UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Menjadi Tanda Kehadiran Tuhan Bagi Penyandang Tuna Rungu Katolik

Maret 1, 2018

Menjadi Tanda Kehadiran Tuhan Bagi Penyandang Tuna Rungu Katolik

Fransiskus Xaverius Dwi Susanto berkarya sebagai penerjemah bahasa isyarat bagi sekelompok penyandang tuna rungu Katolik pada Misa Minggu (4/2) di Paroki Katedral St. Maria Diangkat ke Surga di Jakarta Pusat. (Foto: Katharina R. Lestari/ucanews.com)

Fransiskus Xaverius Dwi Susanto, 36, berhasil mengisi kesenjangan dengan mempelajari terlebih dahulu bahasa isyarat dan kemudian menjadi penerjemah bahasa isyarat agar bisa melayani para penyandang tuna rungu Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ).

Selama tiga tahun terakhir, ayah dari seorang anak perempuan berumur 5,5 tahun dan seorang anak laki-laki berumur 1,5 tahun itu berkarya sebagai penerjemah bahasa isyarat agar Misa Minggu menjadi lebih bermakna bagi sekitar 40 penyandang tuna rungu Katolik yang mengikuti perayaan Ekaristi di Paroki Katedral St. Maria Diangkat ke Surga di Jakarta Pusat.

“Bagaimana saya menjadi tanda kehadiran Tuhan bagi orang lain,” katanya kepada ucanews.com.

Menurut Yohana Yuniati Effendi, pelayanan yang diberikan oleh Susanto memberinya sesuatu yang berbeda.

“Dulu saya hanya bisa membaca bibir Romo, tapi capek,” kata wanita berusia 58 tahun dari Paroki Trinitas di Cengkareng, Jakarta Barat, itu.

“Dengan penerjemah bahasa isyarat, saya lebih nyaman mengikuti Misa. Saya bisa ikut bernyanyi juga dengan bahasa isyarat. Kita bisa ikut Misa dengan nyaman,” lanjutnya.

Minat Susanto untuk mendalami bahasa isyarat muncul pada tahun 2001 ketika ia masih mengenyam pendidikan filsafat di Seminari Tinggi Yohanes Paulus II yang dikelola oleh KAJ. Ia mendapat tugas untuk melakukan sebuah aktivitias sosial.

“Saya memilih penyandang disabilitas. Saya lalu ikut kursus bahasa isyarat dan huruf braille. Saya ikut aktivitas teman-teman disabilitas. Hanya memang semakin ke sini saya semakin terspesifikasi untuk teman-teman tuna rungu,” katanya.

“Satu bulan sekali kami kumpul untuk Misa di bawah Lembaga Daya Dharma KAJ,” lanjutnya.

Lembaga Daya Dharma KAJ (LDD-KAJ)  merupakan lembaga pelayanan sosial milik KAJ yang didirikan oleh Uskup Agung Jakarta Mgr A. Djayasepoetra SJ pada tanggal 10 Mei 1962.

Visi LDD-KAJ adalah komunitas yang disemangati oleh cinta kasih berperanserta mewujudkan persaudaraan sejati menuju keutuhan sebagai ciptaan Tuhan dengan memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bersama kaum miskin, tertindas, terlantar dan penyandang cacat di Propinsi DKI Jakarta dan sekitarnya.

Paguyuban Tuna Rungu Katolik (Paturka) yang dibentuk tahun 2001 masuk dalam pelayanan LDD-KAJ.

Yeremia 18:4

Pada tahun 2004, Susanto memutuskan untuk meninggalkan pendidikan di seminari tinggi.

“Saya memutuskan aktivitas apa pun karena saya pikir orang hanya melihat jubah frater saya saja. Setelah saya keluar dari pendidikan calon imam, sepertinya saya sudah tidak ada artinya,” katanya.

Namun tidak demikian dengan penyandang tuna rungu Katolik.

“Ketika mereka melihat saya punya talent, passion di situ, mereka tetap undang saya walaupun saya bukan frater lagi. Bagi saya, itu second chance. Saya menjadi lebih bersemangat lagi,” lanjutnya.

Meskipun demikian, Susanto terus berproses sampai akhirnya ia bertemu Julius Kardinal Darmoatmodjo SJ saat mengikuti retreat pribadi di Rumah Retreat Girisonta. Ia pun terinspirasi oleh pertemuannya dengan kardinal.

Sejak pensiun dari jabatannya sebagai uskup agung Jakarta pada tahun 2010, kardinal tinggal di Wisma Emmaus, tempat tinggal para imam Yesuit purnakarya. Wisma ini terletak satu kompleks dengan rumah retreat tersebut.

“Saya tegaskan kembali kepada beliau: ‘Romo, Tuhan marah tidak ya? Saya tidak akan menjadi pastor,’” kata Susanto.

“Beliau memberi banyak nasihat. Satu hal yang saya konfirmasi kepada beliau adalah tentang pilihan hidup saya. Beliau mengatakan kepada saya: ‘Apabila bejana yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya’ (Yeremia 18:4),” katanya.

Kata-kata kardinal mendorong Susanto untuk terus melangkah maju.

Namun upaya awal yang dilakukannya untuk melayani penyandang tuna rungu Katolik pada Misa Minggu di paroki katedral tidak berjalan dengan baik. Pada tahun 2009, ia diseret keluar oleh petugas tata tertib paroki.

“Dipikir kami mengganggu kekhidmatan umat,” kenangnya.

Susanto tidak patah semangat. Ia terus melobi pastor paroki katedral. Dan pada tahun 2014, Pastor Stephanus Bratakartana SJ menyambut baik niatnya.

Mimpi Kecil

Susanto ingin kelak ia bisa bergerak bersama penyandang tuna rungu Katolik untuk membentuk semacam Paturka di keuskupan-keuskupan lain dan mendorong orang muda Katolik untuk menjadi penerjemah bahasa isyarat.

Satu hal yang pasti, penerjemah bahasa isyarat untuk Misa Minggu sangat jarang.

Menurut Ketua Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (Komlit-KWI) Pastor Yohanes Rusae, hanya KAJ yang saat ini memberikan pelayanan semacam itu kepada penyandang tuna rungu Katolik.

Meskipun jumlah penyandang tuna rungu Katolik tidak banyak di paroki-paroki, katanya, “setiap umat punya hak untuk dilayani.”

Adaptasi dan Solusi

Susanto harus menghadapi banyak tantangan dalam pelayanannya.

“Tidak banyak karya besar, karya fenomenal yang saya berikan kepada mereka. Mungkin kalau Ibu Teresa mengatakan: ‘Tuhan tidak memanggil saya untuk sukses, Ia memanggil saya agar percaya,’” katanya.

Selain melayani sebagai penerjemah bahasa isyarat, Susanto juga seorang konsultan dan public speaker serta umat Paroki St. Leo Agung di Jatibening, Bekasi.

Tahun lalu ia mengikuti pelatihan bagi katekis yang ingin melayani sebagai penerjemah bahasa isyarat pada Misa Minggu. Pelatihan ini diadakan oleh Komisi Liturgi KAJ.

“Masalahnya karena mereka katekis, mereka padat jadwalnya. Mereka punya keterbatasan itu,” katanya.

Bagi Susanto, mencari penerjemah bahasa isyarat baru masih menjadi “tantangan besar.”

“Tidak semua bisa. Ini dalam hal Ekaristi. Meskipun interpreter, tapi mereka belum tentu bisa menjadi interpreter untuk perayaan Ekaristi,” kata Pastor Hieronymus Sridanto Ariwibowo, ketua Komisi Liturgi KAJ.

“Kita perlu membuat semacam pelatihan,” lanjutnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi