UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kardinal Tagle Sentil Pemimpin Menggunakan Kekerasan

Maret 28, 2018

Kardinal Tagle  Sentil Pemimpin  Menggunakan Kekerasan

Kardinal Luis Antonio Tagle, uskup agung Manila memberkati daun palma pada Misa Minggu Palma. (Foto: Maria Tan)

Kardinal Luis Antonio Tagle, uskup agung  Manila  menyentil “raja-raja yang menggunakan kekerasan” untuk mengintimidasi yang lemah ketika ia memimpin perayaan Minggu Palma yang mengawali  Pekan Suci di Filipina.

Dalam homilinya saat Misa pagi untuk memberkati daun palma di Manila, prelatus itu mengkritik  para pemimpin yang “penuh kesombongan dan tanpa kerendahan hati.”

“Hari ini, banyak yang mengikuti raja yang menggunakan kekerasan, senjata dan intimidasi tetapi tanpa pemahaman dan kesatuan dengan mereka yang lemah,” kata uskup agung Manila.

Tanpa menyebut nama, Kardinal Tagle mendesak para pemimpin untuk meniru teladan Yesus Kristus tentang kerendahan hati dalam kepemimpinan.

“Raja kita tidak bergantung pada  senjata, pedang, atau peluru. Raja kita hanya percaya pada Tuhan,” kata prelatus itu.

Dia mengatakan “otoritas sejati” berasal dari “Pribadi yang tenang dan keheningan seseorang yang percaya kepada Tuhan dan yang berada dalam solidaritas penuh dengan manusia yang berdosa.”

Kardinal mendesak umat Katolik mengambil kesempatan selama  Pekan Suci untuk mengenal Yesus lebih mendalam. “Mari kita fokus pada Yesus. Mari kita lihat dan mendengarkan Dia untuk mengenal-Nya lagi,” katanya. 

 

Duterte minta warga Filipina  membantu yang tertindas

Dalam pesan Pekan Suci-nya, Presiden Filipina Rodrigo Duterte meminta warga Filipina  membantu kaum tertindas.

“Mari kita ingat untuk selalu membantu dan mengangkat kaum  tertindas karena hanya melalui tindakan amal kita dapat menampakkan kehadiran Tuhan di antara kita,” kata presiden.

Dia juga menyerukan persatuan di kalangan  warga Filipina untuk dapat “membangun bangsa yang benar-benar adil dan inklusif di mana semua orang dapat menikmati kehidupan  layak dan nyaman.”

Presiden mengatakan kebangkitan Kristus juga harus menjadi pengingat bagi warga Filipina bahwa negara “layak mendapat keselamatan dari penyakit sosial” seperti narkoba, kriminalitas dan korupsi.

Kelompok HAM mengklaim “perang melawan narkoba” Duterte telah mengakibatkan ribuan orang yang diduga pengguna  dan pengedar narkoba telah tewas.

Pekan Suci bukan tentang tradisi agama

Uskup Agung Socrates Villegas, seorang kritikus vokal terhadap kampanye anti-narkotika presiden, mengatakan Pekan Suci seharusnya tidak hanya tentang tradisi agama dan praktik iman.

“(Pekan Suci) adalah tentang apa yang telah dilakukan Kristus bagi umat manusia,” kata prelatus itu, seraya  menambahkan  minggu ini “suci karena cinta.”

“Hanya cinta yang bisa membuat kita suci,” kata uskup agung Lingayen-Dagupan. Dia mengatakan seseorang dapat menunjukkan cinta dengan mengunjungi orang sakit selain dari Visita Iglesia.

“Dari pada menumpahkan darah Anda di jalanan, mengapa tidak masuk ke kantor Palang Merah dan menyumbangkan darah? Pilih untuk berbagi kehidupan. Bagikan darah Anda,” katanya.

“Apakah kita perlu berjalan tanpa alas kaki sampai sol kita aus sebagai bentuk penebusan dosa kita?” tanyanya.

“Mengapa Anda tidak membeli sepasang sandal dan memberikannya kepada seorang anak yang pergi ke sekolah sambil menyeret alas kakinya yang robek?” tambah prelatus itu.

Para pemuda dengan  bertelanjang kaki dalam perjalanan menuju  salah satu stasi Jalan Salib di bawah panas  matahari.

 

Libur selama sepekan bagi warga  Filipina

Pekan Suci telah menjadi kesempatan bagi keluarga Filipina untuk berlibur dari tempat kerja dan sekolah.

Ribuan orang dari kota-kota biasanya pergi ke daerah  untuk Misa Kamis Putih dan Jumat Agung.

Pemerintah telah menyatakan hari Kamis dan hari Jumat sebagai  libur nasional, meski demikian banyak perusahaan swasta mengizinkan karyawan  mengambil cuti sejak Rabu.

Pada Kamis Putih, orang-orang Filipina menghadiri Misa perjamuan terakhir sebelum Paskah, yang ditandai dengan pembasuhan  kaki para rasul.

Visita Iglesia atau kunjungan ke gereja-gereja dimulai setelah ritual Kamis Putih. Orang mengunjungi setidaknya tujuh gereja di sekitar kota itu, untuk merenungkan Jalan Salib.

Tablo Jalan Salib yang disebut Senakulo dipentaskan di banyak kota pada sore hari, diikuti oleh prosesi umat dan flagellant yang kadang-kadang telah terpaku pada salib.

Seminggu penuh melantunkan narasi kehidupan, penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus,  juga merupakan atraksi di kota-kota besar dan kecil.

Minggu Paskah dimulai dengan prosesi pagi dan diakhiri dengan pesta dan piknik yang diisi dengan nyanyian dan tarian untuk merayakan kebangkitan Yesus.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi