat Papua di sana sekarang.

“Ini adalah bidang yang membutuhkan misi pembebasan,” katanya.

Pastor  John Djonga adalah seorang gembala yang  ideal. (Foto: Ryan Dagur/ucanews.com)

Dia percaya bahwa Yesus akan mendorong umat beriman, dan siapa saja yang mampu, untuk terlibat dan membantu di provinsi itu, yang sekarang sangat terperosok dalam masalah sosial dan politik.

Sebagai pengakuan atas perjuangannya, Pastor Djonga menerima Penghargaan Yap Thiam Hien  tahun 2009. Dia menerima penghargaan HAM paling bergengsi di Indonesia  tahun itu bersama dengan seorang pengacara Cina yang merupakan seorang aktivis terkenal.

Sahabatnya, Pendeta Benny Giay dari Sinode Gereja Kristen Papua, mengatakan bahwa salah satu kekuatan Pastor Djonga adalah kemampuannya untuk bergaul dengan orang-orang di seluruh spektrum sosial.

“Dia adalah gembala yang ideal,” kata Pendeta Giay. “Dia adalah seorang imam yang ingin tenggelam di rawa penderitaan rakyat.”

“Dia juga bisa mengajak  orang, dia mengatakan kepada orang-orang: ‘Mari keluar dari situasi ini,'” katanya.

Theo Hesegem, Kepala Jaringan Advokasi untuk Penegakan Hukum dan Hak Asasi Manusia, mengatakan bahwa Pastor Djonga tidak takut dengan  nyawanya terancam saat dia berjuang  memperbaiki kehidupan masyarakat.

“Kami bekerja sama dalam banyak hal dan komitmennya jelas,” katanya.

“Dia adalah contoh yang baik seorang imam yang ingin berdiri di garis depan untuk memperjuangkan keadilan.”

 

4 responses to “Pastor Menjadikan Hidupnya untuk Melawan Ketidakadilan di Papua”

  1. Joseph E. Fauzi says:

    Saya ingin membantu kesehatan teman2 di desa Papua dgn cara mendidik konsumsi kelor dan juga budidaya tanam kelor.. Bgmn cara nya ? saya posisi ada di Surabaya.. saya bisa kirim bibit kelor gratis.. tks. JEF

  2. Paulus Uran says:

    Motivasi yg sangat luhur dan mulia..
    Selalu diberkati Tuhan…

  3. Irwan Marly says:

    Jadi referensi buat misionaris2lokal yg sdh dan akan ditempatkan di Papua dibagian manapun di provinsi2 yg ada.

  4. Antonius suhendri says:

    Tugas dan semangat luar biasa pastri Djonga. Pasti lah akan ada hasilnya kelak dikemudian hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi