UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pemimpin Lintas Agama Berjanji Melawan Kebencian dan Kekerasan

April 16, 2018

Pemimpin Lintas Agama Berjanji Melawan Kebencian dan Kekerasan

Para pemimpin lintas agama dari Hindu, Muslim, Kristen, Sikh, Jain dan Buddha berpegangan tangan setelah resolusi mereka dibacakan untuk mempromosi kerukunan antaragama di Indore.

Lebih dari 1.500 pemimpin lintas agama di India mengakhiri pertemuan yang berlangsung dua hari dengan memutuskan untuk mengajari umat mereka dengan ajaran-ajaran sejati dari agama mereka masing-masing untuk mengurangi peningkatan kebencian dan kekerasan berbasis agama.

Perwakilan dari berbagai agama  Hindu, Muslim, Kristen, Sikh, Jain dan Buddha  serta  trangender menghadiri acara itu pada 11-12 April di Indore. Kegiatan itu diselenggarakan  oleh tiga organisasi yang bekerja sama untuk kerukunan umat beragama.

“Kami melihat peningkatan kekerasan sektarian di negara ini dan belum menemukan solusi. Mereka yang menyebarkan kekerasan bukanlah orang yang beragama. Mereka tidak memahami ajaran agama mereka,” kata Adil Sayeed, salah satu penyelenggara.

Dia mengatakan orang menyebarkan kebencian tentang agama karena alasan politik dan keuntungan pribadi. “Orang-orang ini mencomot ajaran dan tradisi yang cocok untuk menyebarkan kebencian, dan orang-orang biasa yang sederhana terbujuk untuk mengikuti ajaran yang menyimpang seperti itu. Ini mengarah pada intoleransi agama,” katanya.

Sayeed mengatakan para peserta dengan suara bulat setuju  mengajarkan pengikut mereka semangat otentik agama mereka karena tidak ada agama yang menganjurkan kebencian dan kekerasan sebagai jalan kemajuan spiritual.

India telah menyaksikan meningkatnya polarisasi agama sejak Partai Bharatiya Janata (BJP)  pro-Hindu berkuasa pada 2014. Ini memproyeksikan Hindu sebagai agama yang berkuasa, memperkuat kelompok Hindu untuk mempercepat tindakan mereka untuk mengubah India menjadi negara  hanya beragama Hindu.

Minoritas agama seperti Kristen dan Muslim telah mengeluh meningkatnya kekerasan terhadap umat mereka. Setidaknya 10 pria Muslim telah digantung dan banyak yang terluka oleh kelompok-kelompok Hindu, yang banyak di antaranya tampaknya beroperasi dengan dukungan BJP, kata  Amnesty India  dalam sebuah laporan awal tahun ini.

Lembaga Persecution Relief mencatat 736 serangan terhadap orang Kristen  tahun 2017, naik dari 348  tahun 2016.

Orang Kristen sering diserang karena tuduhan mengkristenkan umat Hindu. Masalah ini dibahas dalam pertemuan itu oleh Pater Jacob Corepiscopa, seorang imam dari Gereja Ortodoks Suriah Syria yang berbasis di Kerala yang sekarang bekerja di India tengah.

Dia menjelaskan dalam pertemuan itu bahwa orang Kristen sejati tidak akan “memaksa siapa pun untuk menjadi Kristen. Pekerjaan amal kita juga bukan  mengubah agama seseorang. Ini adalah cara kita berbagi cinta Kristiani dengan orang lain. Hal-hal seperti itu salah diartikan sebagai upaya kristenisasi,” kata pastor itu.

Sekitar 80 persen dari 1,3 miliar penduduk India beragama Hindu tetapi umat Islam berjumlah sekitar 14 persen atau 180 juta, menjadikan mereka minoritas agama terbesar. Meskipun orang Kristen hanya mencakup 2,3 persen, mereka adalah minoritas ketiga terbesar.

Ketika negara bersiap untuk pemilu berikutnya pada kuartal pertama 2019, partai-partai politik mulai memproyeksikan diri mereka sebagai pelindung kepentingan agama dan kasta dalam upaya mereka  mengumpulkan suara.

Pertapa Hindu Sadhvi Pragya Bharati mengatakan Hinduisme memiliki “cinta dan hormat khusus untuk wanita” dan “ruang untuk memasukkan semua orang.”

“Kami memberi nama sungai kami seturut nama wanita, dewi kebijaksanaan dinamai seorang wanita dan bahkan perang besar yang digambarkan dalam epos Mahabharata adalah untuk melindungi martabat seorang wanita,” katanya tanpa menyebut perkosaan dan pembunuhan baru-baru ini, terhadap gadis Muslim berusia delapan tahun oleh pria  Hindu di Jammu dalam serangan yang diduga sebagai balas dendam terhadap kelompok Muslim.

Pemimpin Muslim Sayyid Ali Muhammad Naqvi mengatakan para pemimpin agama yang seharusnya berbicara menentang kebencian kadang-kadang munafik karena gagal mengutuk kekerasan yang dilakukan atas nama agama mereka.

Perwakilan transgender Mahamandleshwar Laxminarayan Tripathy mengatakan agama telah mengeksploitasi manusia dengan dominasi laki-laki. “Mereka yang bertindak sebagai pemimpin mencoba memaksakan agama pada orang lain sesuai persepsi mereka daripada menyerap semangat aslinya. Kekeliruan ini mengarah pada kekacauan,” katanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi