UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Prosesi Minggu Palma yang Menantang Diadakan di Desa Pakistan

Maret 27, 2018

Prosesi Minggu Palma yang Menantang Diadakan  di Desa Pakistan

Anak-anak Pakistan berpartisipasi dalam prosesi Minggu Palm di desa Dhir, pada 25 Maret. (Foto: Kamran Chaudhry/ucanews.com)

Umat Kristiani di sebuah desa di Pakistan yang diguncang protes penodaan  agama  sebulan lalu – tetap mengadakan prosesi  publik pertama mereka pada Minggu Palma.

Sekitar 200 ratus umat Kristiani bergabung dalam prosesi melewati  wilayah Kristen di desa Dhir, Kota Shadara sekitar 22 kilometer dari kota Lahore. Pria, wanita dan anak-anak berpartisipasi di bawah pengawasan   dua relawan bersenjata.

Prosesi Minggu Palma diadakan  setelah banyak umat Kristen di desa itu terpaksa meninggalkan desa mereka bulan lalu karena protes terkait dugaan kasus penistaan ​​agama.

“Kami tidak yakin  mengadakan perarakan secara publik. Hanya sebulan  lalu, sebagian besar penduduk desa melarikan diri dari desa karena takut serangan massa,” kata Pastor Safnia Bashir dari Gereja Bethani kepada ucanews.com.

“Akhirnya, kami memutuskan  memimpin para pendevosan hanya di lingkungan Kristen,” katanya.

Massa Muslim dilaporkan menyerbu umat Kristen ke luar dari daerah itu pada pertengahan Februari ketika mereka menuntut penangkapan Patras Masih, seorang pekerja sanitasi lokal yang dituduh memposting konten menista  agama di akun Facebook-nya.

Aktivis dari partai politik Islam, Tehreek-e-Labaik menuntut hukuman mati dan menggelar protes di Dhir dan lokasi lainnya di Lahore.

Situasi menjadi lebih tegang setelah salah satu kerabat remaja dimintai keterangan oleh pasukan keamanan dan diduga melompat keluar dari gedung ketika dia sedang diinterogasi.

Orang Kristen menghiasi  dan palma  di  Dhir. (Foto: Kamran Chaudhry/ucanews.com)

Sajid Masih, sepupu Patras, kedua kakinya patah dan menderita luka setelah dia melompat dari lantai empat markas  Federal Investigation Agency (FIA) Punjab pada 23 Februari.

Umat ​​Kristen menanggapi dengan melakukan protes nasional dan mogok makan. Sementara itu, keluarga kedua pria itu tetap bersembunyi karena mereka takut akan pembalasan dari ekstremis Muslim.

Hameed Masih, yang biasa menyewa lantai bawah di gedung yang sama di mana Patras tinggal, mengatakan ia membawa keempat anaknya dan pindah ke bagian lain kota itu segera setelah kekacauan meletus bulan lalu.

“Ketika kami kembali ke sini dua minggu kemudian, kami menemukan apartemen kami telah dihancurkan,” kata buruh kasar itu.

“Semua peralatan dan pakaian kami berserakan di lantai. Mereka telah menghancurkan perangkat TV dan lemari kami. Mesin cuci rusak. Mereka bahkan merusak sepeda motor tetangga saya,” tambahnya.

Ia mengatakan perarakan Minggu Palma telah memberi komunitas Kristen dorongan yang sangat dibutuhkan setelah berminggu-minggu menghabiskan waktu yang mengkhawatirkan hidup mereka.

“Kami benar-benar mendapat dorongan  kemampuan untuk mengakui iman kami secara terbuka di jalan-jalan setelah dihantui dan hidup dalam teror,” katanya. “Itu masalah besar.”

Namun, aktivis hak asasi manusia Katolik seperti Khalid Shehzad menyatakan keprihatinan atas konsekuensi yang bisa terjadi.

“Pastor seharusnya menghubungi polisi dan meminta  bantuan,” katanya.

“Penduduk desa Kristen bisa dengan mudah menjadi sasaran lagi. Pihak berwenang akan menyalahkan penyelenggara perarakan jika memprovokasi lebih banyak serangan,” tambahnya.

Uskup Emmanuel dari Gereja Bethani  juga dilaporkan dihadang agar tidak kembali ke Dhir oleh penduduk desa Muslim, banyak di antaranya percaya dia membantu menyembunyikan Patras dan kemudian menyerahkan remaja itu ke polisi untuk melindungi anak muda itu.

Enam sukarelawan bersenjata sekarang menjaga gereja selama layanan doa karena suasana di kota tetap tegang.

Saat membawakan  homili  Minggu Palma, Pastor Bashir mendesak penduduk desa  berhati-hati dan menunjukkan kepekaan agama ketika menggunakan media sosial.

“Ketidaktahuan menyebabkan masalah di desa kami. Amati cepat dan berdoa guna  mengakhiri pelanggaran hukum dan terorisme ini,” katanya.

“Berdoalah bagi para penguasa, bahkan jika Anda tidak menyukainya. Kita hanya aman ketika negara kita aman,” tambahnya.

 

One response to “Prosesi Minggu Palma yang Menantang Diadakan di Desa Pakistan”

  1. fansi says:

    tuhan yesus lindungilah mereka dari segala marabahaya amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi