UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat Katolik Diminta Berdoa Bagi Perdamaian Jelang Pertemuan Intra-Korea

April 20, 2018

Umat Katolik Diminta Berdoa Bagi Perdamaian Jelang Pertemuan Intra-Korea

Uskup Uijeongbu Mgr Peter Lee Ki-hyeon, ketua Komisi Rekonsiliasi Masyarakat Korea Konferensi Waligereja Korea, punya harapan tinggi akan upaya yang tengah dilakukan oleh Seoul dan Pyeongyang. (Foto: The Catholic Times)

Uskup Uijeongbu Mgr Peter Lee Ki-heon telah lama menantikan momen ketika para pemimpin Korea Selatan dan Korea Utara bertekad untuk bertemu dalam pertemuan tingkat tinggi di Korea Selatan pada 27 April nanti.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan Jumat (13/4) lalu, Ketua Komisi Rekonsiliasi Masyarakat Korea Konferensi Waligereja Korea itu menyampaikan keyakinannya bahwa pertemuan tingkat tinggi tersebut akan mengakhiri perselisihan yang telah terjadi selama beberapa dekade dan membuka era baru perdamaian di Semenanjung Korea.

“Saat ini Semenanjung Korea tengah memasuki masa pergolakan yang penting,” kata prelatus itu dalam pernyataannya yang berjudul “Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga.”

“Melalui pertemuan tingkat tinggi intra-Korea dan pertemuan antara Korea Utara dan Amerika Serikat (AS), pengharapan semakin bertumbuh bahwa konfrontasi dan perselisihan yang terjadi selama 65 tahun akan berakhir dan sebuah era baru perdamaian akan datang,” lanjutnya.

Setelah beberapa dekade menyusul Perang Korea yang berakhir dengan gencatan senjata, pertemuan itu akan menjadi pertemuan tingkat tinggi intra-Korea yang ketiga.

Pertemuan tingkat tinggi itu akan berlangsung setelah mantan Presiden Kim Dae-jung bertemu dengan “Pemimpin Terkasih” Kim Jong-il di Pyongyang pada 2000 dan setelah Roh Moo-hyun mengikuti jejak pendahulunya dengan mengunjungi ibukota Korea Utara pada 2007.

Namun kedua pertemuan tersebut tidak membuahkan hasil. Sementara upaya untuk menjalin hubungan baik berubah menjadi ancaman perang di tengah baku tembak di sepanjang Zona Demiliterisasi (ZD) yang memisahkan kedua negara itu.

Uskup Lee berharap pertemuan tingkat tinggi itu akan membawa hasil dengan dibantu oleh doa dari umat Katolik.

“Doa-doa kita menuntun pada mujizat luar biasa melalui perantaraan Allah yang membuat segala yang tidak mungkin menjadi mungkin,” katanya.

Gereja Katolik Korea menyatakan “tahun perdamaian pertama” pada 2015 ketika merayakan peringatan ke-70 tahun sejak perpecahan Korea. Dalam gerakan ini, umat Katolik bersatu dalam doa bagi perdamaian setiap hari pada pukul 21.00.

Uskup Lee juga meminta umat Katolik untuk bertekun dalam iman.

“Kita masih punya banyak hambatan yang perlu diatasi untuk dialog (diplomatik) mendatang . Silakan terus berdoa bagi perdamaian kekal di Semenanjung Korea. Solidaritas kita dalam doa akan menjadi landasan yang kuat bagi perdamaian,” katanya.

Ia memohon kepada umat Katolik agar mengevaluasi sikap “permusuhan” yang telah merasuk ke dalam masyarakat Korea sejak Perang Korea berakhir.

“Akibat era ‘Perang Dingin’ yang cukup lama di Korea, sikap permusuhan terhadap sesama mengakar kuat ke dalam masyarakat kita dan Gereja tidak terlepas dari momok ini,” lanjutnya.

“Perselisihan dan perpecahan yang terjadi di dalam masyarakat Korea Selatan merupakan hambatan besar bagi (keberhasilan) masa depan masyarakat Korea,” katanya.

Namun perubahan sudah dekat karena Korea Utara telah berjanji untuk bertemu pemimpin Cina, Korea Selatan dan AS setelah negara itu mengirim beberapa atlit untuk mengikuti Olimpiade Musim Dingin Pyeongyang.

Pertemuan tingkat tinggi mendatang menandakan pertama kalinya bagi seorang pemimpin Korea Utara untuk menapakkan kakinya ke wilayah Korea Selatan setelah beberapa dekade karena kepala dinasti Kim Jong-un akan bertemu Presiden (petahana) Moon Jae-in di Wilayah Keamanan Gabungan di sebelah selatan ZD.

Sementara itu, hubungan diplomatik mulai mencair secara diam-diam. Ini mengindikasikan adanya penurunan eskalasi yang sangat kuat setelah terjadi retorika selama beberapa bulan antara Kim dan Presiden AS Donald Trump karena keduanya saling mengancam untuk meluncurkan rudal.

Tidak lama kemudian, Kim melakukan kunjungan secara diam-diam untuk bertemu Presiden Cina Xi Jinping di Beijing pada minggu pertama April ini. Kunjungan ini merupakan kunjungan keluar Korea Utara yang pertama bagi Kim sejak ia mulai menjabat sebagai pemimpin.

Selain itu, Presiden Trump mengirim kepala CIA untuk bertemu Kim secara diam-diam beberapa hari setelahnya untuk melakukan pertemuan yang lebih signifikan antara Presiden Trump dan Kim. Menurut rencana, pertemuan ini akan berlangsung Mei nanti.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi