UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Tiga Gereja Tampung Pengungsi di Myanmar 

April 24, 2018

Tiga Gereja Tampung Pengungsi di Myanmar 

Pastor Peter Hka Awng Tu, pastor kepala Paroki Katedral St. Kolumban, bersama dengan pengungsi sebelum ia membawa mereka ke gedung gereja Katolik dan Baptis di Kota Namti pada Minggu (22/4) lalu. (Foto: Konvensi Baptis Kachin)

Lebih dari 900 warga sipil mengungsi dan tinggal di tiga gedung gereja di Negara Bagian Kachin, Myanmar, di tengah pertempuran antara militer dan pemberontak Kachin.

Para pengungsi yang berasal dari Desa Kasung dan Desa Zup Mai tersebut tinggal di dua gedung gereja Katolik dan sebuah gedung gereja Baptis di Kota Namti setelah sejumlah kelompok Gereja menyelamatkan mereka pada Minggu (22/4).

Pastor Peter Hka Awng Tu, pastor kepala Paroki Katedral St. Kolumban, mengatakan warga Desa Zup Mai harus berjalan kaki selama tiga hari setelah meninggalkan rumah mereka pada Jumat (20/4) lalu.

Menurut imam itu, umat paroki menyumbang pakaian dan makanan kepada para pengungsi pada Senin (23/4).

Ia mengatakan mereka menyelamatkan warga sipil termasuk wanita, anak-anak dan orang tua itu setelah bertemu dengan komandan militer yang memberi lampu hijau.

“Saat ini warga tidak bisa pulang ke desa mereka karena situasi tidak aman bagi mereka, pertempuran yang lebih besar bisa saja terjadi. Kelompok-kelompok Gereja akan terus memberi bantuan kemanusiaan,” katanya kepada ucanews.com.

Pada Jumat (20/4), militer Myanmar melancarkan serangan udara untuk melawan Laskar Kemerdekaan Kachin (LKK) di dekat Desa Kasung. Akibatnya, ratusan orang mengungsi.

Lebih dari 1.000 warga Desa Kasung yang terletak sekitar 25 kilometer dari Kota Namti mengungsi pada Agustus 2017 menyusul pertempuran antara militer dan LKK.

Kota Namti terletak sekitar 26 kilometer dari Myitkyina, ibukota Negara Bagian Kachin.

Pengungsi baru membawa barang milik mereka sebelum kelompok-kelompok Gereja membawa mereka ke gedung gereja di Kota Namti pada Minggu (22/4) lalu. (Foto: Konvensi Baptis Kachin) 

 

Lebih dari 2.000 orang masih terjebak di sebuah hutan sejak pertempuran antara militer dan pemberontak LKK terjadi di dekat Desa Awng Lawt dan desa-desa sekitar pada 11 April.

Sekitar 200 umat Katolik masih terombang-ambing setelah menghadiri sebuah perayaan yubileum pada 8-9 April di Tanai, sebuah wilayah pertambangan emas dan ambar. Mereka juga tidak bisa pulang ke desa, kata Pastor Awng Tu.

Imam itu mengatakan Uskup Myitkyina Mgr Francis Daw Tang bertemu Mayor Jenderal Nyi Nyi Swe, komandan militer, pada 16 April lalu untuk membicarakan tentang warga sipil yang terjebak, bantuan kemanusiaan, pertempuran yang masih berlangsung dan proses perdamaian.

Pendeta Hkalam Samson, ketua Konvensi Baptis Kachin, mengatakan Gereja dan para donatur menyediakan tempat berteduh, makanan dan barang-barang lainnya kepada para pengungsi yang baru tiba.

“Sementara kami begitu prihatin dengan keselamatan warga sipil yang tetjebak di hutan dan kekurangan makanan serta tidak bisa mengakses kelompok bantuan, semakin banyak pertempuran terjadi yang mengakibatkan semakin banyak orang mengungsi,” katanya kepada ucanews.com.

Pemimpin Gereja Baptis itu mengatakan Gereja Katolik dan Gereja Baptis tengah merencanakan program pemukiman kembali bagi mereka yang telah dua kali mengungsi dan mereka yang tidak bisa pulang ke rumah.

Sekitar 3.000 orang mengungsi di Negara Bagian Kachin, demikian laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin (23/4).

Di Negara Bagian Kachin, 90 persen penduduknya adalah umat Kristiani. Mereka telah menyaksikan pertempuran sporadis selama beberapa dekade. Lebih dari 100.000 orang masih mengungsi di negara bagian ini dan Negara Bagian Shan sejak pertempuran mulai terjadi kembali pada 9 Juni 2011.

Militer meningkatkan perlawanan di Negara Bagian Kachin sejak awal Desember lalu dengan melancarkan serangan terhadap LKK dengan menggunakan artileri berat, helikopter dan pesawat tempur.

Pemerintah berjanji untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama beberapa dekade tersebut. Namun pertikaian baru telah merusak inisiatif damai. Pertempuran ini juga memunculkan pertanyaan tentang seberapa besar pengaruh Konselor Negara Aung San Suu Kyi terhadap militer.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi