UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Mgr Agus: Makan Babi, Tapi Bertobat 

Pebruari 16, 2018

Mgr Agus: Makan Babi, Tapi Bertobat 

Dalam foto ini, umat paroki mengenakan pakaian berwarna merah dalam sebuah Misa yang diadakan untuk merayakan Tahun Baru Imlek pada 8 Februari 2016 di gereja Paroki St. Yoseph di Matraman, Jakarta Timur. (Foto: Katharina R. Lestari/ucanews.com)

Berpuasa atau berpantang? Inilah dilema yang dialami oleh banyak umat Katolik etnis Cina yang merayakan Tahun Baru Imlek di seluruh Asia. Sudah menjadi tradisi bagi mereka untuk merayakannya dengan begitu banyak makanan.

Namun Tahun Baru Imlek tahun ini jatuh pada tanggal 16 Februari atau hari Jumat pertama dalam masa Prapaskah. Dan beberapa keuskupan di Indonesia memperlihatkan pemahaman yang besar akan budaya tersebut.

Sementara Rabu Abu – yang jatuh pada tanggal 14 Februari – merupakan hari wajib berpuasa dan berpantang bagi umat Katolik berusia 18 tahun sampai awal tahun ke-60, peraturan pantang makan daging setiap hari Jumat selama masa Prapaskah hanya mengikat mereka yang telah genap berusia 14 tahun ke atas.

Oleh karena itu, beberapa keuskupan di Indonesia mengeluarkan kebijakan pastoral yang mengijinkan umat Katolik keturunan Cina untuk merayakan Tahun Baru Imlek sebelum, setelah atau pada tanggal 16 Februari.

Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus memberi dispensasi dari pantang makan daging kepada umat Katolik keturunan Cina. Pantang makan daging dapat dipindahkan ke hari lain.

“Kalau orang suka makan babi, kalau mau makan, tidak masalah. Dia bisa pilih dari berbagai jenis makanan, misalnya hanya pilih satu,” katanya kepada ucanews.com.

“Yang penting bagi saya hati yang bertobat. Pertobatan bukan hanya saat masa puasa,” lanjutnya.

Menurut prelatus itu, Keuskupan Agung Pontianak sudah lama merayakan Misa inkulturasi Imlek.

“Umat Allah dapat merayakan Misa Syukur Tahun Baru Imlek pada hari Jumat tanggal 16 Februari 2018 dengan penuh sukacita dan berbela rasa serta berbagi rejeki dengan orang miskin, menderita dan tersisih serta berkebutuhan khusus. Ibadat Jalan Salib baik secara pribadi maupun kelompok atau paroki pada tanggal 16 Februari 2018 dapat dipindahkan ke hari lain,” katanya.

Tahun Baru Imlek hendaknya dirayakan sebagai kesempatan untuk menghormati orang lain dan membina persaudaraan dengan sesama, lanjutnya.

“Imlek itu sesuatu yang gembira. Unsur sosial dari pesta itu juga harus diperhatikan,” katanya.

Namun keuskupan lain mengatakan umat Katolik keturunan Cina hendaknya tidak melupakan makna masa Prapaskah.

“Kami memberi kesempatan kepada mereka yang ingin merayakan Misa Tahun Baru Imlek pada hari Jumat, 16 Februari 2018, dengan catatan diingatkan bahwa hari itu pantang dan ada ibadah Jalan Salib,” kata sekretaris Keuskupan Agung Jakarta Pastor Vincentius Adi Prasodjo Pr.

Perayaan Imlek biasanya berlangsung selama 15 hari, lanjutnya. Maka perayaan Imlek bisa dilaksanakan pada hari-hari biasa sesudah Tahun Baru Imlek namun tidak menggantikan Misa Minggu Prapaskah I.

Di Keuskupan Bogor, Jawa Barat, Uskup Paskalis Bruno Syukur OFM mengatakan umat Katolik hendaknya mengutamakan masa Prapaskah.

“Hari Jumat, 16 Februari 2018, tetap berlaku sebagai hari wajib masa pantang dan puasa sesuai aturan masa Prapaskah,” katanya.

“Perayaan Misa Imlek dapat dirayakan pada hari Kamis malam – 15 Februari 2018 – atau pada hari Sabtu – 17 Februari 2018 – sebelum pukul 12.00 WIB,” lanjutnya.

Ia mengatakan kebijakan pastoral tersebut dikeluarkan karena ada umat yang menanyakan hal tersebut terutama mereka yang merayakan Tahun Baru Imlek.

“Mereka mengerti yang utama itu masa Prapaskah,” katanya.

Valeri Akiang, umat Katolik keturunan Cina dari Paroki Stella Maris di Siantan, Pontianak, Kalimantan Barat, sepakat jika Rabu Abu dan hari Jumat pertama dalam masa Prapaskah hendaknya dihormati.

“Saya tetap merayakan Imlek karena ini merupakan acara turun temurun dari leluhur. Saya di rumah merayakannya bersama anak-anak dan keluarga besar. Kalau saya sempat, malam jelang Imlek saya masak,” kata wanita berusia 53 tahun yang orangtuanya beragama Konghucu itu.

“Bagi saya pribadi yang namanya hari pantang, walaupun jatuh pada hari raya, patuh pada ajaran Tuhan. Saya sendiri tetap menjalankan (puasa dan pantang),” katanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi