UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Penduduk Desa Vietnam Terus Mempertahankan Tradisi Penghormatan Air

April 12, 2018

Penduduk Desa Vietnam Terus Mempertahankan Tradisi Penghormatan Air

Pastor Francis Xavier Le Tien memberkati air Selma Lisa Malam Paskah di paroki Kon Hring pada 31 Maret. (Foto: Anna Nguyen)

Gabriel A Kieu, neorang katekis, bangga menjaga tempayan air Paskah yang ditempatkan di bawah altar di rumahnya.

“Kendi  air Paskah melambangkan Kristus Bangkit bersama kita,” kata Kieu, seorang etnis Se Dang dari desa Kon Dau Yop, provinsi Kon Tum, Dataran Tinggi Tengah Vietnam.

Penduduk desa membawa tempayan  berisi 20 liter air Paskah sejauh  lima kilometer dari pastoran Kon Hring ke rumah Kieu setelah mengikuti Misa Malam Paskah pada 31 Maret.

Selama upacara di alam terbuka yang dihadiri oleh 5.000 umat, Pastor Fransiskus Xaverius Le Tien, kepala  paroki Kon Hring, mencelupkan  lilin Paskah ke dalam 15 tempayan  dan mengangkatnya kembali sementara itu dia memberkati  air-air itu.

Sebelum Misa, penduduk desa menghiasi tempayan  air dengan bunga dan pita warna-warni dan menempatkannya di tempat suci.

“Kristus Yang Bangkit adalah air kehidupan. Kita membawa air ke desa-desa kita sehingga kita dapat memiliki kehidupan yang lebih baik sebagaimana Kristus mewartakan kepada kita,” demikian kotbah Pastor Tien di hadapan umat yang hadir.

Kemudian seluruh umat yang hadir dengan lilin di tangan antri sesuai desa mereka dan berbaris di belakang lilin Paskah dan tempayan air Paskah yang dibawa oleh anak-anak misdinar.

Kieu, 53, mengatakan penduduk desa membawa tempayan ke desa mereka dan menaruhnya di kapel. Kampungnya tidak memiliki kapel sehingga orang menaruh tempayan   itu di rumahnya, tempat warga desa berkumpul setiap hari untuk berdoa dan merayakan Misa bulanan yang dipimpin oleh pastor paroki.

Paroki yang berusia 127 tahun dengan sekitar 10.000 etnik Se Dang dan 500 etnis Kinh terdiri dari 15 desa.  Sebagian besar menggantungkan  hidup  dengan menanam padi, karet, kopi dan tanaman lainnya.

Beberapa desa memiliki kapel, sementara yang lain tidak memiliki kapel dan umat  harus berkumpul di rumah keluarga untuk berdoa.

 

Istri Kieu, Y Thoan, mengatakan penduduk desa menggunakan air suci untuk pembaptisan, pemberkatan rumah baru, kuburan, dan pelayanan lainnya.

“Kami menganggap air Paskah yang memberi makan jiwa kami sementara air biasa digunakan untuk kehidupan raga kami,” katanya.

Kieu mengatakan leluhur memberi persembahan kepada dewa air. Sebelum musim hujan tiba, mereka membersihkan rumput, pepohonan, dan sampah di sekitar sumber air tanah dan sungai, dan mengganti pipa bambu lama.

Mereka membunuh ternak dan meminta dukun untuk mempersembahkan kepada dewa air.

Ketika para misionaris asing memperkenalkan agama Katolik ke desa-desa pada abad ke-19, mereka mendorong penduduk desa berhenti mempersembahkan ternak kepada dewa air. “Sebaliknya, para misionaris memberkati sumber-sumber air pada Tahun Baru dan menempatkan salib pada sumber-sumber air utama di desa itu yang mengingatkan mereka akan Kristus, sumber air kehidupan,” kata katekis itu.

Penduduk desa juga mengambil air dari sumber-sumber air pada Malam  Paskah baru-baru ini.

Kieu, ayah dari 10 anak, mengatakan saat perang Vietnam semua fasilitas paroki  termasuk gereja tua dirusak oleh bom dan umat Katolik melindungi sumber air dan mempraktikkan iman tanpa imam selama bertahun-tahun.

Dalam beberapa tahun terakhir, para imam mengembalikan  tradisi itu. Mereka setiap tahun memberkati sumber air di tahun baru dan menempatkan salib baru di sumber air itu.

Sejak tahun 2014 Pastor Tien meminta warga desa dengan sungguh-sungguh membawa lilin Paskah dan air dalam prosesi ke desa-desa mereka.

Kieu mengatakan, tradisi itu mengingatkan umat  menghormati dan melindungi sumber air dan lingkungan sekitarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, penduduk desa menanam pohon buah-buahan di area tanah yang gersang dan tidak subur sebagai cara  menghijaukan lingkungan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi