UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

PLTG Picu Kekhawatiran akan Polusi di Banglades

April 11, 2018

PLTG Picu Kekhawatiran akan Polusi di Banglades

Nelayan di Sungai Pashur di dekat Sundarbands, hutan bakau terbesar di dunia yang terletak di Banglades bagian selatan. (Foto: Stephan Uttom)

Keputusan pemerintah Banglades untuk mengijinkan pembangunan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) di dekat hutan bakau di Sundarbans memunculkan pertentangan dari sejumlah aktivis lingkungan hidup.

Energypac mengajukan ijin pembangunan pembangkit listrik tenaga LPG (liquefied petroleum gas) pada 2012 dan menerima persetujuan pada tahun yang sama. Persetujuan akhir dari Divisi Energi diberikan pada 14 Januari 2018.

PLTG akan memproses gas alam dan mengubahnya menjadi LPG untuk dijual di pasar-pasar guna memenuhi kebutuhan rumah tangga, hotel, restoran dan industri.

Pembangunan PLTG tengah berlangsung. Menurut rencana, gas LPG mulai masuk ke pasar-pasar tahun ini.

PLTG akan memproduksi 3.000 metrik ton gas per bulan. Secara perlahan-lahan, produksi akan ditingkatkan menjadi 5.000 metrik ton.

PLTG juga telah membangun sebuah pabrik yang bisa menghasilkan 100.000 tabung gas LPG ukuran 12 kilogram per bulan. Selain itu, tahun ini perusahaan  akan memasarkan 500.000 tabung gas dan telah mulai membangun 300 pusat atau distributor LPG di seluruh negeri itu.

Sejumlah aktivis khawatir bahwa PLTG yang terletak sekitar 11 kilometer dari hutan bakau itu akan menimbulkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki terhadap lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati. Kekhawatiran lain adalah bagaimana kapal yang mengangkut bahan bakar beracun menuju dan dari PLTG itu akan mencemari sungai yang mengalir melewati hutan bakau tersebut.

Sundarbands – Situs Warisan Dunia UNESCO dan lahan basah yang dilindungi di bawah konvensi Ramsar – sudah berada dalam bahaya akibat pembangunan dua pembangkit listrik tenaga batubara yang terletak 14 kilometer dari hutan bakau itu.

Sanjeeb Kumar Mondal, staf pengembangan dan konservasi ekologi dari Caritas Khulna, mengkritisi persetjuan pembukaan PLTG itu.

“Dengan mengijinkan pembangkit listrik ini, pemerintah mendorong industri untuk membangun pabrik di sekitar Sundarbans, dan kini sebuah pembangkit listrik tenaga gas akan menambah jumlah industri,” katanya kepada ucanews.com.

“Jika ini terus berlangsung, Sundarbans tidak akan bertahan. Dan tanpa Sundarbans, keseimbangan ekologis akan hancur dan banyak wilayah di pesisir selatan Banglades akan tenggelam,” lanjutnya.

Sundarbands terbentang antara Banglades dan India. Namun bagian terbesar masuk wilayah Banglades. Sundarbands menjadi mata pencaharian bagi sejuta orang yang hidup di wilayah sekitar dan benteng alam bagi 40 juta orang yang rentan terhadap bencana alam seperti angin topan di wilayah pesisir Banglades.

Baru-baru ini, hutan bakau tersebut terancam oleh polusi udara dan air akibat pembangunan perumahan dan industri.

Sharif Jamil, sekretaris kelompok lingkungan hidup – Bangladesh Poribesh Anolon, mengutuk aksi pemerintah.

“Hutan bakau itu sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan – palung sungai tertimbun lumpur, erosi sungai meningkat, dan spesies burung dan binatang langka mulai punah,” katanya.

“Sundarbands pelan-pelan mendekati kematian. Wilayah pesisir pun mati juga,” lanjutnya.

“Pembangkit listrik dan rencana pembangunan PLTG itu akan perlahan-lahan menghancurkan Sundarbands, benteng dan aset alam kita,” katanya.

Pembangunan pembangkit listrik tenaga batubara memicu serangkaian aksi protes dalam beberapa tahun terakhir, Juga muncul tuduhan bahwa peraturan lingkungan diabaikan agar bisa memberikan ijin bagi pembangunan pembangkit listrik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi