UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Para Uskup Minta DPR Filipina Pertimbangkan Kembali RUU Perceraian

Maret 14, 2018

Para Uskup Minta DPR Filipina Pertimbangkan Kembali RUU Perceraian

Sepasang laki-laki dan perempuan tengah berjalan bersama anjing mereka di sebuah taman di Manila melewati sebuah poster yang berisi pertentangan dari sebuah kelompok Gereja terhadap pengesahan perceraian di Filipina. (Foto: Angie de Silva)

Konferensi Waligereja Filipina (KWF) meminta Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk mempertimbangkan kembali rancangan undang-undang (RUU) tentang perceraian dan memberi ruang untuk “perdebatan yang masuk akal terkait isu itu.”

Dalam sebuah pernyataan pastoral yang dikeluarkan Selasa (13/3), para uskup mengatakan “perkawinan dan keluarga akan lebih mudah terpisahkan” jika pasangan suami-isteri ditawari sebuah cara mudah untuk berpisah.

“Dengan segala hormat, kami mohon kepada anggota dewan agar memberi ruang untuk perdebatan yang masuk akal terkait isu itu,” kata Ketua KWF Uskup Agung Davao Mgr Romulo Valles.

Ia mengatakan anggota dewan hendaknya menyampaikan opini pribadi terlebih dahulu sebagai bentuk konsultasi lebih lanjut dengan masyarakat sebelum membuat RUU yang penting semacam itu.

“Tanya masyarakat dan mereka pasti berpikir bahwa keluarga tetap merupakan satu dari banyak harta yang paling berharga seperti masyarakat Filipina,” kata prelatus itu.

Filipina merupakan satu-satunya negara di dunia – selain Vatikan – yang tidak mengijinkan perceraian, kecuali untuk umat Islam.

Hasil Survei

Namun beberapa survei yang dilakukan tahun lalu oleh Social Weather Stations menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Filipina mendukung pengesahan perceraian.

Hasil dari dua survei itu dirilis pada Jumat (9/3) ketika RUU mulai dibahas oleh anggota dewan.

Survei yang dilakukan pada 25-28 Maret 2017 dan 8-16 Desember 2017 itu menunjukkan bahwa 53 persen masyarakat Filipina mendukung pengesahan perceraian.

Menurut kedua survei itu, 30 persen “sangat setuju” sementara 23 persen “agak setuju” dengan usulan perceraian bagi pasangan suami-isteri yang sudah tidak bisa didamaikan lagi. Sebanyak 32 persen tidak mendukung pengesahan perceraian.

Pada 21 Februari, Komisi Kependudukan dan Hubungan Keluarga DPR menerima sebuah RUU yang memperkenalkan perceraian di Filipina.

Minggu ini, anggota dewan mulai membahas RUU  berjudul “Sebuah UU tentang Perceraian Absolut dan Pembatalan Perkawinan di Filipina” tersebut.

Tujuannya adalah untuk memberi akses yang murah dan cepat bagi pasangan suami-isteri yang sudah tidak bisa didamaikan lagi akan suatu cara alternatif untuk membatalkan perkawinan.

Pembatalan perkawinan bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun dan biaya hingga 10.000 dolar AS.

RUU itu juga bertujuan untuk “menyelamatkan anak-anak dari kesedihan, stres dan penderitaan akibat perselisihan perkawinan terus-menerus dari orangtua mereka” dan “memberi hak bagi pasangan yang bercerai untuk menikah lagi agar menemukan kebahagiaan.”

“Biaya Sosial”

Dalam pernyataannya, para uskup menyarankan agar anggota dewan berkonsultasi dengan para pakar di berbagai bidang untuk mempelajari implikasi dari isu itu.

“Biaya sosial untuk cara lain dari perceraian … adalah apa yang kami minta kepada anggota dewan untuk memikirkannya secara serius,” kata para uskup.

Uskup Agung Valles mengklarifikasi bahwa para uskup tidak mempertanyakan kenyataan bahwa ada perkawinan yang gagal dan bahwa “tidak semua pasangan suami-isteri dipersatukan oleh Allah.”

Namun ia mengatakan sudah ada aturan kanonik dan pembatalan sipil untuk kasus seperti itu.

“Penyelesaian secara hukum untuk situasi sulit seperti itu sudah ada dalam aturan yang berlaku saat ini baik sipil maupun kanonik,” katanya.

Ada aturan “yang mengungkapkan bagaimana kita sangat serius terhadap perkawinan sebagai sebuah institusi, begitu juga kita memberi ruang bagi kemungkinan adanya pembatalan perkawinan dan pernikahan kembali,” lanjutnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi