UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Di Filipina, Para Imam Diminta Menilai Gaya Hidup

Maret 13, 2018

Di Filipina, Para Imam Diminta Menilai Gaya Hidup

Sejumlah klerus menghadiri sebuah Misa Krisma di Manila selama perayaan Pekan Suci tahun 2017. (Foto: Angie de Silva)

Ketua Komisi Seminari Konferensi Waligereja Filipina Uskup San Carlos Mgr Gerardo Alminaza mengatakan para imam Katolik perlu “menilai gaya hidup” untuk melihat apakah mereka menjalani misi mereka sebagai pengikut Kristus dalam kehidupan sehari-hari atau tidak.

Bahkan pilihan seorang imam akan gadget pun hendaknya dicermati, katanya.

“Apakah kita puas dengan telepon selular yang masih bisa digunakan atau haruskah Blackberry atau iPhone tipe terbaru?” kata prelatus itu kepada lebih dari 100 imam yang menghadiri sebuah pertemuan minggu lalu.

Ia mengatakan sebuah tagihan merupakan “dokumen spiritual” yang mengungkap nilai dan prioritas seorang imam. “Apakah (uang) digunakan untuk membeli makanan, rekreasi atau membantu seseorang?” tanyanya.

Menurutnya, para klerus hendaknya menilai diri mereka dan melihat orang lain yang bepergian bersama mereka.

“Berapa banyak teman kita yang kaya, kelas menengah dan miskin?” katanya.

“Berapa banyak rumah orang miskin yang kita kunjungi? Kegiatan sosial apa yang kita lakukan?” lanjutnya.

Uskup Alminaza menjelaskan bahwa sejumlah imam menggunakan “uang umat” untuk pendidikan saudara mereka.

Ia menyayangkan bahwa banyak imam merasa mereka memanjakan diri setelah bertahun-tahun menjalani pembinaan sebagai frater.

“Tahbisan imam dipahami secara umum sebagai ‘akhir dari pembinaan imam’ (dan) para imam kemudian bebas,” katanya.

Ia meminta para imam untuk memikirkan “perubahan paradigma” berdasarkan dokumen Vatikan Ratio Fundamentalis Institutionis Sacerdotalis atau “Karunia Panggilan Imamat.”

“Cara berpikir pertama yang (dokumen) ini tekankan adalah … pembinaan para imam berarti mengikuti perjalanan tunggal para rasul yang berawal sejak pembaptisan dan berakhir pada kematian,” katanya.

Pertemuan itu juga membahas isu-isu sosial yang dihadapi Gereja di Filipina.

Penyelenggara mengatakan mereka ingin “mengadakan sharing yang jujur tentang pengalaman hidup dan membahas tentang bagaimana – sebagai sebuah lembaga para imam dan biarawan – kita bisa menanggapi dengan lebih baik kebutuhan jaman.”

Uskup Alminaza mengatakan ini saat yang baik bagi para imam untuk melihat kegiatan sehari-hari mereka, apakah mereka memiliki banyak waktu dan sumber daya untuk kegiatan “kultus dan pelayanan” atau kegiatan kenabian.

Ia merujuk pada pelayanan sakramen sebagai kegiatan kultus dan mengerjakan proyek mata pencaharian dan mengupayakan keadilan sebagai kegiatan kenabian.

Pertemuan itu diselenggarakan oleh Kelompok Pendalaman Klerus Nasional sebagai bagian dari perayaan Tahun Imam dan Orang Suci.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi