UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Sekolah Minggu akan Jadi Pendidikan Wajib di Sri Lanka

April 10, 2018

Sekolah Minggu akan Jadi Pendidikan Wajib di Sri Lanka

Sekelompok guru Sekolah Minggu di Keuskupan Agung Kolombo menerima pelatihan pada 2017. (Foto: ucanews.com)

Sri Lanka tengah menanti persetujuan kabinet atas sebuah usulan agar Sekolah Minggu menjadi pendidikan wajib bagi siswa berusia 6-19 tahun dari semua agama setelah Kementerian Agama Kristen meminta respon dari sejumlah imam Katolik terkait usulan tersebut.

Pastor Piyal Janaka Fernando, direktur Pusat Kitab Suci dan Pendidikan Kateketik Nasional, menyampaikan respon para imam kepada pemerintah.

Menurut laporan media, pejabat pemerintah mendekati para imam yang memiliki pengalaman terkait Sekolah Minggu dan merencanakan akan menjadikan Sekolah Minggu sebagai pendidikan wajib bagi siswa beragama Buddha, Hindu dan Katolik serta agama-agama lain.

Usulan itu disampaikan pada 2017 oleh Kardinal Malcolm Ranjith dan ketua para biksu menyusul serangkaian aksi protes menentang pelajaran ekstrakurikuler yang diadakan pada hari Minggu.

Kardinal Ranjith bahkan menyurati presiden Sri Lanka dan mendesaknya agar les privat dilarang dilakukan pada hari Minggu mulai pukul 06.00-14.00 agar tidak berbenturan dengan Sekolah Minggu.

Banyak guru les privat bekerja pada akhir pekan. Biasanya mereka mengajarkan mata pelajaran sekular agar mendapat penghasilan tambahan menjelang ujian sekolah karena kuialitas pendidikan meningkat setiap tahun.

Gereja Katolik memiliki 1.155 Sekolah Minggu, lebih dari 13.000 guru dan hampir 202.000 siswa di 12 keuskupan.

Naskah akademik dari kabinet akan disampaikan nanti kepada sejumlah menteri yang menangani semua agama agar bisa mengimplementasikan sekolah enam hari dengan fokus pelajaran agama pada hari Minggu, kata Menteri Agama Buddha Gamini Jayawickrema Perera.

Pernyataannya disampaikan pada sebuah pertemuan di Kurunegala, ibukota Propinsi Barat Utara, pada 29 Maret.

Langkah itu bertujuan untuk menanamkan kedisiplinan dalam diri anak muda, lanjutnya.

Pemerintah hendaknya memberi nilai lebih kepada para siswa yang menghadiri Sekolah Minggu, kata Pastor Fernando.

“Nilai diperoleh dari hasil ujian Sekolah Minggu dan kehadiran siswa. Semua akan menjadi pertimbangan ketika mereka melamar pekerjaan atau mendaftar di perguruan tinggi,” katanya.

“Pemerintah hendaknya melarang les privat pada hari Minggu dan pada hari ‘Poya’ dan mendorong anak-anak agar menghadiri Sekolah Minggu,” lanjutnya.

Hari Poya adalah hari libur yang biasanya bertepatan dengan bulan purnama. Artinya tanggal hari libur ini berubah setiap tahun. Perayaan hari libur ini merupakan kegiatan keagamaan besar bagi umat Buddha.

Pastor Fernando mengatakan semua siswa hendaknya dipaksa untuk mengikuti ujian akhir Sekolah Minggu agar mereka bisa diterima di perguruan tinggi.

“Pemerintah hendaknya mendorong media massa untuk mengadakan program khusus untuk Sekolah Minggu,” katanya.

“Mereka yang berhasil menyelesaikan ujian Dharmacharya (Buddha) hendaknya juga direkrut sebagai guru di sekolah-sekolah milik pemerintah,” katanya kepada ucanews.com, seraya merujuk pada jenjang studi agama Buddha yang diberikan oleh sejumlah perguruan tinggi milik pemerintah.

Pastor Fernando mengatakan Komisi Kateketik dan Kerasulan Kitab Suci mengajukan sebuah dokumen kepada Kementerian Agama Kristen pada akhir Maret lalu dengan semua persyaratan tersebut.

Komisi ittu juga meminta pemerintah untuk membuat perpustakaan yang berisi buku-buku agama di semua paroki.

Selain itu, komisi itu meminta agar buku pelajaran Sekolah Minggu dicetak di seluruh negeri itu sebagai kurikulum bersama.

Ketika Kardinal Ranjith mengimbau agar les privat dilarang, argumen yang disampaikannya kepada para tokoh agama adalah bahwa hal ini merugikan bagi pendidikan spiritual siswa karena mereka tidak bisa mengikuti Sekolah Minggu.

Ayoma Nirudhi, seorang guru Sekolah Minggu di Kolombo, memuji langkah itu dan menyebutnya sebagai cara produktif untuk meningkatkan level kehadiran siswa.

“Angka kehadiran siswa pada Sekolah Minggu saat ini tidak memuaskan karena banyak siswa mengikuti les privat pada Hari Minggu dan hari libur,” katanya.

“Sekolah Minggu menanamkan kedisiplinan dalam diri anak muda. Ini baik bagi negeri ini dan memperkuat komitmen mereka akan iman Kristiani,” lanjutnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi