UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Lima Tahun Kepausannya, Paus Fransiskus Tepati Janjinya untuk Asia

Maret 15, 2018

Lima Tahun Kepausannya, Paus Fransiskus Tepati Janjinya untuk Asia

Paus Fransiskus menyapa sekitar 150.000 orang dalam Misa di Yangon pada November 2017. (Foto: Htoo Tay Zar)

Ketika Paus Fransiskus mengirimkan telegram pada Agustus 2014 untuk menyambut Presiden China Xi Jinping, ini adalah langkah pertama perhatiannya untuk Asia seperti yang dijanjikan selama kepausannya. Sambutan Sri Paus untuk Xi dikirim saat pesawat kepausan terbang melintasi Cina dalam perjalanan menuju Hari Kaum Muda Sedunia di Korea Selatan.

Langkah tersebut, kurang dari enam bulan memasuki masa kepausannya – setelah dia terpilih sebagai Paus pada  13 Maret 2013 – dengan cepat ia I mengarahkan perhatian  pada dimulainya kembali pembicaraan antara Vatikan dan Cina mengenai normalisasi pengangkatan  uskup,  sebuah  isu yang menjadi ganjalan  hubungan antara kedua negara selama beberapa dekade.

Sementara masih berjubah dalam kerahasiaan dan dugaan, beberapa pengamat mengatakan  pada akhirnya kesepakatan terbukti sulit terwujud, walaupun yang lain percaya bahwa sebuah kesepakatan dapat diumumkan segera setelah Pekan Suci yang akan datang pada akhir Maret.

Apapun masalahnya, pembicaraan tersebut merupakan salah satu rangkaian inisiatif yang  melihat Paus menepati janjinya untuk beralih ke Asia selama kepausannya, sebuah wilayah di mana karya Yesuitnya telah lama menonjol.

Hanya enam bulan setelah kunjungannya ke Korea Selatan, Paus sedang dalam perjalanan kembali ke Asia untuk mengkanonisasi   orang kudus pertama dari Sri Langka dan  mengunjungi Filipina dimana lebih dari 80 persen dari 100 juta orang beragama  Katolik.

Nissanka Jayaweera, 36, seorang guru Katolik, panitia  kunjungan Paus tersebut, mengingatkan bahwa Paus Fransiskus menekankan  semua agama harus bekerja sama  memulihkan  negara tersebut dalam masa perang  dan pasca-perangnya.

“Sri Paus mengatakan  umat Katolik Sri Lanka harus belajar  kepada St. Joseph Vaz, seorang misionaris India sebagai teladan pada masa-masa sulit,” kata Jayaweera yang menghadiri Misa kanonisasi St. Joseph Vaz  tahun 2015.

“Paus meminta rekonsiliasi, perdamaian dan keadilan bagi semua masyarakat setelah perang saudara selama 26 tahun. Paus mendesak semua pemimpin agama  bekerja sama menyembuhkan luka korban perang,” kata Jayaweera.

“Umat Katolik Sri Lanka menyumbangkan hadiah uang tunai lebih dari 8 juta rupee (US $ 51.360) untuk karya amal kepausan namun Paus Fransiskus memberikannya kembali pada Konferensi Waligereja Sri Langka untuk digunakan bagi orang miskin di negara tersebut,” kata Jayaweera.

Pastor S. Anthony, seorang imam Tamil dari sebuah  keuskupan yang sebelumnya terkena dampak perang mengatakan  Paus Fransiskus  bertemu dengan keluarga korban perang saudara di gereja Madhu  tahun 2015.

Paus Fransiskus mengunjungi kuil Madhu berusia 400 tahun yang memberikan  perlindungan bagi ribuan pengungsi Tamil beberapa kali selama perang.

“Paus memiliki keberanian  mengatakan  banyak keluarga terbunuh dalam kekerasan dan pertumpahan darah yang mengerikan tahun-tahun itu,” kata Pastor Anthony.

Kunjungan Paus Fransiskus ke Filipina  tahun 2015 sangat menyentuh kehidupan banyak orang Filipina, terutama mereka yang selamat dari topan dahsyat yang melanda negara itu setahun sebelumnya.

Uskup Kalookan Mgr Pablo Virgilio David mengatakan Paus terus-menerus memimpin Gereja Katolik  menjadi “lebih misionaris, Katolik, dan memberi hidup.”

“Dia adalah pemberian Tuhan kepada Gereja Universal. Kepausannya adalah rahmat bagi kita,” kata Uskup Rupdad Santos dari keuskupan Balanga, ketua Komisi Migran dan Perantauan Konferensi Waligereja Filipina.

“Dia memiliki belas kasih  besar untuk orang-orang  rentan dan tidak bersuara,” kata uskup tersebut, seraya menambahkan  “seperti kapal St. Petrus,  Gereja itu aman, mantap, dan dalam arah yang benar” dengan Paus Fransiskus sebagai pimpinannya.

Fidelino Josol, korban topan di Tacloban, mengatakan  kepada  Paus bahwa  ia kehilangan rumah dan orang yang dicintai adalah “pengalaman yang paling menghibur” orang-orang di provinsi Leyte.

“(Paus Fransiskus) mengilhami setiap orang untuk terus berpegang teguh pada iman mereka” di tengah penderitaan mereka. “Ketika Paus mengunjungi kita, rasanya seperti saat bersama Tuhan,” kata Josol.

Selama kunjungan Paus, badai lain melanda provinsi tersebut, menelan ribuan orang yang sedang menghadiri Misa.

“Meskipun badai hari itu, Paus berdiri bersama kami dan demi kami, tidak akan pernah meninggalkan kami,” kenang Josol yang menjadi bagian dari koor  saat perayaan tersebut.

Pastor Lenox Garcia dari Keuskupan Borongan, Filipina Tengah, mengatakan  pertemuan Paus dengan korban topan “memberi harapan dan keberanian  melanjutkan hidup kita.”

Myanmar, Banglades  tahun 2017

Jika kunjungannya ke Sri Lanka  dan Filipina seperti sebuah hasil yang mudah, namun perjalanannya akhir tahun 2017 ke dua negara yang  sedang dilanda perselisihan di Myanmar dan negara tetangganya  Banglades dimana ratusan ribu pengungsi Rohingya berada.

Dia secara pribadi melakukan perjalanan ke Myanmar, menghindari protokol normal dan saat berada di sana, dengan hati-hati menginjak garis antara pengungsi dan advokasi perdamaian dan penghormatan terhadap keinginan Kardinal Charles Maung Bo dan pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi untuk tidak mengobarkan situasi Rohingya.

Pastor Alexander Kyaw Win, pastor Paroki St. Michael di Dalla, dekat Yangon, mengatakan  kunjungan Paus ke Myanmar sangat signifikan dan bersejarah dan berdampak positif pada Gereja Katolik di Myanmar.

“Banyak orang tidak tahu tentang Katolik sehingga kunjungan Paus mempromosikan citra Gereja Katolik dan membuka jalan bagi kontribusi Gereja terhadap pembangunan bangsa,” kata Pastor Kyaw Win kepada ucanews.com.

Peristiwa paling penting dalam perjalanan ke Banglades adalah pertemuan antaragama pada 2 Desember. Di atas panggung, Benediktus Alo D’Rozario, sekretaris Panitia Pusat untuk Kunjungan Kepausan ke Banglades, mengatakan kepada ucanews.com.

“Paus Fransikus  berdoa bersama dengan pengungsi Rohingya, Muslim, Hindu dan Buddha berdampingan. Dia berada diantara banyak orang yang terdiri dari semua komunitas di depannya,” kata D’Rozario. “Gambar ini akan terukir di benak orang-orang Banglades selamanya.”

Uskup Gervas Rozario dari keuskupan Rajshahi dan wakil ketua presidium Konferensi Waligereja Banglades mengatakan  kunjungan Paus tersebut merupakan pengakuan dan penghargaan bagi Banglades.

“Dia mengenali masyarakat yang lebih besar dan juga komunitas Kristen kecil,” kata Uskup Rozario. “Ini adalah dukungan moral yang baik untuk kita semua yang dia cintai dan berdiri di samping kita. Kita bisa merasakan dorongan dan kekuatan ini,” katanya.

Namun, sayangnya, bagi orang Katolik Filipina, orang Myanmar dan Sri Lanka, khususnya, pesan Paus tampaknya kadang-kadang tidak mendengarkan.

Pastor Pete Montallana OFM mencatat  orang Filipina, bahkan pemimpin Gereja Katolik, “tidak menganggap serius pesan  Paus Fransiskus ini.”

“Kami lebih buruk dari sebelumnya karena kami tidak keluar dari zona nyaman kami,” kata pastor tersebut. “Jauh lebih mudah memusatkan perhatian pada liturgi yang indah dan bangunan yang luas,” katanya.

Selama kunjungannya, Paus Fransiskus menantang para pemimpin pemerintah dan Gereja menangani isu-isu perubahan iklim, kemiskinan, dan ketidakadilan.

Uskup Emeritus Davao Mgr Fernando Capalla  mengatakan  tantangan Paus “menyingkirkan ketidaksetaraan sosial dan pengecualian diabaikan dengan menyedihkan.”

Paus secara konsisten meminta pemimpin Gereja  “mencium seperti domba,” bahkan mendesak para imam  membawakan  homili singkat dan lebih masuk akal.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi