UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Rudy Soik: Berantas Perdagangan Manusia atau Berjuang Sampai Mati

Pebruari 21, 2018

Rudy Soik: Berantas Perdagangan Manusia atau Berjuang Sampai Mati

Brigadir Rudy Soik ditangkap Oktober 2014 dan dijebloskan ke penjara selama empat bulan. Ia mengatakan para penyelundup melakukan konspirasi dengan atasannya untuk menjatuhkan vonis kepada dirinya sebagai balasan atas upayanya dalam memberantas perdagangan orang.

Ancaman pembunuhan dan hukuman penjara adalah resiko pekerjaan sekaligus kenyataan hidup yang dialami oleh Brigadir Rudy Soik, seorang anggota satuan tugas anti-perdagangan orang Polda Nusa Tenggara Timur (NTT).

Meski harus menghadapi semua tantangan itu, ia berjanji untuk terus bekerja membantu para korban sindikat perdagangan orang yang selama bertahun-tahun menargetkan orang miskin dan marginal di Propinsi NTT.

Propinsi NTT memiliki 5,2 juta penduduk. Sekitar 88 persen penduduk beragama Kristen, setengahnya Katolik.

Dalam beberapa tahun terakhir, Propinsi NTT menjadi propinsi yang memiliki kasus perdagangan orang paling banyak.

Tahun 2014, International Organization for Migration (IOM) mencatat sekitar 7.193 orang menjadi korban perdagangan orang di wilayah itu.

Banyak korban telah diselamatkan dan kembali ke desa mereka. Tapi ribuan lainnya masih terjebak dalam kondisi yang tidak manusiawi dan sering menjadi korban penganiayaan dan terus mengalami ancaman pembunuhan.

Sebagian besar korban adalah perempuan dan remaja putri yang berasal dari desa-desa terpencil.

“Saya datang dari sebuah desa kecil, maka saya tahu betul bagaimana kehidupan warga di sana dan semua kondisi sulit yang mereka hadapi,” kata Soik kepada ucanews.com.

“Saya merasakan penderitaan mereka ketika saya mendengar tentang Saudara-Saudari kita diperlakukan dengan buruk,” lanjutnya.

“Saya tidak sanggup melihat mereka terlepas dari hak mendasar mereka sebagai manusia,” kata polisi yang tinggal di Kefamenanu, ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) itu.

“Maka saya berjanji melakukan apa saja yang bisa saya lakukan untuk membantu warga saya,” imbuhnya.

Menurut Soik, banyak warga desa di Kabupaten TTU dan kabupaten miskin lainnya diperdagangkan secara paksa – suatu praktek yang ingin dihentikannya.

Ia berjanji untuk terus berjuang meski harus berjuang selama berpuluh-puluh tahun atau mempertaruhkan nyawanya.

Soik telah membangun reputasi yang baik di kalangan para polisi, yakni menjadi seorang penyelidik yang tiada henti membekuk komplotan penjahat.

Namun harapan untuk meningkatkan karirnya hancur oleh seorang atasan yang terlibat korupsi dan tidak bisa diungkap olehnya.

“Saya dipenjara selama empat bulan pada tahun 2014 ketika beberapa orang yang saya tangkap melawan, menuduh saya melakukan kekerasan,” katanya.

Seorang hakim kemudian menolak kasus itu karena kurangnya bukti.

Kisahnya dibuat-buat, suatu konspirasi antara pedagang orang dan atasan polisi saat itu.

Sebelum ditangkap Oktober tahun itu, Soik menanyakan kepada atasannya tentang alasan mengapa para pelaku yang ia tangkap tidak diadili.

“Tidak ada apa-apa,” katanya. “Sebaliknya, saya dituduh terlibat dengan sebuah jaringan perdagangan orang. Saya dituduh menerima uang dari pedagang orang, hal yang tidak pernah saya lakukan.”

Mungkin sebagian orang putus asa dalam berjuang melawan kejahatan dan cuci tangan setelah keluar dari penjara atas tuduhan yang tidak mereka lakukan. Namun bagi Soik, pengalaman itu memperteguh niatnya.

“Saya akan terus berjuang demi orang-orang yang tidak mampu dan para korban perdagangan orang sebisa mungkin,” katanya. “Kita harus membebaskan propinsi ini dari momok ini dengan menghancurkan sindikat perdagangan orang.”

Data pemerintah menunjukkan bahwa 1,7 dari sekitar 6 juta penduduk Indonesia yang bekerja di luar negeri direkrut secara ilegal. Hal ini membuka lebar ruang bagi para perekrut untuk melakukan eksploitasi.

Banyak orang yang bekerja di luar negri tanpa ijin dan dokumen yang sah berasal dari Propinsi NTT di mana angka pengangguran tinggi dan kemiskinan begitu marak.

Menurut Soik, 61 dari 62 warga negara Indonesia yang meninggal di Malaysia tahun lalu adalah korban perdagangan orang.

Tahun ini, semakin banyak kasus muncul termasuk Adelina Jemira Sau yang meninggal dunia setelah disiksa oleh majikannya di Penang, Malaysia.

“Ini hanya kasus yang terdata,” kata Soik. “Saya yakin masih ada banyak kasus, hanya kita tidak tahu.”

Hal yang mengganggunya adalah ia memiliki alasan kuat untuk mengatakan bahwa banyak dari korban yang meninggal adalah korban perdagangan organ.

Setelah menemukan pola jahitan yang mencurigakan di sejumlah jenazah, Soik minta agar dilakukan otopsi secara resmi, tetapi karena alasan yang menurutnya tidak jelas, permintaannya ditolak dan dugaannya masih belum terbukti.

Membela Orang Miskin

Mereka yang terlibat dalam perdagangan orang menggunakan taktik intimidasi untuk merekrut korban, sebagain besar bertahan di luar negeri dengan menggunakan dokumen imigrasi palsu.

Di Timor Barat, para perekrut mulai dengan mendekati keluarga miskin dan menawarkan 2-3 juta rupiah untuk menikahi anak mereka.

Banyak keluarga di wilayah itu begitu miskin sehingga mereka tidak bisa menolak sejumlah uang karena ini berarti mereka tidak sanggup memberi makan seluruh anggota keluarga.

“Orangtua yang menerima uang merasa tertekan,” kata Soik. “Maka mereka merelakan anak mereka untuk pergi dengan menyadari bahwa ini mungkin terakhir kalinya mereka bertemu anak mereka.”

Sebagian besar korban adalah remaja putri yang tidak berpendidikan dan perempuan yang ditinggalkan suami mereka. Mereka terjebak dalam kemiskinan dan tidak mampu mencari pekerjaan namun harus tetap menopang keluarga mereka.

Tahun lalu, Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa Propinsi NTT menduduki urutan ketiga setelah Propinsi Papua dan Propinsi Papua Barat dalam hal kemiskinan. Sekitar 22 persen dari jumlah penduduk di Propinsi NTT hidup miskin.

Dalam upaya mereka untuk keluar dari kemiskinan, banyak orang terpaksa melakukan kesalahan yang akan menghantui mereka.

“Tapi kita tidak bisa menyalahkan mereka,” kata Soik. “Perekrut mengekslpoitasi kondisi ekonomi dan rendahnya pendidikan.”

Saat melakukan penyelidikan terhadap beberapa kasus di Kabupaten TTU, Soik menemukan bahwa hampir semua keluarga di 276 desa memiliki kerabat yang bekerja di luar propinsi itu.

Di banyak kasus, keberadaan mereka tidak diketahui bahkan oleh kerabat dekat sekalipun.

“Saat mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka tidak lagi berkomunikasi dengan mereka yang pergi, saya langsung tahu bahwa mereka diperdagangkan,” katanya.

Penerapan Hukum Lemah

Soik mengatakan tren ini berlanjut sebagai akibat dari lemahnya penegakan hukum.

Ada beberapa keberhasilan, katanya. Misalnya sebuah kasus yang muncul pada Mei 2017 di mana tujuh orang divonis oleh sebuah pengadilan.

Mereka yang divonis adalah seorang petugas imigrasi, pemimpin sebuah jaringan perdagangan orang, seorang calo di Pekanbaru, seorang perekrut di Kupang, seorang sopir, dan seorang agen yang menyediakan dokumen palsu.

Namun Soik ragu apakah perdagangan orang bisa berhenti jika korupsi tidak diberantas dan hukuman berat tidak dijatuhkan.

Banyak kasus berakhir seperti tamparan karena pengadilan mengklasifikasinya sebagai pelanggaran administratif yang mengijinkan pedagang orang kembali ke bisnis segera setelah masa tahanan mereka berakhir.

“Mereka hendaknya menggunakan UU Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (2017) yang memungkinan mereka untuk dipenjara hingga 15 tahun,” kata Soik.

“Jika kita serius memberantas sindikat perdagangan orang, mereka harus menerima hukuman terberat,” lanjutnya.

 

2 responses to “Rudy Soik: Berantas Perdagangan Manusia atau Berjuang Sampai Mati”

  1. Alfonsus ariyanto says:

    Data dari mana 88% beragama kristen
    Sisanya katolik

  2. editor says:

    Sekitar 88 persen adalah Kristen, dan lebih dari setengahnya katolik. Kristen tidak sama dengan Protestan. Kristen terdiri dari Katolik dan Protestan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi