UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Angka Bunuh Diri di Kalangan Anak Muda di Filipina Meningkat 

Maret 12, 2018

Angka Bunuh Diri di Kalangan Anak Muda di Filipina Meningkat 

Masalah keluarga termasuk perpisahan orangtua merupakan satu dari banyak penyebab bunuh diri di kalangan anak muda di Filipina. (Foto: Angie de Silva)

Sejumlah pakar kesehatan mental di Filipina mengkhawatirkan tentang jumlah anak muda yang mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri.

Sedikitnya enam orang bunuh diri setiap hari di negara berpenduduk lebih dari 100 juta orang itu. Mayoritas penduduk beragama Katolik.

“Mungkin angkanya nampak kecil, atau tidak signifikan, tapi satu nyawa sangat berharga,” kata Carmelita Ericta, mantan pegawai statistik pemerintah.

Sejak 2012 hingga 2016, katanya, ada 237 kasus bunuh diri di kalangan anak berumur 10-14 tahun.

Departemen Kesehatan mencatat 2.413 kasus bunuh diri pada 2016. Dari jumlah ini, lebih dari 2.000 adalah laki-laki dan sisanya perempuan,

Dr. Cornelio Banaag Jr., ketua Asosiasi Kesehatan Mental Filipina, mengatakan pemicu bunuh diri yang umum terjadi adalah stres.

Ia menambahkan bahwa lebih banyak kasus tidak dilaporkan karena stigma atau rasa takut bahwa mereka yang memiliki kecenderungan untuk bunuh diri akan dihakimi.

Selain jumlah “yang cukup mengkhawatirkan” di kalangan anak muda yang mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri, katanya, ada juga peningkatan jumlah “cutter” di kalangan anak muda.

Cutter” adalah mereka yang memilih untuk tidak bunuh diri tetapi melukai diri sendiri dengan maksud untuk merasakan kelegaan dari tekanan.

“Kita bahkan belum menyebut mereka yang mengalami depresi klinis – bipolar – atau yang mengalami perubahan suasana hati secara ekstrim,” kata Banaag, seorang psikiater.

Keluarga Pekerja Migran

Sejumlah pejabat Gereja mengingatkan bahwa anggota keluarga pekerja migran rentan terhadap stres dan mencari jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi.

Pastor Dario Cabral, ketua Komisi Keluarga dan Kehidupan Keuskupan Malolos, mengatakan anak muda perlu memiliki rasa memiliki.

“Mereka juga meniru orangtua, tapi ada peningkatan jumlah keluarga yang disfungsional karena baik ayah atau ibu bekerja di luar negeri,” katanya,

Namun Uskup Legazpi Mgr Joel Baylon mengatakan kecenderungan bunuh diri di kalangan anak muda akhir-akhir ini tidak terbatas pada keluarga pekerja migran.

Menurut prelatus itu, orangtua perlu “sungguh-sungguh menyediakan banyak waktu bersama anak-anak mereka, khususnya mereka yang memiliki gejala depresi.”

Mantan ketua Komisi Kepemudaan itu menambahkan bahwa dialog bahkan bisa melibatkan imam dan pekerja sosial yang selalu meluangkan waktu untuk konseling.

Dr. Amadeo Alinea dari Asosiasi Psikiater Filipina mengatakan meskipun stres itu berbeda antara orang kaya dan orang miskin, stres memiliki efek yang sama.

“Anak muda yang mencari bantuan profesional nampaknya tengah mencari identitas diri mereka,” katanya, seraya menambahkan bahwa beberapa anak muda bahkan mempertanyakan iman mereka dan meninggalkan gereja.

Dr. Kathryn Tan dari Pusat Kesehatan Mental Nasional mengatakan pelayanan untuk pasien yang mengalami gangguan mental masih kurang khususnya dalam konteks pengobatan yang memadai dan pengobatan tindak lanjut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi