UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Para Pemimpin di India Kutuk Teror Atas Nama Agama

Maret 28, 2018

Para Pemimpin di India Kutuk Teror Atas Nama Agama

Seema (kiri) dan keluarganya dari Amritsar, Negara Bagian Punjab, bereaksi menyusul adanya konfirmasi bahwa suaminya termasuk dalam jenazah 39 buruh bangunan asal India yang ditemukan di makam bersama di Irak. (Foto: Narinder Nanu/AFP)

Ketika pemerintah di India terus melakukan upaya untuk memulangkan jenazah 39 warga negara India yang dibunuh oleh ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) di Irak, para tokoh agama mengutuk teror atas nama agama.

Jenazah para buruh migran itu akan tiba di India akhir Maret nanti karena proses hukum membutuhkan waktu hingga 10 hari, kata Wakil Menteri Luar Negeri V.K. Singh kepada media segera setelah kematian para buruh migran itu diberitakan.

Menteri Luar Negeri Sushma Swaraj mengonfirmasi kematian para buruh migran tersebut kepada media pada Selasa (20/3). Ia mengatakan tes DNA mengidentifikasi 38 dari 39 korban yang diculik di Mosul empat tahun lalu.

Segera setelah Mosul dibebaskan tahun lalu dari ISIS, pemerintah Irak mulai melakukan operasi pencarian. Sampel DNA dari banyak jenazah cocok dengan beberapa buruh migran yang hilang, kata Swaraj kepada anggota parlemen.

Uskup Theodore Mascarenhas, sekretaris jenderal Konferensi Waligereja India, menyebut kabar tentang pembunuhan itu tragis.

“Tidak ada agama di dunia yang mengajarkan penganutnya untuk membunuh orang lain dan jika ada agama yang mengajarkan penganutnya untuk membunuh orang lain, itu bukan agama,” katanya kepada ucanews.com, Senin (26/3).

Media di India melaporkan bahwa 40 buruh migran diculik, tetapi satu buruh migran berhasil meloloskan diri.

Manish Sharma, aktivis hak asasi manusia (HAM) di New Delhi, mengatakan buruh migran yang berhasil meloloskan diri itu memalsukan identitasnya dan mengatakan kepada para penculiknya bahwa namanya Ali dan ia seorang Muslim. Para penculik pun melepasnya.

Sharma mengatakan kasus itu “membuka semua kotak Pandora bahwa pembunuhan itu dilakukan atas nama agama.”

Media atau pejabat di India belum mengungkap identitas agama dari para buruh migran yang hilang, tetapi spekulasi menyebutkan bahwa sebagian besar dari mereka yang meninggal beragama Hindu, atau setidaknya non-Muslim, karena klaim dari buruh migran yang berhasil meloloskan diri menyebutkan bahwa identitas agama Islam-nya membantunya bebas.

Molvi Azhar Amin, cendekiawan dan anggota Noor-e-Islam, mengatakan kepada ucanews.com bahwa berita pembunuhan itu mengejutkan seluruh dunia Islam.

“Kelompok pinggiran seperti ISIS ini telah merendahkan Islam yang mengajarkan toleransi, persaudaraan dan persatuan di kalangan umat manusia dari berbagai agama. Umat Islam sedih dengan aksi sadis dan tidak manusiawi seperti itu dan mengutuk mereka,” katanya.

Molvi Ghulam Ali Gulzar, pengkotbah Muslim yang tinggal di Kashmir, mengatakan pembunuhan itu menunjukkan wajah tidak manusiawi dari ISIS dan mengoyak hati nurani semua umat Islam.

“Bagaimana mungkin aksi brutal seperti itu dibenarkan? Tidak ada satu kata pun dalam Islam yang membenarkan pembunuhan terhadap manusia yang tidak berdosa. Apa yang dilakukan ISIS melukai Islam dalam segala cara,” katanya.

Ia mengatakan nabi Islam sudah meramalkan akan ada anak-anak muda yang mendaraskan Alquran tetapi dicuci otaknya.

“Nabi itu mengatakan orang-orang ini akan membunuh manusia atas nama Islam. ISIS melakukan hal yang sama persis,” Molvi Gulzar kepada ucanews.com.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi