UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Misionaris Prancis ‘Menabur Benih Kebaikan’ di Vietnam

April 24, 2018

Misionaris Prancis ‘Menabur Benih Kebaikan’ di Vietnam

Pastor Jean Baptiste Etcharren (berbusana kuning) dan Pastor Gilles Reithinger (berbusana merah) bersama Uskup Agung Joseph Nguyen Chi Linh dan Uskup Agung Emeritus Francis Xavier Le Van Hong pada sebuah pertemuan di Hue pada 18 April. (Foto: Peter Nguyen)

Konferensi Waligereja Vietnam memberi penghormatan kepada kogregasi religius Prancis untuk membantu ratusan rohaniwan lokal selama 25 tahun terakhir.

Uskup Agung Hue Mgr Joseph Nguyen Chi Linh, ketua Konferensi Waligereja Vietnam, mengatakan Misi Etrangeres de Paris (Masyarakat Misi Asing Paris, MEP)) telah mensponsori 169 imam Vietnam dan 14 biarawati untuk belajar filsafat, teologi, ilmu hukum kanonik dan ilmu sosial di Institut Catholique de Paris (Universitas Katolik Paris) sejak 1993 setelah pemerintah komunis melonggarkan cengkeramannya terhadap agama.

Uskup Agung Linh, yang memperoleh gelar doktor  bidang filsafat lulusan tahun 2003, mengatakan 16 alumninya telah menjadi uskup dan uskup agung,  sementara yang lain menjadi pengajar di seminari dan Provinsial dan menjabat berbagai posisi penting di Gereja lokal.

“Gereja lokal memiliki pencapaian luar biasa ini berkat upaya MEP  menanam benih yang baik di ladang evangelisasi di Vietnam,” kata Uskup Agung Linh, seraya menambahkan  umat memenuhi kebutuhan mendesak dengan menghasilkan imam yang terdidik baik  mengembangkan Gereja lokal.

Prelatus,  68,  yang menjadi anggota kehormatan MEP pada 28 Februari, berbicara pada pertemuan para pastor dan umat di Pastoral Center di kota Hue pada 18-19 April.

Superior General MEP, Pastor Gilles Reithinger, pendahulunya, Pastor Jean Baptiste Etcharren dan anggota MEP lainnya termasuk di antara 140 uskup, imam, dan rohaniwan lainnya pada pertemuan tersebut.

Uskup Agung Linh mengatakan acara itu merupakan kesempatan bagi Gereja lokal untuk menunjukkan rasa terima kasih yang mendalam kepada MEP dan bagi penerima beasiswa  memperkuat hubungan.

Uskup Joseph Vu Van Thien dari keuskupan Hai Phong, yang menyelesaikan studi teologi di universitas Paris  tahun 2000, mengatakan semua mahasiswa bersyukur atas kesempatan mereka untuk belajar dan menjadi dewasa dalam iman untuk melayani Gereja lokal.

“Sangat penting bahwa semua mahasiswa telah mempelajari  pelajaran tentang komitmen untuk melayani, semangat evangelisasi dan menjangkau orang-orang dari misionaris MEP dan profesor dari universitas,” katanya.

Uskup Thien, ketua Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Vietnam, memuji para misionaris MEP, terutama Pastor Etcharren, karena sudah menghabiskan hidup mereka untuk melayani Gereja di Vietnam dan menjadikan Vietnam seperti keluarga mereka di masa-masa sulit.

Pastor Etcharren mengatakan 82 misionaris MEP termasuk dia sendiri dipaksa meninggalkan Vietnam selatan segera setelah pasukan komunis menguasai negara itu pada April 1975. Dia bekerja dengan umat Katolik dan orang-orang dari agama lain di provinsi-provinsi pusat dari 1959 hingga 1975 ketika pertempuran sengit terjadi antara pasukan AS – yang didukung pasukan Vietnam selatan melawan pasukan komunis di daerah-daerah ini.

Imam Prancis, yang berbicara bahasa Vietnam dengan aksen Hue, mengatakan: “Saya cinta dan melihat Vietnam sebagai tanah air saya.” Misionaris berusia 86 tahun itu berhasil mengunjungi Keuskupan Agung Hue  tahun 1994 dan telah tinggal di sana sejak tahun 2000.

Selama pertemuan, para peserta merayakan Misa khusus untuk menandai ulang tahun imamat ke-60  Pastor Etcharren di Katedral Phu Cam. Sekitar 500 orang menghadiri upacara itu.

Para peserta juga mengunjungi situs-situs Buddhis dan Katolik termasuk makam imam Prancis Leopold Cadiere, seorang misionaris MEP yang ahli dalam budaya dan cerita rakyat Vietnam. Mereka juga menyaksikan pertunjukan budaya oleh para biarawati Lovers of the Holy Cross.

MEP dibentuk tahun  1658 untuk memperkenalkan misi Katolik ke Asia. Pendirinya adalah Pastor  Fransiskus  Pallu dan Pastor Lambert de la Motte, yang oleh Paus Alexander VII ditunjuk menjadi vikaris apostolik untuk dua vikariat pertama Vietnam, Dang Ngoai (Tonkin) dan Dang Trong (Cochin Cina),  tahun 1659.

Ribuan anggotanya ditugaskan  mendidik rohaniwan setempat, memberikan pelayanan pastoral bagi umat Katolik dan mengajar agama Katolik ke orang lain.

Banyak anggota mengalami penganiayaan agama yang parah oleh pihak berwenang Vietnam selama abad ke-17, 18 dan 19. Dua uskup dan delapan imam dari MEP berada di antara 117 martir Vietnam yang dikanonisasi oleh Santo Paus Yohanes Paulus II pada 19 Juni 1988.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi