UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Duterte Perintahkan Investigasi Aktivitas Biarawati Australia

April 20, 2018

Duterte Perintahkan Investigasi  Aktivitas Biarawati Australia

Para aktivis memegang foto-foto biarawati Australia Patricia Fox ketika mereka mengadakan protes di Manila untuk penghentian persekusi terhadap para aktivis HAM. (Foto: Jire Carreon/ucanews.com)

Presiden Filipina Rodrigo Duterte secara pribadi memerintahkan penyelidikan tentang  kegiatan biarawati Australia, Patricia Fox, karena “perilakunya tidak tertib” dan “pelanggaran kedaulatan.”

Suster  berusia 71 tahun itu ditangkap dan ditahan oleh petugas imigrasi pada 16 April.

Pihak berwenang menangkap biarawati itu  karena partisipasinya dalam unjuk rasa protes dan juga  dilaporkan “terlibat dalam kegiatan politik.”

Suster Fox bekerja di negara itu selama 27 tahun terakhir, sebagian besar waktunya  dihabiskan mengurusi petani miskin dan komunitas suku.

Pejabat imigrasi membebaskan  biarawati itu pada 17 April.

“Saya memerintahkan bahwa dia tidak dideportasi sekaligus, tidak ditangkap, tetapi diundang ke penyelidikan karena perilaku tidak tertib,” kata Duterte kepada tentara pada upacara militer di Manila pada 18 April.

Presiden mengatakan hanya orang Filipina yang berhak mengkritik pemerintahannya.

“Tetapi jika saya  dihina, meskipun  seorang biarawati Katolik dan kamu adalah orang asing, siapa kamu?” kata Duterte marah. “Jangan biarkan dia masuk karena biarawati itu tidak punya rasa malu! Kamu tidak punya hak untuk mengkritik kami.”

Presiden mengatakan, Suster Fox seharusnya memfokuskan perhatiannya pada masalah Gereja dan bagaimana pemerintah Australia menolak pengungsi.

“Anda terlalu sombong dalam memandang Filipina. Anda melakukan pelanggaran hak asasi manusia (di Australia) dan itu lebih buruk. Setidaknya di sini saya hanya membunuh penjahat,” kata Duterte.

Aktivis hak asasi manusia menyalahkan “perang total” pemerintahan Duterte terhadap narkoba hingga tewasnya ribuan pengguna dan pengedae narkoba yang dicurigai pada tahun lalu.

Presiden mengatakan dia akan secara pribadi memerintahkan penangkapan Suster Fox jika dia tertangkap sedang menyerang pemerintah dalam demonstrasi dan unjuk rasa protes.

Penganiayaan orang Gereja

Konferensi Waligereja Filipina dan Persekutuan Gereja-gereja di Filipina mengatakan bahwa penangkapan dan penahanan Suster Fox adalah “pukulan paling baru terhadap para pekerja Gereja dan lembaga agama.”

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada 19 April, Forum Pemimpin Gereja Ekumenis mencatat apa yang digambarkan oleh para uskup sebagai “kekerasan yang tak terkatakan” yang dilakukan terhadap orang-orang Gereja.

“Gereja  Filipina hidup dalam masa-masa sulit,” bunyi pernyataan yang ditandatangani oleh Uskup Deogracias Iniguez, mewakili Konferensi Wali Gereja Filipina dan Pemimpin Gereja Felixberto Calang mewakili Persekutuan Gereja – Gereja Filipina.

Para pemimpin Gereja itu mengatakan mereka “mengecam keras tindakan tidak masuk akal” ini yang diambil oleh pemerintah Filipina. “Kami menyatakan kemarahan atas perbuatan jahat ini,” ujar mereka lebih lanjut.

“Kami tidak dapat memahami mengapa orang-orang Gereja menjadi sasaran penganiayaan politik. Kapan telah menjadi penjahat karena menemani orang miskin dan tertindas dalam perjuangan mereka?” tulis pernyataan itu.

“Sejak kapan orang yang memberitakan Firman Allah dan menghidupi karya-karya Kristus menjadi sebuah kejahatan?”

Para uskup mengatakan apa yang terjadi pada Suster Fox “mengirim pesan yang mengerikan kepada semua orang,” terutama setelah pembunuhan pastor Katolik Marcelito Paez pada  Desember dan penangkapan dan penahanan pemimpin Gereja Protestan Carlo Morales tahun lalu.

“Penganiayaan terhadap orang-orang Gereja tidak hanya mengungkapkan pedang pemerintah yang lalim yang berusaha  menekan peran Gereja sebagai kompas moral masyarakat,” kata para uskup.

“Ini memberi pesan yang kuat betapa berbahayanya berbagai upaya  pemerintah (Duterte) untuk mengkriminalisasi perbedaan pendapat yang sah,” tambah mereka.

Para pemimpin Gereja kemudian menyerukan  umat beriman “dengan berani menolak kekerasan negara dan penindasan politik, dan terus membela dan bekerja dalam solidaritas dengan orang miskin, yang  dirampas dan ditindas.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi