UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Uskup Pioner  Timor-Leste Rayakan Ulang Tahun Tahbisan Uskup

Maret 14, 2018

Uskup Pioner  Timor-Leste Rayakan Ulang Tahun Tahbisan Uskup

Uskup Baucau Mgr Basilio do Nascimento menahbiskan para deakon baru pada 30 November 2017. (Foto: Thomas Ora)

Uskup Baucau Mgr Basilio do Nascimento merayakan 21 tahun tahbisan uskup pada  Januari tahun ini, di keuskupan yang dipimpinnya hingga kini.

Prelatus berumur 67 tahun itu adalah uskup Baucau  pertama dan menjabat hingga sekarang, sekitar 120 kilometer sebelah timur ibukota Dili.

Keuskupan tersebut secara resmi didirikan pada 30 November 1996, tujuh tahun setelah Paus Yohanes Paulus II – yang sekarang St. Yohanes Paulus – mengunjungi negara tersebut pada  Oktober 1989 dan mengharapkan keuskupan baru nutuk menampung semakin banyak umat Katolik.

Timor-Leste memiliki populasi 1,2 juta, sekitar 97 persen di antaranya adalah umat Katolik.

Mereka tinggal di tiga keuskupan – Baucau menjadi keuskupan yang kedua setelah Dili – didirikan  tahun 1940 – dan Maliana adalah keusukpan  ketiga, didirikan pada Januari 2010.

Uskup Nascimento mengatakan bahwa ada banyak hal yang harus disyukuri kepada Tuhan karena keuskupannya telah berkembang selama dua dekade terakhir.

“Pertama, mimpi Paus Yohanes Paulus II telah menjadi kenyataan, meski ada banyak hal yang perlu diperbaiki,” kata uskup tersebut kepada ucanews.com.

Keuskupan Baucau didirikan untuk meringankan beban Uskup Dili Mgr Carlos Filipe Ximenes Belo  saat itu karena jumlah umat Katolik tumbuh secara signifikan. Paus menginginkan agar Gereja memberikan pelayanan yang lebih baik kepada umat Timor-Leste.

Pesan St. Paus Yohanes Paulus II kepada para pemimpin Gereja lokal adalah untuk memperluas dan membuat kehadiran Tuhan dirasakan di antara umat-Nya, dan  memperkuat iman mereka kepada Tuhan. Setelah kemerdekaan Timor-Leste, pesan paus menjadi semakin penting.

“Ini pekerjaan terus-menerus,” kata prelatus tersebut.

Uskup Nascimento lahir pada  14 Juni 1950 di Suai, yang berada di selatan barat negara itu dan ditahbiskan menjadi imam  tahun 1977 di Evora, Portugal.

Sebelum kembali ke Timor-Leste tahun 1994 – ketika masih dalam pendudukan Indonesia – dia bertugas sebagai pastor paroki dan dosen di seminari Tinggi di Portugal dan Prancis.

Dia juga menjabat sebagai Administrator Apostolik Dili setelah pengunduran diri Uskup Belo pada 26 November 2002 sampai penahbisan Uskup Alberto Ricardo da Silva pada  6 Maret 2004.  Uskup Silva  meninggal pada  2 April 2015

Tahun 2011, dia diangkat dan masih menjadi ketua Konferensi Waligereja Timor-Leste.

 

 

Tantangan

Dia berusia 46 tahun saat diangkat menjadi uskup Baucau dan dia menggambarkan hari-hari awal setelah pengangkatannya sebagai “mulai dari nol”.

Hampir tidak ada apa-apa, terutama dalam hal infrastruktur, sumber daya manusia dan manajemen.

“Tidak ada rumah uskup, tidak ada kantor, tidak ada,” katanya.

Namun, ini adalah kesempatan bagi Uskup Nascimento dan bersama sejumlah kecil para  imam dan biarawan-biarawati merencanakan masa depan keuskupan baru.

Ketika dia mulai, hanya ada 21 imam – sembilan imam diosesan dan 12 imam SVD dan Salesian Don Bosco, serta biarawati dari beberapa kongregasi religius.

“Itu sulit karena kami harus melayani sekitar 200.000 umat Katolik saat itu,” kata Uskup Nascimento.

“Tapi saya menyerahkan segalanya kepada kehendak Tuhan,” katanya.

Membangun keuskupan membutuhkan banyak pekerjaan, mulai dari mempersiapkan imam diosesan, struktur bangunan, dan banyak lagi, katanya, ia menambahkan bahwa kapal tersebut belum berlayar.

Pembangunan infrastruktur yang dimulai  tahun 1996 dihentikan tahun 1999 karena referendum kemerdekaan. Pembangunan dilanjutkan setelah kemerdekaan namun keadaan berjalan perlahan seiring negara tersebut berjuang melawan kemiskinan dan rekonstruksi menyusul meluasnya kekerasan yang meletus ketika Timor-Leste memilih untuk memisahkan diri dari Indonesia.

Namun,  tahun 2001, dia berhasil mengirim beberapa imam untuk belajar filsafat, teologi, liturgi, dan hukum Gereja di Roma.

Ketika pulang, mereka membantu para seminaris di Seminari Santo Paulus dan Petrus di Dili, yang didirikan oleh dia dan Uskup Belo dirikan  tahun 2000.

Sebelum seminari dibangun mereka yang ingin masuk imamat harus belajar di Indonesia. Kini, seminari tersebut secara bertahap memenuhi kebutuhan negara tersebut untuk para imam, termasuk dua orang tiap tahun untuk Keuskupan Baucau.

“Ya, jumlahnya kecil tapi saya tidak keberatan, yang terpenting kualitas pastor kita,” kata Uskup Nascimento.

Sampai sekarang, sekitar 150 pemuda dari Keuskupan Baucau sedang belajar di seminari menengah dan tinggi. Uskup Nascimento berharap formasi mereka sebagai imam dilakukan dengan benar.

“Kami membutuhkan imam yang bisa bergaul dengan umat dan menjadi bagian dari umat,” katanya.

Dengan pemikiran ini, Uskup Nascimento optimis tentang pertumbuhan Gereja Timor-Leste khususnya di Keuskupan Baucau, seperti yang dikatakan oleh Santo Paus Yohanes Paulus II untuk “menjadi garam dunia”.

Satu hal di pikirannya adalah terus mendorong kaum muda untuk bekerja di Gereja, tidak hanya dengan menjadi imam tapi juga melalui banyak usaha lain, termasuk politik.

Gereja Timor-Leste perlu mempersiapkan lebih banyak anak muda untuk mengambil peran kepemimpinan, katanya. “Untuk itu, kita perlu memulai dengan formasi imam,” katanya, seraya menambahkan bahwa Paus Fransiskus juga telah berharap bahwa lebih banyak imam akan berasal dari Timor-Leste karena ini adalah negara paling Katolik di Asia.

Belum ada  katedral

Salah satu ambisi uskup Nascimento adalah membangun sebuah  katedral baru, yang belum direalisasikan karena adanya perselisihan tanah yang menunggu keputusan pengadilan.

Sebagai gantinya, keuskupan tersebut menggunakan Gereja Santo Antonius yang dibangun oleh Portugis  tahun 1973 sebagai gereja utamanya.

“Gereja tua dan kecil itu tidak mampu menampung  jumlah umat Katolik yang meningkat,” kata Uskup Nascimento.

“Ini menjadi  frustrasi terutama saat Hari Raya Paskah, Natal dan hari-hari raya lainnya. Pada saat hujan, banyak orang berdiri di luar gereja dan menjadi basah,” katanya.

Setelah 21 tahun kerja keras keuskupan sekarang memiliki lebih dari 351.000 orang Katolik yang tinggal di 21 paroki yang mencakup distrik Baucau, Lospalos, Viqueque dan Manatuto.

Ia juga memiliki 71 imam – 41 imam diosesan dan 30 imam religius.

Sekitar 23 kongregasi religius wanita  dan enam kongregasi religius pria membantu dia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi