UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Jurnalis Asal Vietnam Terancam Dibui karena Terbitkan Buku Terlarang

Pebruari 28, 2018

Jurnalis Asal Vietnam Terancam Dibui karena Terbitkan Buku Terlarang

Pastor Anthony Le Ngoc Thanh (kiri) dan Pastor Nguyen Duy Tan masing-masing membawa satu jilid buku Chinh Tri Binh Dan di kediaman Paroki Tho Hoa pada Minggu (25/2).

Polisi di Vietnam menahan seorang jurnalis ternama guna keperluan penyelidikan terkait buku barunya tentang kebijakan pemerintahan komunis. Buku ini dilarang di negara itu meskipun menarik perhatian banyak pembaca.

Pham Doan Trang, 40, dikawal polisi dari rumahnya di Hanoi pada Sabtu (24/2) dan diinterogasi selama 10 jam tentang bukunya yang berjudul Chinh Tri Binh Dan (Politik untuk Massa). Buku ini diterbitkan di Amerika Serikat (AS) September lalu.

Ia mengklaim polisi tidak memiliki surat penahanan atau dokumen resmi lainnya untuk membenarkan penahanannya.

Seorang temannya yakni aktivis has asasi manusia (HAM) bernama Trinh Kim Tien mengatakan Trang ditanya tentang di mana buku itu dicetak dan bagaimana buku itu diterbitkan.

Tien mengatakan temannya belum dibebaskan hingga tengah malam dan nampaknya ia akan dipanggil kembali dalam waktu dekat untuk penyelidikan tahap berikutnya.

Polisi juga menjaga sekitar rumah Trang dengan mematikan aliran listrik dan koneksi internet.

Tien mengatakan Trang mungkin terancam dibui karena menerbitkan buku terlarang itu.

Meskipun buku setebal 500 halaman itu telah terbit di Amerika, sejumlah besar jilid buku itu dikabarkan dikirim pulang ke Vietnam.

Petugas bea cukai di Pelabuhan Da Nang yang terkenal dengan pantai pasirnya menahan sejumlah besar jild buku itu pada Jumat (9/2).

Para penguasa semakin khawatir karena ada laporan yang mengatakan bahwa versi elektronik dari buku itu bisa diakses dengan mudah di media sosial.

Trang menggambarkan bukunya sebagai pengenalan dasar atas ilmu politik yang didesain untuk membantu masyarakat awam memahami politik internal pemerintahan komunis di Vietnam.

Menurut beberapa pengamat, banyak orang tidak mau bicara soal politik di negara Asia Tenggara itu karena mereka khawatir akan mengalami persekusi dari pemerintah.

Pastor Anthony Le Ngoc Thanh, seorang aktivis HAM, mengatakan penulis buku itu mampu menampilkan isu politik yang rumit dengan cara yang mudah dicerna dan menarik dengan menggambarkan situasi kehidupan nyata di Vietnam.

Pastor Thanh telah membaca buku itu. Ia pun mendorong semakin banyak orang di negara-negara komunis seperti Cina dan Vietnam agar membaca buku itu supaya mendapat pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana mereka bisa terjun ke politik.

Ia mengatakan pemerintahan komunis memonopoli politik dan berusaha mencabut hak dasar rakyat mereka.

Ketika internet, media sosial dan forum lain yang bisa menyebarkan informasi semakin berkembang, rakyat menjadi mudah mendapatkan informasi, katanya.

Baru-baru ini Hanoi harus beradaptasi dengan sejumlah kebijakan untuk mengikuti perkembangan jaman, lanjutnya.

“Para pemimpin pemerintah mulai menjauhkan diri dari opini publik,’ katanya, seraya menambahkan bahwa masyarakat seharusnya khawatir dengan pemerintah dan bukan politik.

Pastor Nguyen Duy Tan dari Paroki Tho Hoa di Propinsi Dong Nai memosting di akun Facebook-nya bahwa buku Trang memberi informasi yang bermanfaat tentang situasi politik di Vietnam dan mengangkat isu-isu penting antara lain kebebasan, demokrasi, HAM dan keseteraan.

“Mereka yang ingin menangkap dan memenjarakan Trang hendaknya dikurung secara terpisah dan disuruh kerja keras,” kata imam yang mengadvokasi isu HAM itu.

“Saya sangat senang banyak orang membaca buku ini, untuk itu saya berterima kasih kepada para pembaca,” tulis Trang di akun Facebook-nya pada Senin (26/2).

Penulis buku kontroversial yang telah menulis 10 buku sejak 2003 itu mengatakan banyak orang “ingin menghancurkan saya dan buku-buku saya.”

“Saya berusaha melawan segala bentuk kediktatoran dan karena negara Vietnam yang komunis merupakan rezim totaliter, saya telah dan akan terus berjuang untuk menghentikannya,” katanya.

Pada Selasa (13/2), Rakyat Miskin, sebuah organisasi HAM internasional yang berbasis di Republik Chechnya, mengumumkan bahwa organisasi ini akan menganugerahi Trang penghargaan Homo Homini Prize atas “keberaniannya dengan tanpa kenal lelah berjuang mengubah negaranya menjadi demokratis meskipun ada tekanan dan persekusi.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi