UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat  Katolik Hong Kong Menyuarakan Keprihatinan atas Kesepakatan Vatikan-Cina

Pebruari 16, 2018

Umat  Katolik Hong Kong Menyuarakan Keprihatinan atas Kesepakatan Vatikan-Cina

Umat Katolik Hong Kong menghadiri tuguran 12 jam pada 13 Februari di Gereja St. Bonaventur di Kowloon. (Foti: ucanews.com)

Umat yang  ikut tuguran  sepanjang  malam  yang diadakan oleh Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Hong Kong menyatakan harapan bahwa Takhta Suci akan membuat keputusan yang lebih berhati-hati mengenai usulan kesepakatan Tiongkok -Vatikan tentang penunjukkan para uskup.

Tuguran  sepanjang  12 jam dengan tema “Persembahan  kepada Tuhan untuk Gereja Cina” dimulai pada pukul 8 malam pada 13 Februari di Gereja St. Bonaventura  di Kowloon.

Lebih dari 200 orang hadir pada puncak acara, termasuk Kardinal Emeritus Joseph Zen Ze-kiun dan Pastor Stephen Chan Moon-hung OFM

Or Yan Yan, seorang staf Komisi Keadilan dan Perdamaian, mengatakan kepada ucanews.com bahwa banyak umat Katolik Hong Kong mengkuatirkan Gereja Cina pada saat penting ini dan ingin mendoakannya, jadi mereka terus penuh waspada saat  mengungkapkan keprihatinan mereka.

Disamping itu Juga, mereka yang menaati pemerintah  Cina selama bertahun-tahun, tidak optimis dengan situasi Gereja Cina saat ini dan mengatakan bahwa di bawah cengkeraman Presiden Xi Jinping yang ketat dengan peraturan  keagamaan yang baru direvisi, kontrol terhadap agama akan menjadi jauh lebih buruk lagi.

Dia berharap kesepakatan Tiongkok -Vatikan bisa sejalan dengan praktik masyarakat beradab dan bebas, dan bukan cara yang menyimpang untuk memudahkan kontrol pemerintah Cina.

Juga dikatakan penunjukkan uskup harus diputuskan oleh Paus. “Gereja Katolik memiliki kriteria terbaik untuk memilih seorang uskup, yang membutuhkan penyelidikan dan konsultasi yang ketat, jadi cara Gereja universal menunjuk seorang uskup paling tepat,” katanya.

Patut dicatat bahwa Gereja Katolik tidak perlu berurusan dengan Cina dengan cara yang sama seperti negara-negara yang peduli dengan kepentingan sekuler, sehingga masih bisa menegakkan moralitas dan kebenaran.

“Jika Gereja, yang tidak memiliki beban kepentingan sekuler, juga harus memahami apa yang dipikirkan pemerintah Cina, ini sangat menyedihkan,” tambahnya.

Kewaspadaan itu  mencakup  Ekaristi,  doa rosario, malam dan pagi dan merayakan Misa Kudus.

Wong, seorang umat Katolik Hong Kong, mengatakan kepada ucanews.com bahwa dia kembali dari Inggris untuk merayakan Tahun Baru Imlek dan bergabung dalam acara tersebut bersama istrinya karena dia sangat prihatin atas kesepakatan Tiongkok-Vatikan yang melukai hati  saudara dan saudarinya di Cina. Dia berharap doa mereka akan membuat  Takhta Suci dengan hati-hati mempertimbangkan kembali kesepakatan tersebut.

Umat lain, Miss Lam, mengaku tidak memiliki pilihan dalam kesepakatan tersebut namun percaya bahwa orang-orang Barat mungkin tidak sepenuhnya memahami Cina, jadi sebaiknya Vatikan berkonsultasi dengan uskup dan imam di Asia untuk meminta pendapat sebelum mengambil keputusan lebih jauh.

Wu, umat Katolik Hong Kong lainnya, mengatakan kepada ucanews.com bahwa komunitas bawah tanah di Cina dikorbankan – seperti yang dikatakan oleh penentang kesepakatan – yang tidak sesuai dengan semangat Gereja.

“Dari sudut pandang kodrat manusia, sangat tidak dapat diterima bahwa mereka menderita selama bertahun-tahun dan akhirnya ditinggalkan. Dan sekarang  hal ini justru dilakukan oleh Gereja sendiri. Bagaimana orang-orang  yang bukan
Kristiani  melihat kita?” tanyanya.

Pejabat Vatikan mengatakan bahwa Gereja Cina tidak ditinggalkan dan mereka hanya berusaha membawa dua kekuatan  Gereja Cina bersama di bawah uskup yang disetujui oleh Roma, sebuah sistem yang secara de facto ada di bawah paus sebelumnya, seperti yang juga diakui sendiri oleh Kardinal Zen.

Wu mengutip kesepakatan yang melihat peran  Inggris mengembalikan Hong Kong ke Cina tahun 1997 sebagai contoh bagaimana segala sesuatunya menjadi salah.

“Deklarasi Bersama Tiongkok-Inggris menyatakan bahwa Hong Kong tetap tidak berubah selama 50 tahun, namun sebenarnya dia  mengalami perubahan yang tidak terkendali hanya dalam waktu kurang dari 20 tahun. Kepentingan yang dangkal  hanya menipu dan lebih banyak kerugian.”

Pastor Chan mengatakan kepada ucanews.com bahwa menandatangani sebuah kesepakatan atau menjalin hubungan diplomatik antara Vatikan dan Cina tidak melibatkan pengesahan doktrinal namun merupakan tindakan diplomatik Takhta Suci.

Dia mengatakan bahwa apa yang disebut kebijaksanaan atau tindakan diplomatik yang tidak bermoral sudah  digambarkan dalam sejarah Vatikan. “Tapi tidak peduli keputusan apa yang akan dibuat, kami, sebagai Gereja universal, harus menghormati keputusan akhir Takhta Suci,” tambahnya.

Pastor Chan menekankan bahwa meskipun keputusan Takhta Suci merujuk pada kebutuhan pastoral, fakta bahwa uskup bawah tanah menghilang tidak berarti Gereja Cina akan bersatu, atau persatuan yang tidak dangkal menunjukkan lebih banyak berkat.

“Gereja Protestan masih tumbuh subur di bawah tekanan pemerintah Cina, jadi adegan saat ini seharusnya tidak dikaitkan dengan alasan evangelisasi yang macet,” kata pastor tersebut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi