UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Di Pakistan, Wanita Protestan Dibunuh Setelah Menolak Menikahi Pria Muslim

April 24, 2018

Di Pakistan, Wanita Protestan Dibunuh Setelah Menolak Menikahi Pria Muslim

Asma Yaqood mengalami luka bakar 90 persen di sekujur tubuhnya. (Foto: Kashif Nawab)

Seorang wanita beragama Protestan meninggal di Pakistan setelah seorang pria beragama Islam membakarnya karena menolak meninggalkan iman Kristiani dan menikahinya.

Asma Yaqoob, 25, merupakan asisten rumah tangga di rumah milik seorang Muslim di Sialkot, 106 kilometer dari Lahore, ketika insiden terjadi pada Selasa (17/4).

Setelah dibawa ke sebuah rumah sakit setempat, Asma kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Mayo di Lahore. Ia mengalami 90 persen luka bakar di sekujur tubuhnya dan meninggal pada Minggu (22/4).

Ayahnya, Yaqood Masih, menuduh Rizwan Gujjar menyiram anaknya dengan air keras atau bensin dan membakarnya.

“Kami sedang mengunjungi Asma pada 17 April malam ketika seseorang mengetuk pintu. Dia keluar untuk melihat dan beberapa saat kemudian kami mendengar dia menjerit di halaman,” kata Masih dalam laporannya kepada polisi.

“Pakaiannya terbakar. Kami melihat Gujjar kabur. Kami mengejar dia tapi dia berhasil lolos. Dia ingin menikahi anak saya, tapi anak saya menolak karena perbedaan agama,” lanjutnya.

Gujjar, seorang pembuat spanduk, saat ini ditahan polisi. Polisi mengatakan ia mengaku melakukan kejahatan tersebut.

Pemakaman Asma diadakan pada Senin (23/4) di Sialkot. Menteri Hak Asasi Manusia dan Minoritas Punjab, Khalil Tahir Sindhu, mengunjungi keluarganya pada Selasa (24/4).

Dalam sebuah pernyataan pers beberapa jam setelah kematian Asma, Yayasan Cecil dan Iris Chaudry, sebuah kelompok Katolik, mengutuk “aksi brutal dan mengerikan” itu dan menuntut keadilan bagi Asma.

“Gujjar memaksa dia untuk masuk Islam … kami sudah minta hakim di Pakistan untuk memperhatikan kejahatan mengerikan ini dan untuk memastikan bahwa pelaku diadili,” demikian pernyataan pers tersebut.

Komite Aksi Kristiani Pakistan (KAKP) menyampaikan pesan kepada para perempuan Kristiani dalam sebuah video.

“Kami salut atas keteguhan iman Asma. Saya minta kalian untuk melaporkan pelecehan seksual atau psikis kepada pendeta, imam dan tokoh politik kalian atau kepada seorang teman yang tulus. Kami akan mencatat dan membantu kalian mendapatkan keadilan. Namun umat Kristiani harus melakukan protes secara damai,” kata Pendeta Amjad Niamat, ketua KAKP.

“Keluarga miskin biasanya ditekan untuk mencabut laporan, menerima diya (uang darah) dan berdamai dengan pelaku. Kami menuntut agar kasus ini disidangkan di pengadilan khusus, bukan pengadilan negeri,” lanjutnya.

Asisten rumah tangga Kristiani sering menjadi subyek penyiksaan dan pelecehan di Pakistan. Tahun 2010, Kiran George diperkosa dan dibakar oleh anak laki-laki majikannya di Sheikhupura. Ia juga meninggal di Rumah Sakit Mayo.

Pada tahun yang sama, Shazia Masih, seorang asisten rumah tangga beragama Katolik, ditemukan tewas dengan luka bekas siksaan di tubuhnya di rumah Chaudhry Muhammad Naeem, mantan ketua Lahore Bar Association, sebuah organisasi pengacara. Pengacara Muslim ini dan keluarganya dinyatakan bebas oleh sebuah pengadilan pada November 2010.

Menurut laporan Yayasan Penyintas Air Keras, sebanyak 153 serangan air keras terjadi pada 2014, namun jumlah korban turun 52 persen pada 2016. Sebagian besar korban adalah perempuan. Sekitar 85 persen dari serangan air keras terjadi di Punjab. Banyak anak menjadi korban karena berada di dekat korban.

Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan mencatat sebanyak 51 serangan air keras dengan 67 korban perempuan pada 2016.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi