UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Para Imam Yesuit Beri Rekonsiliasi “Wajah Sri Lanka”

Pebruari 27, 2018

Para Imam Yesuit Beri Rekonsiliasi “Wajah Sri Lanka”

Kerabat dari warga Tamil yang hilang pada tahap akhir perang sipil di Sri Lanka menggelar aksi protes di Kolombo untuk menuntut keadilan. (Foto: ucanews.com)

Membantu bangsa yang terpecah dan terpapar perang untuk bersatu kembali melalui rekonsiliasi menjadi prioritas utama bagi para imam dari Serikat Yesus (SJ) atau Yesuit di Sri Lanka.

Sebagai bagian dari upaya itu, memastikan bahwa anak-anak yang tinggal di wilayah yang paling buruk terkena dampak perang untuk menerima pendidikan yang memadai merupakan hal yang krusial guna membangun dan menyatukan kembali negeri itu setelah konflik yang terjadi selama tiga dekade, kata para imam Yesuit.

Perang sipil yang berlangsung selama 30 tahun di Sri Lanka berakhir pada tahun 2009. Namun selama sembilan tahun ini, negara ini masih menghadapi banyak tantangan karena banyak pihak ingin agar keadilan ditegakkan di tengah dugaan bahwa sejumlah pelaku kejahatan perang tidak dihukum.

Untuk itu, tema rekonsiliasi muncul sebagai topik utama pada Konferensi Serikat Yesus Asia Selatan yang berlangsung pada Sabtu-Rabu (17-21/2) lalu.

Peserta yang hadir antara lain Superior Jenderal Serikat Yesus Pastor Arturo Marcelino Sosa Abascal.

Dalam sambutannya di hadapan 100 imam di Rumah Retret Serikat Yesus di Lewella, Kandy, pada Minggu (18/2), Pastor Sosa mengatakan tidak ada laporan resmi yang memastikan jumlah korban jiwa dalam tahap akhir perang sipil. Namun data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan sekitar 40.000 warga sipil tewas di hari-hari terakhir perang tersebut.

“Pembunuhan warga biasa harus dikutuk. Harus ada keadilan,” kata Pastor Sosa.

Ia juga mengingatkan para imam Yesuit di Sri Lanka agar melibatkan diri daripada duduk berdiam diri dalam isu-isu vital.

Pastor Arturo Marcelino Sosa Abascal, Superior Jenderal Serikat Yesus, menghadiri Konferensi Serikat Yesus Asia Selatan pada pertengahan Februari di Rumah Retret Serikat Yesus di Lewelle, Kandy. (Foto: ucanews.com)

 

Menurut PBB, Sri Lanka memiliki jumlah tertinggi kedua terkait orang hilang dari semua negara di dunia. Sekitar 12.000 diketahui hilang setelah mereka ditahan oleh militer.

Pastor Anton Peiris, asisten eksekutif dan admonitor asisten eksekutif pronvinsial Serikat Yesus di Sri Lanka, mengatakan Pastor Sosa berbicara tentang pentingnya pendidikan.

“Pastor Sosa menekankan perlunya bergerak maju dan menggunakan pendidikan untuk membantu anak-anak membangun kembali hidup mereka yang telah dihancurklan oleh perang,” katanya.

“Salah satu misi kami adalah melakukan rekonsiliasi dengan memberi pendidikan yang lebih baik kepada anak-anak marginal yang tinggal di wilayah konflik di negara itu,” lanjutnya.

Seraya menyebut surat Pastor Sosa kepada anggota Serikat Yesus Oktober lalu, Pastor Peiris mengatakan para imam Yesuit di Sri Lanka berusaha menanamkan konsep rekonsiliasi kepada masyarakat adat di negara pulau itu.

“Kami ingin membuat rekonsiliasi lebih bersifat Sri Lanka dan memberi wajah Sri Lanka pada rekonsiliasi,” katanya.

Pastor Hans Zollner SJ, seorang teolog asal Jerman dan psikolog yang berkarya sebagai ketua Pusat Perlindungan Anak, mengatakan kepada ucanews.com bahwa anak-anak sering menjadi orang pertama yang tidak tahu apa yang seharusnya menjadi hak yang tidak dapat diganggu gugat selama perang.

Ia merujuk pada sebuah laporan yang dirilis baru-baru ini oleh Selamatkan Anak-Anak. Menurut laporan ini, lebih dari 357 juta anak kini tinggal di zona konflik, naik 75 persen dari 200 juta anak pada tahun 1995.

“Ini sungguh angka besar yang tidak bisa dibayangkan,” katanya.

“Kita perlu melakukan sesuatu yang kita bisa lakukan. Ini membuat anak-anak trauma dan melukai seluruh psikis mereka,” lanjutnya.

“Kita harus melakukan apa yang bisa kita lakukan untuk membantu menyembuhkan orang-orang yang mengalami trauma semacam itu … dan menciptakan sebuah masyarakat yang lebih stabil sehingga mereka bisa menemukan kesembuhan yang sangat mereka butuhkan,” katanya.

Ia menggambarkan hal ini sebagai bagian vital dari misi untuk melakukan negosiasi damai dengan meminimalkan rasa dendam.

Para imam Yesuit di Sri Lanka juga menderita. Sejumlah anggotanya meninggal atau masuk dalam daftar orang hilang saat berusaha membela hak asasi manusia di utara negeri itu.

Misalnya, Pastor Eugene John Herbert SJ yang hilang pada tahun 1990 dan Pastor Xavier Karunaratnam yang berkarya sebgai ketua Sekretariat Hak Asasi Manusia Utara-Timur (SHAMUT) di Kilinochchi.

Sementara itu, Pastor Sosa menekankan pentingnya menegakkan keadilan bagi mereka yang tewas dan hilang.

Dikenal atas peliputan tentang Macan Tamil dan gerekan mereka, SHAMUT beroperasi di sebuah wilayah yang dikuasai Tamil di utara Sri Lanka dan dipaksa tutup pada tahun 2008. Pada tahun ini Pastor Karunaratnam dibunuh.

“Rekonsiliasi saat ini merupakan tangisan kemanusiaan yang paling menyayat hati,” kata Pastor Sosa dalam sebuah surat yang ditujukan kepada para imam Yesuit pada 3 Oktober 2017.

“Sejak jaman Injil, rekonsiliasi menjadi dimensi pusat dan hakiki dari penegakan keadilan dan dari upaya sejati untuk memulihkan rajutan indah tentang banyak hubungan yang membentuk manusia menurut desain asli dari Sang Pencipta,” katanya dalam surat itu.

“Buah dari rekonsiliasi adalah perdamaian, sebuah situasi yang sangat indah di mana umat manusia tidak sekedar saling mengakui martabat mereka dan berhubungan satu sama lain dalam keharmonisasn serta menjamin hak dasar mereka, tapi juga mengupayakan integritas ciptaan secara menyeluruh,” lanjtnya.

Pastor Sosa mengatakan dalam konferensi itu bahwa ia berencana meengunjungi misi-misi baru di utara dan timur Sri Lanka.

Ia juga berencana mengunjungi Solidaritas Rekonsiliasi Serikat Yesus Sri Lanka, sebuah proyek untuk anak usia bawah lima tahun di Kilinochchi, sebuah kota di utara Sri Lanka di mana tahap terakhir perang sipil terjadi.

Konferensi Serikat Yesus dihadiri oleh 23 superior provinsial dari Banglades, India, Nepal dan Sri Lanka dan diadakan oleh Rumah Retret Serikat Yesus di Lewella, Kandy.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi