UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Seorang Biarawati Australia Membuat  Duterte Marah 

April 23, 2018

Seorang Biarawati Australia Membuat  Duterte Marah 

Suster Patricia Fox, Pemimpin Umum Kongregasi Suster-Suster Putri Sion di Filipina. (Foto: Mark Saludes)

Dia digambarkan sebagai wanita rapuh, tua, kurus dan lemah, tetapi dia memaksa pemimpin Filipina  berbicara di depan publik.

“Kamu siapa?” Presiden Rodrigo Duterte marah. “Kamu tidak punya hak untuk mengkritik kami …. Hanya karena kamu seorang biarawati?

Presiden bahkan mengakui bahwa dia secara pribadi memerintahkan penyelidikan atas kegiatan Suster Patricia Anne Fox.

Siapa sebenarnya biarawati Australia berusia 71 tahun yang penahanannya memonopoli berita utama di Manila?

Suster Pat, begitu biasanya teman-temannya memanggil dia, berasal dari Kongregasi Suster-suster Putri Sion yang telah bekerja di Filipina sejak tahun 1990.

Marie Theodor Ratisbonne dan saudaranya Marie-Alphonse Ratisbonne mendirikan kongregasi misionaris itu di Perancis  tahun 1843.

Tahun 1890, kongregasi itu hadir di Australia dengan sebuah misi “meningkatkan hubungan Katolik-Yahudi dan  menghadirkan kasih setia Tuhan bagi orang-orang Yahudi.”

Sister Pat praktis tumbuh bersama para Suster Putri Sion. Pendidikan dasar dan sekolah menengahnya berada di lembaga yang dikelola oleh kongregasi putri Sion di Melbourne.

Dia ingin menjadi guru, tetapi karena kesulitan keuangan, biarawati itu bekerja di bank selama tiga tahun untuk membiarkan saudara-saudaranya menyelesaikan sekolah menengah.

Sister Pat  masuk ke kongregasi itu tahun 1969 setelah mengikuti pelatihan guru selama dua tahun. Setelah sepuluh tahun, ia mengucapkan kaul kekalnya sebagai seorang misionaris religius.

Kepeduliannya kepada masyarakat miskin perkotaan di Melbourne, “di mana orang tidak memiliki uang untuk membayar pengacara,” mendorongnya  belajar hukum  tahun 1980.

Setelah lulus ujian  menjadi pengacara  tahun 1984, biarawati itu diundang ke Filipina meninjau kerjasama Filipina-Australia untuk melihat situasi ekonomi di negara tersebut.

“Saya jatuh cinta dengan orang Filipina. Saya terinspirasi oleh ketangguhan dan rasa humor mereka, bahkan di tengah krisis,” katanya kepada ucanews.com.

Dia mengatakan kongregasinya perlu “melihat dunia melalui mata orang miskin” dan mereka melihat kemiskinan yang meluas di Asia.

Provinsi Kongregasi Suster Pat di Australia kemudian memberinya mandat  mengabdi di Asia.

“Kami melihat ke berbagai negara, tetapi saya memiliki sedikit condong ke Filipina,” katanya.

Tahun 1990, Sr. Oonagh O’Shea dan Sr. Pat tiba di negara itu  mulai bekerja. Almarhum teolog dan Uskup Infanta Mgr Julio Xavier menampung para suster itu.

Pekerjaan misionaris dimulai setahun setelah para biarawati tiba. Sebelum terlibat dalam kerja komunitas, mereka harus mengambil kursus bahasa di kota Davao.

“Komunikasi adalah alat penting dalam setiap dialog, terutama dengan budaya,” kata Sr. Fox dalam bahasa Tagalog dengen fasik.

Biarawati itu kemudian tinggal selama lima tahun di provinsi Aurora, selatan Manila, untuk bekerja di komisi keadilan dan perdamaian di keuskupan Infanta.

“Mereka mengundang saya karena mereka tahu saya seorang pengacara. Kami melakukan banyak penelitian tentang pertambangan dan berbagai masalah pertanahan,” kata biarawati itu.

Hasil penelitian Sr. Pat digunakan mengadvokasi petani tentang hak mereka atas tanah dan dampak pertambangan yang merusak pertanian dan lingkungan.

Biarawati itu kemudian menjadi koordinator Misionaris Pedesaan Filipina di mana dia dikenal dengan perjuangannya yang lebih besar untuk reformasi tanah.

Dalam sebuah pernyataan yang dikirim ke ucanews.com, Sister Badic mengatakan bahwa pekerjaan Sr. Pat sebagai seorang misionaris merupakan alasan mengapa dia terlihat di antara orang miskin.

Pihak imigrasi Filipina menggunakan gambar Sr. Pat yang mengunjungi seorang petani yang ditahan sebagai bukti yang membuktikan keterlibatannya dalam kegiatan politik.

“Mengikuti amanat misi Gereja  mewartakan Kabar Baik kepada orang miskin, pada saat itu ia memberikan hidupnya sebagai seorang religius  melayani orang miskin dan mereka yang terabaikan dalam masyarakat,” demikian bunyi pernyataan dari pemimpin kongregasi putri Sion.

Meskipun sudah tua, Sister Pat tidak pernah berpikir  pensiun dari pekerjaannya, meskipun dia memaksa dirinya  mengurangi kegiatannya. Tanggung jawabnya sebagai pemimpin kongregasi di provinsial di Filipina juga mengharuskan dia  melakukan pekerjaan administrasi.

“Seorang pekerja Gereja tidak pernah pensiun,” katanya, “selama ada udara dan Anda bernapas.”

Tahun  2015, suster itu bergabung dengan organisasi para petani sebagai direktur spiritualnya. Dia pergi ke daerah-daerah terpencil  mendengarkan cerita para petani.

Dia juga mengelola program kongregasi untuk pertanian organik dengan memberikan pelatihan teknis kepada petani.

Biarawati itu merasa “lucu dan agak sebal” karena dia dituduh melibatkan dirinya dalam politik ketika dia mengunjungi para petani di Mindanao baru-baru ini.

“Aku ada di sana bukan  menyelidiki sesuatu tetapi  mengunjungi mereka yang dipenjara. Menurutmu, apa yang seorang penasihat spiritual lakukan?” katanya.

“Pemerintah harus mencoba memahami sifat pekerjaan saya sebagai seorang misionaris. Saya berbicara dengan orang-orang tanpa memandang iman, keyakinan politik, atau afiliasi mereka,” kata Suster Pat kepada ucanews.com.

Dia mengeluh bahwa penahanannya di biro imigrasi minggu ini menarik terlalu banyak perhatian.

“Saya tidak terbiasa berada dalam sorotan. Saya seorang pekerja dalam sunyi. Saya tidak ingin terlalu banyak perhatian. Saya pikir saya tidak pantas mendapatkan ini,” katanya.

“Tetapi saya tidak lelah,” katanya, seraya menambahkan  orang-orang yang muncul  mendukungnya, terutama para petani, para imam dan para suster, mendorong  dia terus berjalan.

Ketika ditanya apakah dia takut, dia mengatakan dia “takut dideportasi atau ditolak masuk” kembali ke negara itu. “Jika saya akan mati, saya harus mati di Filipina,” katanya.

“Aku tidak bisa mati dan dikubur di Australia sementara hatiku ditinggalkan di sini.”

 

One response to “Seorang Biarawati Australia Membuat  Duterte Marah ”

  1. Justo Lafo says:

    Keteguhan iman dan ketekunan serta kesabaran adalah kunci keberhasilan kita untuk menghadapi setiap tantangan, kebenaran yang akan meluruskan setiap perbedaan pandangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi