UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Hidup dan Mati dalam Bayang-Bayang Pengawasan Malaysia

Maret 7, 2018

Hidup dan Mati dalam Bayang-Bayang Pengawasan Malaysia

TPU di Sabah, Malaysia, dimana Kristina and banyak TKI lain dimakamkan. (Foto: ucanews.com)

Sebulan setelah dia terjatuh, Kristina Petrus meninggal. Dia sangat takut  pergi ke rumah sakit demi mendapatkan perawatan medis karena cederanya terinfeksi dan menyebar. Dia mengalami demam dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

Makamnya, yang ditandai dengan sebuah salib, terletak jauh di lembah yang subur di Crocker Range  sekitar 10 kilometer dari Kota Kinabalu, ibukota negara bagian Sabah, Malaysia. Seluruh bukit di sekitarnya menjadi makam para pekerja dari Indonesia.

Pulau Adonara, NTT, tanah kelahirannya untuk dibawa pulang dan tempat sanak saudaranya berada, terletak lebih dari 1.700 kilometer ke selatan, dengan perjalanan seminggu yang sulit dengan kapal dan jalan darat.

Seorang kerabatnay yang juga TKI ilegal berusia 56 tahun  berbicara tentang kematian Kristina dengan tanpa perasaan haru sedikitpun.

Hanya ini  yang bisa mereka lakukan, kata keponakannya Juniasti Simon saat bertemu di pemakaman Katolik pada suatu hari Minggu pagi. Dia ada di sana untuk menyalakan lilin dan membereskan kuburan untuk memperingati 100 hari sejak bibinya meninggal.

Bantuan medis mungkin akan menyelamatkan hidupnya, tapi membawanya ke rumah sakit pemerintah berisiko mengekspos dirinya dan  mereka sendiri akan  ditangkap. Obat-obatan tradisional adalah satu-satunya jalan keluar.

Majikan Kristina, yang sopirnya diduga memukulnya saat membalikkan kendaraan majikannya, melakukan sedikit hal lain membiarkan rumahnya bersih ia tidak membayar gaji perawatnya sendiri sampai ia kembali sehat.

Hukum ketenagakerjaan Malaysia memberikan  denda paling banyak 50.000 ringgit (US $ 12.800) untuk mempekerjakan pekerja asing yang tidak berdokumen. Pemerintah, menggembar-gemborkan keamanan publik dan keamanan nasional, bahkan berencana menaikkan denda tersebut menjadi 100.000 ringgit.

Ancaman denda dan penjara  dikeluarkan  sedikit untuk membendung gelombang migrasi ilegal ke Malaysia dari Indonesia dan Asia Selatan.

Agen dan majikan tetap tidak terpengaruh. Para pekerja asing ilegal terus berdatangan  dengan mengharapkan bayaran yang pantas. Mereka dibayar setara dengan sekitar US $ 200 per bulan, sekitar sepertiga lebih rendah dari gaji seorang pekerja legal.  Mereka diberi waktu cuti dua hari dalam sebulan. Kesehatan adalah tanggung jawab pekerja itu sendiri.

Departemen Imigrasi baru-baru ini mengumumkan telah memulai operasi yang bertujuan  menangkap migran ilegal di seluruh negeri. Kepala imigrasi nasional Mustafar Ali mengatakan kepada kantor berita nasional Bernama pada 20 Februari bahwa dari 1.725 migran diperiksa pada hari pertama operasi tersebut, 604 telah ditangkap. Mereka berasal dari Indonesia, Banglades dan India.

Operasi semacam itu bukanlah hal baru. Investigasi mengungkapkan bahwa pegawai pemerintah terlibat dalam penyelundupan manusia. Pemerintah melakukan operasi besar-besaran pada Desember 2017 saat memerintahkan pengalihan hampir setengah dari 1.500 petugas imigrasi di Bandara Internasional Kuala Lumpur.

 

 

Bagi banyak orang, seperti Kristina, kembali ke Indonesia  mendapatkan passpor baru dan masuk kembali ke Malaysia untuk bekerja secara legal bukanlah pilihan. Dia tidak punya uang sedikitpun  untuk kembali ke desanya di Adonara. Suaminya sudah lama meninggal dan mereka tidak punya anak. Dia telah dieksploitasi sebelumnya dan itu bukan hal baru.

“Dia hanya ingin mencari nafkah … membersihkan rumah, mencuci pakaian, melakukan apa yang paling dia tahu,” kata Juniasti.

Kristina juga tidak keberatan hanya mendapatkan dua hari libur sebulan. Dia takut keluar karena dia kekurangan dokumen.

“Mereka sangat berhati-hati saat keluar. Saya tidak sering melihatnya, tapi saya tahu bagaimana mereka (migran tidak berdokumen) selalu diawasi petugas,” kata Juniasti.

Setelah kematian Kristina, kerabatnya yang bekerja di Malaysia mengumpulkan uang untuk biaya pemakamannya. Biaya diperkirakan sekitar US $ 500 – upah lebih sedikit di atas dua bulan untuk pekerja rumah tangga. Mereka menyumbang masing-masing US $ 50 sementara para wanita memberi US $ 15.

Pengaturan pemakamannya menjadi  urusan yang aneh. Karena status Kristina ilegal, sebuah proses khusus mulai berjalan. Di bawah hukum Malaysia, seorang dokter yang legal harus menandatangani surat kematiannya. Juga harus dilaporkan ke polisi. Tapi seorang calo menangani semua ini dengan harga tertentu, tidak ada pertanyaan yang diajukan.

Ini adalah bisnis yang berkembang.

Seorang dokter pemerintah yang meminta untuk tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa jelas ada kebutuhan untuk bantuan semacam itu.

“Ada begitu banyak pekerja asing.  Banyak yang berada di sini secara ilegal.  Mereka tidak dapat menerima bantuan medis jika mereka membutuhkannya karena status ilegal mereka.  Jika mereka datang ke rumah sakit dengan luka atau penyakit serius, mereka dilaporkan tidak berdokumen,” kata dokter itu.

“Ada lebih dari satu juta pekerja  imigran ilegal di Sabah, coba bayangkan … kemana mereka akan pergi? Anda pikir mereka akan (secara terbuka) datang untuk berobat? Mereka akan mengambil risiko ditangkap … juga mereka terancam   diinterogasi dan dideportasi.

“Inilah berbagai alasan mengapa mereka menjauh, dan sangat bergantung pada obat-obatan tradisional, beberapa orang mungkin saja datang ke rumah sakit, tapi hanya jika sudah kritis dan sering terlambat, tidak mengherankan bila terjadi kematian yang seharusnya bisa dihindari,” kami tentu akan berusaha menolong mereka, tapi kami Juga harus mengikuti peraturan dan melaporkannya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi