UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Dua Imam Luncurkan Buku tentang Kekelaman Perang Sipil di Sri Lanka 

Maret 9, 2018

Dua Imam Luncurkan Buku tentang Kekelaman Perang Sipil di Sri Lanka 

Pastor Terrence Fernando dan Pastor Mariamuttu Sathievel meluncurkan buku mereka di Pusat Masyarakat dan Agama di Kolombo pada Senin (5/3). (Foto: ucanews.com)

Dua imam di Sri Lanka yang memilih untuk tetap tinggal bersama masyakarat Tamil ketika terjadi perang sipil menulis buku tentang pengalaman dan tantangan mereka.

Pastor Terrence Fernando dari Gereja Katolik dan Pastor Mariamuttu Sathievel dari Gereja Anglikan meluncurkan buku mereka pada Senin (5/3) di Pusat Masyarakat dan Agama di Kolombo.

Pastor Fernando, seorang warga Suku Sinhala, memulai sebuah misi di wilayah Tamil dengan fasilitas minim dan kesulitan yang begitu besar ketika ia tinggal di Vavuniya bagian utara.

Ia memuji para tokoh Gereja dan masyarakat yang menentang perang sipil secara tegas.

Bukunya berisi surat dan artikel tentang penderitaan masyarakat selama perang sipil berlangsung sejak 1983 hingga 2009. Buku ini juga menggambarkan bagaimana ribuan anak kehilangan orangtua atau anggota tubuh mereka.

“Apa yang telah saya tulis dalam buku ini bukan sekedar pemikiran dan essai, tetapi kisah tentang darah dan air mata dari Saudara-Saudari kita masyarakat Tamil,” katanya.

“Kita hendaknya menerima dan terbuka terhadap kebenaran dan kenyataan pahit ini. Tak seorang pun bisa lari atau lepas dari tanggung jawab atas kejahatan kelam sambil mengatakan ‘kami tidak ada kaitannya dengan ini’ atau ‘kami tidak tahu,’” lanjutnya.

“Mari bergabung bersama saya dan menerima hak masyarakat Tamil untuk hidup di tanah mereka sendiri sebagai sebuah bangsa dengan kebebasan dan martabat,” katanya.

Sementara itu, Pastor Sathievel menulis puisi dan perjuangan para narapidana politik, pekerja perkebunan teh yang miskin, Juli Hitam dan berakhirnya perang sipil.

Dalam sambutannya kepada para imam, biarawati dan aktivis hak asasi manusia saat peluncuran kedua buku tersebut, Mahinda Namal, editor surat kabar Kithusara dan situs Jesus Today, mengatakan kedua buku itu merefleksikan penderitaan dan perjuangan orang-orang yang terpinggirkan.

“Kedua imam itu tidak meninggalkan orang yang menderita ketika mereka dibutuhkan,” katanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi