UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Biarawati Katolik di India Angkat Martabat Perempuan di Kawasan Kumuh

April 4, 2018

Biarawati Katolik  di India Angkat Martabat Perempuan di Kawasan Kumuh

Suster Grace Kollencherry (tengah), yang bekerja untuk memberdayakan kaum perempuan di sebuah kawasan kumuh di Rajkot, India bagian barat, bersama dua suster yunior. (Foto: Saji Thomas/ucanews.com)

Ketika anak-anak seusia dia belajar di sekolah dan bermain-main, Rukshana Asharf menikah pada usia 14 tahun.

Ashraf, 31,  mengatakan bahwa dia “mengalami seperti di  neraka” selama dekade pertama pernikahannya sampai dia bertemu dengan beberapa biarawati Katolik enam tahun lalu di Parsana Nagar, sebuah pemukiman bagi pekerja rumah tangga (PRT) di pinggiran Rajkot, Negara Bagian Gujarat,  India barat.

Pada tahun-tahun awal pernikahannya, Ashraf mengatakan dia berada di bawah tahanan rumah yang sesungguhnya.  “Saya tidak diizinkan keluar dari rumah dan keluarga suami saya tidak mengizinkan saya berbicara dengan tetangga,” kata ibu dua anak ini.

“Situasinya sangat menyedihkan bahkan  berbicara dengan saudara laki-laki dan ayah saya, saya memerlukan izin dari suami atau mertua saya, yang mengawasi semua kegiatan saya seolah-olah saya adalah pencuri atau penjahat.”

Situasi mulai berubah setelah Ashraf bertemu dengan beberapa biarawati Katolik, yang mengunjungi rumahnya  tahun 2006 sebagai bagian dari program pemberdayaan perempuan mereka.

Mereka menjelaskan kepadanya tentang perlunya kemandirian sehingga dia bisa melawan  beberapa pelecehan yang dapat dialami seorang wanita dalam sebuah keluarga.

“Awalnya saya takut tetapi secara bertahap mulai  memiliki  keberanian untuk mengikuti kata-kata mereka,” katanya.

Para Biarawati  dari suster – suster Devapriaya (saudara-saudari tercinta), sebuah kongregasi lokal yang didirikan oleh Uskup Emeritus Gregory Karotemprel dari Keuskupan Rajokot, bertujuan  membantu para wanita miskin memiliki kesadaran yang lebih besar akan hak-hak mereka dan menawarkan pelatihan dan petunjuk  tentang bagaimana cara mendapatkan penghasilan.

Setelah lebih dari 10 tahun, Ashraf mengatakan dia mendapat banyak manfaat dalam hubungannya dengan para biarawati. “Hari ini saya sangat bahagia. Saya memutuskan sendiri apa yang ingin saya lakukan, daripada menerima pesanan dari orang lain, dan juga bisa  mengurus keluarga saya,” katanya.

Asharf mendapat penghasilan bulanan 3.000 rupee (US $ 50) dari pekerjaan sulaman yang ia pelajari dengan bantuan para biarawati tersebut.

Suaminya, yang bekerja sebagai sopir, tidak keberatan dengan pekerjaannya karena mendatangkan penghasilan tambahan. Mertuanya juga tidak mempermasalahkan karena “uang dari pekerjaan saya dipakai untuk kebutuhan semua yang ada di dalam rumah.

Asharf mengatakan dia menikmati kebebasan, pekerjaan dan rasa hormat dia dapatkan sekarang di dalam keluarga dan masyarakat.

Mgr Karotemprel, yang mendirikan kongregasi ini  tahun 1989, mengatakan para biarawati telah membantu “ribuan pekerja rumah tangga yang tak bersuara” seperti Asharf untuk menemukan “tempat dan nilai mereka dalam keluarga dan masyarakat mereka.”

Uskup berusia 84 tahun itu mengatakan ia mendirikan kongregasi ini untuk membantu perempuan miskin di sebuah keuskupan yang baru berkembang.

“Ribuan orang tinggal di daerah kumuh. Kami ingin membantu mereka,” kata Mgr  Karotemprel dari Ordo  Karmel Maria  Tak Bernoda (CMI).

Suster Grace Kollencherry, 47, yang telah menjadi bagian dari program pemberdayaan perempuan sejak dimulai  tahun 1998, mengatakan para biarawati menawarkan kelompok-kelompok swadaya dan kelas-kelas perempuan untuk pemberantasan kemiskinan, kebersihan dan penghasilan pendapatan.

“Kami berhasil menciptakan kesadaran di kalangan wanita  mengidentifikasi potensi mereka sehingga mereka dapat membantu meningkatkan kehidupan mereka dan juga keluarga mereka,” kata Suster Kollencherry.

Dalam 20 tahun terakhir, para Suster Devapriaya telah “mengubah kehidupan ribuan wanita miskin dan memperbaiki kondisi hidup mereka,” kata biarawati itu.

Salah seorang wanita, Rajeshwari Goswamy, mengatakan kepada ucanews.com bahwa dia bekerja sebagai pembersih sekolah tetapi juga menjadi “pemimpin wanita” di daerah kumuh tempat dia tinggal.

Ibu dari dua anak berusia 32 tahun itu mengatakan para biarawati itu membuat perbedaan nyata dalam kehidupan wanita dengan membantu mereka memahami bahwa mereka bukan “hewan domestik” yang dikurung untuk pekerjaan rumah tangga.

“Para suster mengajarkan saya untuk membela hak kami dan mendekati pihak berwenang ketika hak kami ditolak,” kata Goswamy  kepada ucanews.com.

Uskup Rajkot Mgr Jose Chittooparambil mengatakan para biarawati berfokus pada pengembangan semua potensi orang di daerah mereka, terutama orang miskin. Mereka tidak mendiskriminasi siapapun berdasarkan agama mereka, katanya.

“Upaya Gereja telah membawa perubahan yang sangat positif bagi para wanita tetapi kita perlu melakukan lebih banyak untuk membuat semua orang lebih mandiri,” kata Uskup Chittooparambil.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi