UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Para Pemimpin Agama Tuduh Pemerintah Berupaya Membungkam Gereja  

April 27, 2018

Para Pemimpin Agama Tuduh Pemerintah Berupaya Membungkam Gereja   

Suster Patricia Fox berbicara kepada media pada 26 April, shear setelah Biro Migrasi Filipina mencabut visa misionarisnya. (Foto: Jire Carreon/ucanews.com)

Para pemimpin agama Filipina telah memperingatkan bahwa pemerintah Filipina berusaha  membungkam orang-orang Gereja yang kritis terhadap pemerintahan Rodrigo Duterte.

Mereka mengatakan penangkapan, penahanan, dan deportasi yang akan dilakukan kepada biarawati misionaris Australia, Patricia Fox, “adalah bagian dari langkah sistematis membungkam Gereja.”

Berbicara sebelum jumpa pers pada  26 April,  Pastor  Oliver Castor CsSR mengatakan pemerintah telah berusaha “menghentikan pelayanan  Gereja di tengah orang miskin.”

Imam itu, seorang anggota Misionaris Pedesaan Filipina, mengatakan apa yang dilakukan pemerintah kepada Sr. Fox mirip dengan apa yang dilakukan oleh diktator Ferdinand Marcos selama masa pemerintahannya.

Mantan diktator itu mendeportasi misionaris asing yang mengekspos pelanggaran HAM yang dilakukan oleh militer  selama tahun-tahun darurat militer.

Biro imigrasi Filipina telah mencabut visa misionaris Sr. Fox minggu ini karena dugaan keterlibatannya dalam kegiatan politik partisan.

Biarawati Australia yang merupakan anggota Kongregasi Suster St.  Maria dari Sion, mengatakan apa yang ia alami “adalah serangan ke seluruh Gereja.”

Sr. Fox, 71. bertemu awak media sehari setelah Biro Imigrasi mencabut visanya dan memerintahkan dia  meninggalkan negara itu dalam 30 hari ke depan.

Biarawati itu mengatakan dia terkejut dengan keputusan biro imigrasi. “Saya berharap ada proses hukum sehingga saya bisa menjelaskan apa  pekerjaan misionaris,” katanya kepada media.

Upaya membela Suster Fox

Seorang pejabat pemerintahan Duterte telah datang ke tempat tahanan biarawati Australia itu.

Teddy Locsin Jr., perwakilan permanen Filipina untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyesalkan keputusan Biro Imigrasi yang mencabut visa misionaris Suster Fox.

“Biarawati tidak berbuat salah,” kata diplomat itu di Twitter. “Ini salah dan membuat malu negara kita,” katanya.

“Sekarang kami takut pada seorang biarawati lansia. Apa yang dikatakan tentang stabilitas nasional? Dan seorang biarawati yang bekerja dengan penduduk asli,” tambah Locsin.

Dia mengatakan biarawati itu tidak menimbulkan ancaman bagi negara karena dia hanya mewartakan agama Kristen.

“Jika ada alien datang ke sini  mengkotbahkan akhir zaman, aku akan menembaknya,” kata Locsin.

“Para biarawati tidak dapat berbuat salah dan tanpa mereka pada (pemberontakan 1986) putri-putri Anda akan menjadi budak seks para pembela  Marcos,” kata pejabat itu.

 Menyerang misi Gereja

Suster Fox mengatakan bahwa sebagai seorang Kristen, misinya adalah “membawa Kerajaan Allah di sini dan sekarang.”

Biro imigrasi mengatakan biarawati itu bebas kembali ke negara itu kapan saja sebagai turis, tetapi Suster Fox mengatakan akan sulit baginya  melanjutkan pekerjaannya bila ia hanya sebagai turis.

“Sulit untuk melanjutkan pekerjaan misionaris jika Anda seorang turis. Pertama, kami adalah biarawati dan kami ditugaskan di sini bukan sebagai turis,” katanya.

Pastor Castor mengatakan serangan terhadap Suster Fox adalah “serangan terhadap misi Gereja.”

“Ini adalah seruan untuk kepemimpinan Gereja di Filipina, mari kita berbicara. Kita tidak boleh apatis. Dengan segala cara mari kita menegaskan hak kita,” kata imam itu.

Dia mengatakan apa yang terjadi pada biarawati Australia itu adalah “pelanggaran hak tidak hanya untuk (Suster  Fox) tetapi juga bagi orang-orang Kristen yang mempromosikan keadilan bagi orang miskin.”

“Kami tidak melihat alasan lain  mengapa hal ini dilakukan kecuali untuk menghentikan kritik terhadap pemerintah,” katanya.

“Ini jelas penganiayaan agama terhadap mereka yang melakukan misi dan kerasulan mereka kepada orang miskin,” tambah Pastor Castor.

Dalam sebuah pernyataan, Asosiasi Pemimpin Kongregasi  Filipina menyatakan “solidaritas” dengan Suster Fox dalam karyanya “mewartakan kabar baik tentang keselamatan dan pembebasan.”

Organisasi para pemimpin kongregasi yang berpengaruh di negara itu mengatakan apa yang terjadi pada suster itu “adalah pelecehan terhadap seorang pendukung hak-hak orang miskin.”

“Kami menuntut agar hak-hak (Suster Fox) dihormati,” kata pernyataan dari kelompok tersebut. “Biarkan lembaga-lembaga pemerintah … tidak menghambat pekerjaan kenabian misionaris asing kami,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi