UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Imam Tuduh Pengadilan Langgar Perjanjian Timor-Leste dan Vatikan

Pebruari 16, 2018

Imam Tuduh Pengadilan Langgar Perjanjian Timor-Leste dan Vatikan

Pastor Martinho Gusmao mengatakan tuduhan korupsi terhadap dirinya bernuansa politik. (Foto: Michael Coyne)

Seorang imam dan akademisi yang tengah menjalani proses persidangan karena dugaan kasus korupsi menuduh pengadilan di Timor-Leste melanggar perjanjian bilateral antara negara itu dan Vatikan.

Dalam perjanjian yang ditandatangani tahun 2015 itu, kedua belah pihak mengakui bahwa agama Katolik telah membantu membentuk identitas Timor-Leste.

Beberapa ketentuan dari perjanjian tersebut menuntut jaksa penuntut umum dan pengadilan untuk menginformasikan dalam bentuk surat kepada uskup dari keuskupan setempat tentang sebuah kasus yang melibatkan seorang imam.

Pastor Martinho Gusmao mengatakan ketentuan dalam perjanjian itu diabaikan. Ia membantah jika ia melakukan tindak pidana korupsi.

“Mereka tidak pernah menyurati uskup tentang niat mereka untuk menuntut saya, maka mereka telah melanggar perjanjian antara Tahta Suci dan Timor-Leste. Mereka tidak melakukan itu … mereka hanya berusaha melepas jubah saya di pengadilan. Saya katakan kepada hakim bahwa dia tidak punya hak untuk melakukan itu,” katanya.

Pastor Gusmao hadir pada sidang pertama yang digelar di Pengadilan Negeri Dili pada Jumat (2/2). Ia mengenakan jubah dalam persidangan itu, namun hakim meminta agar ia melepas jubahnya. Ia menolak.

“Ini menarik … bahwa hakim meminta saya untuk melepas jubah saya. Ia berusaha untuk mengatakan kepada saya bahwa hal ini tidak diperbolehkan oleh undang-undang. Saya katakan ‘tidak, tidak ada undang-undang yang melarangnya.’”

Setiap Juni, Distrik Manatuto mengadakan perayaan untuk menghormati santo pelindungnya, St. Antonius dari Padua. Perayaan berlangsung selama beberapa hari dan suasananya sangat khidmat.

Tahun 1930-an, seorang misionaris bernama Padre Enes Ezequiel Pascoal menemukan sebuah patung St. Antonius dari Padua di sebuah tempat doa di Manatuto. Patung itu sebelumnya dibawa ke Flores tahun 1815 sebagai sebuah hadiah dari uskup Malaka.

Pastor Gusmao mendapat tugas untuk mengadakan perayaan dua abad patung itu tahun 2015. Ia ditawari bantuan oleh presiden saat itu – Taur Matan Ruak – dan beberapa pejabat pemerintah.

Pemerintah melaui menteri pekerjaan umum, transportasi dan komunikasi saat itu – Gastao de Sousa – mengijinkan Pastor Gusmao untuk menggunakan sebuah mobil untuk mengadakan perayaan tersebut.

Penggunaan mobil itu konsisten dengan peran pemerintah dalam mendukung perayaan agama dan budaya bagi masyarakat Timor-Leste, kata Pastor Gusmao. Tidak ada tuduhan bahwa ia menggunakan mobil itu untuk tujuan lain.

“Saya kembalikan mobil itu setelah saya menerimanya sebagai bantuan dari pemerintah untuk mengadakan perayaan itu … bodoh jika menuduh saya melakukan tindak kriminal. Ini konyol, sungguh saya tidak paham mengapa hal ini terjadi,” lanjutnya.

Tapi Pastor Gusmao percaya bahwa ada agenda politik dari penuntutan terhadap dirinya itu.

“Setelah ada tuduhan terhadap saya, seorang mantan menteri dari Fretilin (Ana Pessoa) menyurati jaksa penuntut umum dan mengatakan bahwa warga negara ini (Pastor Gusmao) bersimpati dengan partai politik (menteri pekerjaan umum Gastao) de Souza … maka mereka menuntut saya,” katanya.

“Berdasarkan simpati itu, mereka mengatakan bahwa saya terlibat dalam beberapa tindak korupsi … saya katakan Pessoa bertindak demikian demi kepentingan politik,” lanjutnya.

Gastao de Souza mewakili Partai Demokrasi di sebuah koalisi pemerintah.

Dalam wawancara dengan ucanews.com, Pastor Gusmao mengatakan ia telah disingkirkan.

“Jika Anda lihat di sekeliling Anda, ada banyak klerus, imam dan biarawati senior yang menggunakan mobil pemerintah – dan mereka tidak mengembalikannya seperti apa yang telah saya lakukan,” klaimnya.

Pastor Gusmao belajar ilmu politik di Universitas Kepausan Gregoriana di Roma, Italia. Ia adalah mantan komisioner di Komisi Pemilihan Umum di Timor-Leste.

Saat ini ia mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi di Dili.

Ia merupakan komentator vokal tentang bagaimana pemerintahan Fretilin menangani situasi konstitusional di Timor-Leste. Ia juga pernah menulis opini di surat kabar nasional dan muncul di televisi.

Persidangan ditunda sampai 26 Februari.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi