UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kegagalan Pemerintah Melindungi HAM di Asia

Pebruari 26, 2018

Kegagalan Pemerintah Melindungi HAM di Asia

Komunitas miskin urban di Manila bergabung dalam sebuah protes menuntut penghormatan terhadap HAM pada peringatan Hari HAM Internasional pada Desember. (Foto: Angie de Silva)

Situasi hak asasi manusia (HAM) di kawasan Asia Pasifik  tahun lalu sebagian besar ditandai oleh kegagalan pemerintah, menurut laporan Amnesty International yang dirilis pekan lalu.

Di tengah “menyusutnya ruang untuk masyarakat sipil namun  tetap ada gerakan pejuang dan aktivis HAM  yang menginspirasi dan berkembang,” kata laporan tersebut.

Sejumlah  negara di mana pembela HAM, pengacara, dan jurnalis menjadi sasaran represi negara adalah Cina, Kamboja, Thailand, Banglades, dan Pakistan.

Laporan tersebut juga mencatat impunitas luas di Myanmar dan Afghanistan dimana krisis pengungsi global terus memburuk.

Kelompok HAM  yang berbasis di London itu mencatat “pelanggaran besar-besaran” hak asasi manusia terjadi di Filipina, di mana ribuan orang dilaporkan terbunuh dalam perang melawan narkoba.

Di bagian lain kawasan ini, meningkatnya kesadaran akan rasa hormat dan perlindungan HAM, terutama di kalangan kaum muda, “memberikan beberapa kemajuan dan harapan.”

Kemajuan dalam perpolisian dan putusan pengadilan atas pertanggungjawaban perusahaan dipandang sebagai langkah positif di Korea Selatan.

Perundang-undangan tentang kesetaraan dalam perkawinan di Australia dan Taiwan dan penghormatan terhadap hak privasi di India juga dicatat.

Memburuknya situasi di Cina

Laporan tersebut mengatakan bahwa pembela HAM  secara khusus menjadi target dan dianiaya di Cina di mana “terjadi pembatasan ruang bagi masyarakat sipil”.

Laporan tersebut mencatat bagaimana kebebasan berekspresi di Hong Kong diberangus, dengan mengutip pengajuan tuntutan terhadap aktivis pro-demokrasi di wilayah otonom tersebut.

“Mengulang-ulang tuduhan samar-samar terhadap tokoh pemimpin gerakan pro-demokrasi tampaknya merupakan sebuah drama dan pembalasan oleh pihak berwenang,” tulis laporan tersebut.

Laporan tersebut juga mengamati tindakan keras yang telah dilakukan sebelumnya terhadap perbedaan pendapat di Cina, dengan menyebutkan apa yang disebutnya sebagai “kampanye penangkapan yang sewenang-wenang, penahanan, pemenjaraan, dan penyiksaan yang kejam” kepada para aktivis.

Situasi di daratan juga terus memburuk, menurut peneliti Cina Patrick Poon. “Kami tidak melihat adanya perbaikan dalam situasi hak asasi manusia dalam jangka pendek,” katanya.

Dia mengatakan kecuali pemerintah Cina “mengerti dengan jelas bahwa mereka … memiliki kewajiban untuk mematuhi hak asasi manusia” tidak akan ada perbaikan dalam situasi di Cina.

Di Jepang, laporan tersebut mengatakan bahwa perlindungan HAM  diencerkan setelah sebuah “undang-undang yang terlalu luas yang menargetkan terorisme dan kejahatan berat lainnya” telah disahkan.

Intoleransi agama di Asia Selatan

Di seluruh Asia Selatan, hukum dan ketertiban, keamanan nasional, dan agama telah dijadikan alasan untuk serangan terhadap kelompok minoritas agama.

Impunitas tersebar luas di tahun lalu dan kebebasan berekspresi diserang di seluruh wilayah, menurut laporan tersebut.

“Kepentingan nasional” telah digunakan sebagai alasan untuk membungkam masyarakat, wartawan, dan pembela HAM  yang mengungkapkan keyakinan mereka.

Laporan tersebut mencatat bahwa pembunuhan, penculikan, dan pelanggaran lainnya dilakukan oleh kelompok bersenjata di Afghanistan, Banglades, India, dan Pakistan, mengakibatkan korban sipil, terutama di kalangan minoritas agama.

Suara yang tidak sesuai dan anggota kelompok minoritas agama di wilayah tersebut semakin rentan terhadap serangan massa, kata laporan tersebut.

Di India, sejumlah  kasus persekusi orang-orang Muslim dilaporkan telah terjadi, yang memicu kemarahan terhadap gelombang Islamofobia yang meningkat di bawah pemerintahan nasionalis Hindu.

Di Banglades, serangan terhadap kelompok minoritas agama disambut dengan ketidakpedulian oleh pemerintah.

Di Sri Lanka, meningkatnya sentimen nasionalisme Buddhis mengakibatkan serangan terhadap orang Kristen dan Muslim.

Salah satu isu yang paling banyak dibahas di kawasan ini dalam setahun terakhir adalah penolakan hak terhadap pengungsi dan migran.

Jumlah pengungsi tinggal  di Afghanistan meningkat menjadi lebih dari dua juta orang, dengan sekitar 2,6 juta pengungsi Afghanistan tinggal di luar negeri.

Pembunuhan dan penganiayaan di Asia Tenggara

Di Asia Tenggara, pembunuhan, penyiksaan, dan penghilangan paksa terus berlanjut dijelaskan oleh laporan tersebut sebagai “menyusutnya ruang kewarganegaraan.”

Polisi dan pasukan keamanan menganiaya pembela HAM  sementara pembunuhan di luar hukum, penyiksaan dan penganiayaan lainnya, dan penghilangan paksa terus berlanjut tanpa hukuman.

Salah satu isu HAM  yang paling mencolok  tahun lalu adalah tindakan kekerasan oleh pasukan keamanan Myanmar terhadap orang-orang Rohingya di Negara Bagian Rakhine.

Laporan Amnesty International mengatakan bahwa “kejahatan terhadap kemanusiaan” yang menciptakan krisis HAM  dan kemanusiaan di negara ini dan di negara tetangganya Banglades.

Ketiadaan hukum dan kekerasan juga meningkat di Filipina.

Laporan tersebut mengatakan bahwa Presiden Rodrigo Duterte telah melakukan pelanggaran HAM dalam “perang melawan narkoba” dicirikan oleh pembunuhan massal, kebanyakan orang miskin, termasuk anak-anak.

Perpanjangan deklarasi darurat militer di wilayah selatan Mindanao menyebabkan kekhawatiran bahwa peraturan militer dapat digunakan untuk membenarkan pelanggaran HAM  lebih lanjut.

Di Indonesia, pembunuhan polisi terhadap para pengedar narkoba juga meningkat tajam dalam satu tahun terakhir.

Laporan tersebut mengamati apa yang digambarkannya sebagai “lip service” Australia terhadap HAM, di mana pencari suaka dan pengungsi mendapat perlakuan kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat manusia.

Secara umum, laporan tersebut mencatat bahwa pemerintah di Asia Tenggara dan Pasifik gagal untuk menegakkan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya masyarakatnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi