UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pendeta Menduga Ada Aksi Kriminal Dalam Kebakaran Gereja di Pakistan

April 17, 2018

Pendeta Menduga Ada Aksi Kriminal Dalam Kebakaran Gereja di Pakistan

Sebuah Kitab Suci dan buku-buku lainnya yang terbakar di Gereja Injili Misi Yesus di Shahdara pada Senin (16/4) setelah kebakaran yang terjadi secara misterius. (Foto: Kamran Chaudry)

Kebakaran yang terjadi secara misterius telah menghancurkan sebuah gereja Protestan di Kota Shahdara, Pakistan. Di kota yang terletak dekat Lahore, ibukota Propinsi Punjab ini, berbagai aksi protes terkait penodaan agama terjadi dua bulan lalu.

Gereja Injili Misi Yesus terletak di perkampungan kumuh yang dihuni oleh umat Kristiani di kota tersebut.

Sisa-sisa Kitab Suci yang terbakar, sebuah tas kolekte dan alat musik bernama chimta tergeletak di dekat altar di dalam gedung yang setengah terbakar itu. Gedung gereja ini menjalani renovasi sejak lebih lebih dari tiga tahun lalu.

Pada Minggu (15/4), Pendeta Yousaf Aziz John mengajukan laporan kepada polisi di Shahdara. Di kota ini, sebuah perjanjian damai antara para ulama dan tokoh Kristiani ditandatangani pada 21 Februari setelah massa yang mengamuk memprotes Patras Masih, 18, yang diduga menyebarkan foto anti-Islam di Facebook.

“Kami ini komunitas miskin dan telah membangun Rumah Allah dengan donasi. Kami sangat yakin bahwa orang-orang yang tidak dikenal melakukan kejahatan itu. Kerugian mencapai sekitar 50.000 rupee (sekitar 430 dolar AS). Kami minta pemulihan segera bagi mereka yang terluka dari seluruh komunitas Kristiani,” katanya kepada ucanews.com.

Inspektur Polisi Rana Amir mengunjungi lokasi kejadian pada Senin (16/4) dan mencatat pernyataan dari komunitas itu.

“Departemen forensik mengumpulkan berbagai bukti pada malam yang sama. Sebuah laporan akan dirilis minggu ini untuk mengungkap penyebab kebakaran. Keamanan telah ditingkatkan di 14 gereja di Shahdara yang sudah melakukan registrasi di kepolisian, tapi tidak ada pasukan keamanan untuk menjaga gereja-gereja yang tidak terdaftar,” katanya.

Gereja-gereja yang tidak terdaftar dalam Departemen Auqaf yang mengawasi monumen keagamaan penting dan tempat-tempat suci dianggap ilegal oleh pemerintah. Pada Januari, Propinsi Khyber Pakhtunkhwa menutup tapi kemudian membuka kembali enam gereja rumah di Abbottabad.

Polisi telah memperingatkan bahwa mereka tidak akan bertanggungjawab atas kecelakaan yang terjadi pada saat kebaktian yang diadakan di perkampungan.

Gereja rumah bukan merupakan hal baru lagi di perkampungan kumuh yang dihuni oleh umat Kristiani dan wilayah sekitarnya, Youhanabad, pemukiman terbesar Kristiani di Pakistan, memiliki lebih dari 100 gereja yang tidak terdaftar. Gereja ini biasanya terdiri atas satu ruangan atau satu aula.

Khalid Shahzad, seorang aktivis Katolik yang tinggal di Shahdara, mengecam polisi karena mencatat kasus Shahdara sebagai kecelakaan kebakaran.

“Hanya vandalisme dan kehilangan properti yang menjadi prioritas dalam laporan polisi, Mereka dengan sengaja melewati Pasal 295 tentang penodaan agama yang menyangkut tindakan yang ditujukan untuk menodai agama atau keyakinan orang lain. Jalan keluar ini akan mempermudah pembayaran uang jaminan bagi tertuduh jika ditangkap,” katanya.

“Komunitas hidup dalam ketakutan setelah terjadi kasus penodaan agama baru-baru ini di desa sebelah,” lanjutnya.

Di tengah meningkatnya kekerasan agama di Pakistan, dua pria Kristiani ditembak mati di Quetta pada Minggu (15/4) saat mereka meninggalkan sebuah gereja.

Komisi Keadilan dan Perdamaian Konferensi Waligereja Pakistan mengutuk terjadinya serangan terhadap kelompok minoritas agama secara berulang-ulang.

“Adalah tanggung jawab negara untuk memberikan perlindungan dan keamanan bagi warga negaranya. Umat Kristiani adalah komunitas paling damai di Pakistan dan mereka telah diserang tanpa alasan. Pemerintah hendaknya segera memberi perhatian serius terhadap tren berbahaya yang tengah bermunculan ini dan dengan sepantasnya menyelidiki semua insiden ini dan membentuk komisi penyelidikan independen,’ demikian pernyataan komisi itu dalam siaran pers yang dirilis Senin (16/4).

“Insiden-insiden ini menunjukkan ketidakmampuan rencana aksi nasional untuk mengatasi ekstremisme dan intoleransi. Pemerintah harus memastikan bahwa para pelaku kejahatan yang mengerikan ini diadili. Lembaga penegak hukum hendaknya mengambil langkah-langkah efektif untuk mengatasi persekusi agama dan kelompok militan hendaknya tidak diijinkan beroperasi di negeri ini,” lanjut komisi itu.

Tariq Masih Gill, seorang anggota Majelis Propinsi, membacakan informasi pertama dari laporan polisi pada Senin (16/4) setelah gereja terbakar. (Foto: Kamran Chaudry)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi