UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Warga Desa di Vietnam Hidup Menderita Akibat Polusi Air

April 6, 2018

Warga Desa di Vietnam Hidup Menderita Akibat Polusi Air

Nguyen Trung Hieu menggunakan kaleng untuk mencari air berlumpur untuk kebutuhan sehari-hari dari sebuah sawah di Propinsi Thua Thien Hue. (Foto: ucanews.com)

Saat ini adalah musim kemarau di Vietnam. Namun persediaan air hujan yang dikumpulkan tahun lalu oleh Mary Ho Kan Nuon semakin menipis.

“Kami hanya menggunakan air hujan untuk memasak dan minum karena air hujan adalah air terbersih dan merupakan komoditas berharga di wilayah ini,” kata ibu empat anak dari etnis minoritas Ta Oi itu.

Keluarganya dan warga desa lain harus berjalan lebih dari dua kilometer melewati hutan untuk mandi dan mencuci pakaian di sebuah kolam. Kolam ini terbentuk oleh ledakan bom yang terjadi pada 1970-an selama Perang Vietnam.

Desanya dihuni oleh 46 kepala keluarga (KK). Desa ini terletak di Distrik A Luoi, Propinsi Thua Thien Hue.

Sejak beberapa tahun terakhir, mereka tidak bisa menggunakan air dari sungai yang mengalir melewati desanya untuk kegiatan sehari-hari karena polusi.

Sungai itu sangat bau karena limbah cair dari sebuah rumah sakit. Bahkan warga sekitar membuang sampah ke sungai itu.

Pusat Riset Lingkungan Hidup dan Komunitas melaporkan baru-baru ini bahwa kualitas air di sebagian besar sungai dan danau di Vietnam menurun drastis. Ini merusak kesehatan warga setempat.

Juga dikatakan bahwa sungai yang terletak di sekitar Ibukota Hanoi telah menjadi saluran air “berwarna hitam” dan berbau menyengat.

Sampah beracun, pestisida dan pupuk kimia menjadi sumber polusi akibat pesatnya urbanisasi dan industrialisasi dalam tiga dekade terakhir lalu.

Sungai Luong Thinh di Propinsi Yen Bei tercemar oleh pertambangan. (Foto: ucanews.com

 

Keprihatinan akan Penyakit Menguat

“Kami sangat prihatin dengan kesehatan kami yang terdampak oleh air yang tercemar,” kata Mary Tran Thi Ngoc Hien dari Kota Nghia Lo di Propinsi Yen Bai.

Hien, 40, mengatakan setiap hari sekitar 30 ton sampah dari kota itu dibuang di bukit dekat kawasan pemukiman. Rumahnya berjarak hanya 500 meter dari tempat pembuangan sampah itu.

Pembakaran sampah juga menghasilkan asap hitam.

Ibu dari dua anak itu mengatakan selama musim hujan sampah mengalir menuju lahan pertanian dan kolam ikan. Kolan ikan juga mengotori sumber air.

Banyak warga masyarakat termasuk orang muda meninggal akibat kanker. Hal ini bisa dikaitkan dengan polusi air dan lainnya.

Nguyen Trung Hieu, 14, berasal dari Propinsi Thua Thien Hue. Ia menggunakan pipa air yang terbuat dari besi untuk menyalurkan air dari saluran irigasi di dekat rumahnya. Namun lama-kelamaan, pipa air itu mengandung endapan lumpur dan pasir.

Sekitar 13.000 penduduk harus membeli air atau mencari air dari saluran irigasi karena sumur di wilayah itu telah terkontaminasi.

Menurut Hieu, ia dan ibunya – seorang pengumpul barang bekas – harus mengeluarkan uang 80.000 dong (sekitar 3,5 dolar AS) dalam sebulan untuk membeli botol air untuk minum dan memasak.

Bantuan Gereja

Pastor Paul Nguyen Ngoc Vinh dari Phu Xua di Vietnam bagian tengah telah membuatkan 20 sumur untuk warga setempat.

“Tidak ada aliran air, maka mereka harus naik sepeda sejauh beberapa kilometer sambil membawa air bersih,” katanya.

Imam itu telah berkoordinasi dengan sejumlah pakar lingkungan hidup untuk menginstruksikan warga masyarakat tentang cara membuang sampah dan benda-benda beracun secara benar dan bukan membuangnya ke sungai.

Ia mengatakan Caritas Keuskupan Agung Hue membagikan alat penyaring air.

Suster Anna Nguyen Thi Thu Hong dari Kongregasi Puteri-Puteri Penampakan Santa Maria mengatakan tiga kongregasi mengelola sistem penyaringan air bagi ribuan warga desa dan warga kota.

Ia mengatakan orang miskin diberi air bersih secara gratis. Dana diperoleh dari orang lain yang membeli 20 liter air dengan harga 8.000 dong.

Di wilayah yang tidak memiliki persediaan air yang memadai, katanya, beberapa orang membangun tangki untuk mengumpulkan air hujan.

Nguyen Thi Lai, seorang jahit, harus mengeluarkan biaya sekitar tujuh juta dong (sekitar 307 dolar AS) untuk membangun tangki air.

Suster Hong mengatakan warga masyarakat perlu lebih menyadari akan pentingnya melindungi lingkungan mereka termasuk sumber air.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi