UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Imam Misionaris Kampanye Perubahan Iklim di Pakistan

April 27, 2018

Imam Misionaris Kampanye Perubahan Iklim di Pakistan

Para siswa menanam tanaman ke dalam pot-pot di sekolah di Hyderabad sebagai bagian dari kampanye mengatasi perubahan iklim. (Foto: Ayyaz Gulzar)

Salma Adeel, seorang ibu Muslim dengan  3 anak, bekerja di pabrik garmen untuk menghidupi keluarganya. Dia dipaksa  mencari pekerjaan setelah suaminya meninggal akibat gelombang panas mematikan di Karachi tahun 2015.

“Kejadian itu sangat mengejutkan. Suami saya adalah seorang pelukis dan sehari-hari menjalankan kontrak kerja untuk membersihkan rumah dan bangunan,” katanya.

“Dia berpenghasilan yang layak dan kami hidup bahagia. Saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari saya harus pergi dan melakukan pekerjaan di luar rumah. Beberapa bulan pertama sangat sulit ketika tidak ada yang mendukung kami. Saya bekerja sembilan jam sehari dan beberapa harinya  saya bekerja lembur untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.”

Iklim Pakistan berubah dengan cepat dan semakin panas setiap tahun. Suami Adeel bukan satu-satunya korban. Lebih dari 2.000 orang meninggal akibat dehidrasi dan serangan panas selama cuaca panas yang memecahkan rekor di Pakistan selatan pada Juni 2015.

Sejak saat itu, organisasi pemerintah dan LSM lingkungan terus mengadakan  kampanye akan pentingnya kesadaran masyarakat untuk menjaga warganya  tetap aman selama musim panas.

Sementara perubahan iklim terus menjadi tantangan besar bagi Pakistan, Pastor Liam O’Callaghan, seorang imam asal Irlandia yang tinggal di Hyderabad, telah bergabung dalam upaya  mengurangi dampaknya.

“Sungguh menyedihkan menyaksikan sendiri banyak warga sekarat di seluruh wilayah karena gelombang panas, dan kejadian itu membuat saya memutuskan untuk menjadi bagian  memerangi perubahan iklim,” kata imam misionaris Columban itu.

Pastor O’Callaghan menyelenggarakan lokakarya, seminar, dan program pelatihan nasional untuk membuat orang-orang sadar akan tantangan yang dihadapi Pakistan akibat  perubahan iklim dan pemanasan global.

Dia menjalankan misinya tanpa diskriminasi terhadap sekte dan agama. Ia mendekati sekolah Katolik, Protestan, dan pemerintah untuk melatih siswa dan guru bagaimana menghindari kebiasaan yang dapat merusak udara dan lingkungan.

Dalam dua tahun terakhir, ia telah membentuk dua kelompok beranggotakan 25 orang untuk melindungi lingkungan. Setiap kelompok terdiri dari  orang-orang Kristen, Hindu dan Muslim yang bekerja dalam kesatuan dan harmoni di wilayah masing-masing di Hyderabad dan Mirpur Khas.

“Kedua kelompok lintas agama ini melakukan pekerjaan dengan baik. Mereka menciptakan kesadaran tentang tantangan akibat  perubahan iklim, kekurangan air dan lingkungan yang tidak sehat dan tidak higienis di daerah mereka,” kata Pastor O’Callaghan.

“Para sukarelawan membantu kami  menjangkau lebih banyak warga, kelompok, lembaga, sekolah dan perguruan tinggi dengan misi kami membuat orang sadar tentang tantangan yang dihadapi bumi, rumah kita bersama.

“Masalah ekologi tidak dapat dipecahkan jika kita hanya bekerja dalam lingkungan internal Gereja Katolik. Saudara-saudari dari lintas agama, kasta, suku dan bangsa hidup bersama dan harus bekerja sama  menghadapinya. Saya senang bahwa uskup dan rekan-rekan imam mendukung pekerjaan saya.

“Pada awalnya, sulit bagi anggota Kristen dan Hindu bekerja sama dengan Muslim karena ketakutan dan pola pikir negatif tentang mereka. Saya senang bahwa bekerja sama telah memecahkan hambatan dan membantu mereka  bekerja sama. Tahun lalu semua anggota kelompok kami juga datang  merayakan pesta Idul Fitri dan Natal bersama.”

Pastor O’Callaghan adalah ketua Komisi Ekologi Keuskupan Hyderabad dan angggota JPIC imam misionaris Columban. Dia juga menerjemahkan dokumen kepausan tentang perubahan iklim, Laudato si,  ke bahasaUrdu  tahun 2015.

Komisi ini menjalankan program di 12 sekolah Katolik tahun lalu dan membentuk kelompok ekologi yang terdiri dari 2-3 guru dan 8-10 siswa. Pristiwa ini juga sekaligus  merayakan hari lingkungan hidup sedunia, termasuk, hari  bumi dan air.

“Masalah utama perubahan iklim dan peningkatan panas di kota-kota dan negara adalah karena kekurangan pohon di kota-kota,” kata Pastor O’Callaghan.

“Pohon-pohon  dipotong untuk tujuan pembangunan  dan  pembangunan kota belum diganti hingga sekarang. Bersama dengan Caritas Pakistan dan Komisi Pendidikan Katolik, kami bekerja menanam sebanyak mungkin pohon dan tanaman di sekolah-sekolah dan gedung gereja.”

Komisi Ekologi juga melatih banyak warga  menghindari penggunaan kantong plastik dan mempromosikan tas ramah lingkungan yang terbuat dari pakaian.

Sekretaris Komisi Ekologi Danish Yakoob menambahkan tas plastik menyebabkan masalah polusi dan sistem pembuangan kotoran.

“Kami juga mendorong banyak warga  menyimpan tanaman di rumah mereka dan jika mungkin menanam pohon di luar rumah. Kami juga telah membawa relawan kami ke taman untuk membersihkan lingkungan. Sebagian besar sampah yang kami kumpulkan adalah kantong plastik,” kata Yakoob.

Para anggota komisi juga telah bertemu pejabat pemerintah dan para politisi untuk mendorong mereka menjadi bagian dari kampanye mereka  melindungi lingkungan.

“Kami mendapat tanggapan beragam dari pejabat pemerintah dan para politisi. Tidak ada tindakan besar yang diambil oleh mereka tetapi kami sangat berharap dan akan terus berusaha mencapai tujuan kami,” kata Pastor O’Callaghan.

Imam Irlandia itu mengatakan banyak warga masyarakat mempunyai kebiasaan melempar bungkusan dan sampah di tanah, bukannya di tempat sampah.  Kebiasaan ini akan membutuhkan waktu untuk mengubah perilaku mereka.

“Kami menggunakan presentasi dan video dokumenter untuk membuat banyak warga sadar akan masalah yang mereka hadapi akibat perubahan iklim. Saya menghargai semangat siswa sekolah. Mereka menunjukkan minat yang besar dan belajar tentang banyak hal  menjaga lingkungan mereka bersih, menghemat air, merawat tanaman dan membuang sampah di tempat sampah,” katanya.

Caritas Pakistan berjanji  menanam satu juta pohon di Pakistan dari 2016-2020 untuk memerangi perubahan iklim dan gelombang panas.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi