UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kardinal Tagle Pimpin Umat Katolik dalam  Reli Doa

Pebruari 27, 2018

Kardinal Tagle Pimpin Umat Katolik dalam  Reli Doa

Umat Katolik Filipina menyerukan untuk menghentikan pembunuhan terkait narkoba di negara itu selama reli bertajuk 'March for Life' di Manila pada 24 Februari. (Foto: Angie de Silva)

Umat ​​Katolik turun ke jalan-jalan  memprotes  apa yang mereka sebut  sebagai “ancaman terhadap kehidupan” dalam demonstrasi yang diadakan di kota-kota besar di Filipina pada 24 Februari.

Uskup Agung Manila Kardinal Luis Antonio Tagle  memimpin para imam, biarawati, dan  awam di pagi hari  dalam acara “Walk for Life” di sekitar taman utama ibukota negara itu.

Dalam homilinya, prelatus itu  meminta umat Katolik  menghargai kehidupan, bahkan musuh mereka sekalipun, dan orang – orang tersingkir.

Di antara isu-isu yang diangkat dalam demonstrasi tersebut adalah pembunuhan terkait narkoba, proposal melegalkan perceraian di konggres, dan perubahan  konstitusi.

“Mari kita kembalikan keyakinan bahwa kehidupan orang lain, bahkan musuh kita sekalipun, adalah anugerah dari Tuhan,” kata Kardinal Tagle.

Keluarga orang-orang yang meninggal dalam “perang melawan narkoba” pemerintah bergabung dengan prosesi lilin di mana diperkirakan 2.000 orang berpartisipasi.

“Hidup adalah anugerah  Tuhan, tetapi ketika kita mulai memikirkan kehidupan orang lain dipandang dari segi  kegunaannya bagi kita, menjadi sangat mudah bagi kita menyingkirkan dan mencampakkan kehidupan itu sendiri,” kata Kardinal Tagle.

Prelatus  itu mencatat bahwa “begitu mudah berjalan bersama orang yang dicintai, tapi cukup sulit untuk melakukan hal yang sama dengan  seseorang yang menjadi musuh kita.”

Di Filipina Tengah, sekitar 5.000 umat Katolik bergabung dalam acara  “Walk for Life with Mary” yang dipimpin oleh Uskup Agung Cebu Mgr Jose Palma.

Uskup agung itu  mengatakan  umat Katolik mendukung perang pemerintah melawan narkoba, namun “mempertanyakan cara itu dilakukan karena motif dan keadaan yang masih dipertanyakan.”

“Tidak ada manusia yang memiliki hak untuk (mengakhiri) kehidupan orang lain. Tuhan adalah awal dan akhir kehidupan. Marilah kita melindungi kehidupan dari rahim hingga  makam,” katanya.

Kelompok HAM h mengatakan  hampir 12.000 pengguna narkoba dan penjahat yang dicurigai tewas dalam kampanye pemerintah melawan narkotika.

“Saya berharap semua ancaman terhadap kehidupan dan serangkaian pembunuhan akan berhenti karena kita semua adalah saudara dan saudari di dalam Yesus dan Maria,” kata prelatus  tersebut.

Di Cagayan de Oro City di wilayah Mindanao Filipina selatan, Uskup Agung Antonio Ledesma memperingatkan bahwa pembunuhan terkait narkoba “akan menciptakan permasalahan baru lagi.”

“Sementara kami mencoba memecahkan satu masalah, kami menciptakan lagi masalah  lain,” katanya, seraya menambahkan  ini adalah harapan Gereja “agar pemerintah mempromosikan proses hukum” dalam kampanye melawan narkoba.

Di antara isu yang diangkat selama “Walk for Life” di Manila pada 24 Februari adalah penolakan Gereja Katolik terhadap proposal di Kongres Filipina  mensahkan UU Perceraian.

Pernyataan menentang perceraian

Komisi Keluarga Konferensi Waligereja Filipina mengeluarkan sebuah pernyataan pastoral yang menentang usulan  melegalkan perceraian.

Pernyataan tersebut mengingatkan anggota dewan  negara tersebut  melindungi konstitusi yang mengakui pernikahan “sebagai institusi sosial yang tidak dapat diganggu gugat” yang harus dilindungi oleh negara.

Para Waligereja  mengingatkan bahwa anak-anak Filipina layak mendapatkan sebuah rumah di mana cinta, kesetiaan, dan pengampunan.

“Mereka tidak ingin melihat orangtua mereka berhenti karena ada kesulitan dalam hubungan mereka,” demikian pernyataan tersebut, seraya menambahkan  dalam perkawinan yang sulit, “anak-anak harus mendapatkan  keuntungan secara psikologis, fisik dan spiritual.”

Uskup Arturo Bastes dari keuskupan Sorsogon mengatakan bahwa umat Katolik harus melakukan demonstrasi untuk menunjukkan “dampak buruk” perceraian pada masyarakat.

“Perceraian adalah penghinaan langsung terhadap hukum yang dianugerahkan  oleh Tuhan. Penghancuran keluarga dengan perceraian memang merupakan proyek Setan, musuh Tuhan,” kata prelatus tersebut.

Filipina adalah satu-satunya negara Katolik di dunia, selain Vatikan, di mana perceraian dilarang oleh undang-undang kecuali  umat Islam.

“Gereja memberikan jaminan bagi semua umatnya untuk mendapatkan perlindungan hak terutama pihak yang dirugikan dalam perkawinan,” kata Pastor Jerome Secillano dari Komisi Komsos Konferensi Waligereja Filipina.

Pemerintah mengucapkan terima kasih kepada para pemimpin Gereja berdemonstrasi damai, dengan mengatakan  Presiden Filipina Rodrigo Duterte “terbuka terhadap kritik yang membangun.”

“Dia membolehkan semua warga negara,  termasuk demonstran, untuk benar-benar menggunakan hak mereka  mengungkapkan keluhan mereka di dalam koridor  hukum,” kata juru bicara kepresidenan Harry Roque.

Dia mengatakan “Walk for Life” adalah “bukti bahwa demokrasi dan kebebasan sangat hidup di Filipina.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi