UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pemerintah Indonesia Minta Bantuan Vatikan Membatalkan Larangan Minyak Kelapa Sawit oleh UE

Mei 1, 2018

Pemerintah Indonesia Minta Bantuan Vatikan  Membatalkan Larangan Minyak Kelapa Sawit oleh UE

Seorang petani sawit di Siak, provinsi Riau. (Foto: Serikat Petani Kelapa Sawit)

Vatikan memutuskan akan  membantu Indonesia membujuk Uni Eropa (UE) membatalkan langkah baru-baru ini menerapkan larangan impor minyak kelapa sawit ke UE, yang menurut pemerintah  dapat menyulitkan jutaan orang Indonesia yang bergantung pada industri tersebut.

Sebagai bagian dari upaya itu, Vatikan akan menyelenggarakan seminar  mengangkat masalah ini dengan UE bulan ini.

Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordinator Bedang Kemaritiman Indonesia bertemu dengan Paus Fransiskus dan pejabat Vatikan minggu lalu untuk membahas masalah ini.

Antonius Agus Sriyono, duta besar Indonesia untuk Vatikan, mengatakan kepada ucanews.com pada 27 April bahwa selama pertemuan, Panjaitan berbicara tentang dampak buruk larangan Uni Eropa terhadap petani kelapa sawit.

“Menteri mengatakan larangan itu tidak sesuai  dengan nilai-nilai kemanusiaan karena akan menyebabkan pengangguran dan kemiskinan bagi para petani dan pekerja kelapa sawit,” katanya.

Dalam pernyataan resmi usai pertemuan, Luhut  mengatakan bahwa Kardinal Peter Turkson, Ketua Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian menyuarakan “keprihatinan atas nasib petani kelapa sawit dan jutaan orang yang hidupnya tergantung pada industri minyak kelapa sawit.

“Dia secara khusus menyatakan apa yang akan terjadi jika para pekerja ini tidak memiliki pendapatan lagi,” katanya, merujuk pada 16,5 juta orang yang bergantung pada industri ini.

“Kardinal Turkson mengusulkan untuk mengadakan seminar yang membahas masalah ini di Universitas Kepausan Vatikan bulan depan,” tambahnya.

Perwakilan dari Uni Eropa, perusahaan multi-nasional yang menggunakan produk minyak kelapa sawit, petani dari Indonesia dan Malaysia dan lembaga agama, akan diundang untuk hadir, katanya.

“Vatikan memiliki suara yang dapat didengar karena selalu mengedepankan masalah kemanusiaan,” kata Panjaitan.

Dia juga berencana melobi UE secara langsung.

Pada  Januari, Uni Eropa memilih untuk mengubah rancangan undang-undang tentang energi terbarukan yang menyerukan pemotongan minyak kelapa sawit dari biofuel dan bioliquid. Langkah itu ditujukan untuk mencegah deforestasi dan  memenuhi sasaran iklim yang lebih ambisius.

Langkah itu disambut dengan protes keras dari Indonesia dan Malaysia, dua negara produsen minyak kelapa sawit terbesar.

Marcelinus Andry dari Serikat Petani Kelapa Sawit Indonesia mengatakan mereka menulis nota protes itu ke UE untuk membatalkan larangan tersebut.

“Minyak kelapa sawit telah menjadi sumber pendapatan utama bagi jutaan petani yang akan terkena dampaknya,” katanya.

Tahun lalu Indonesia mengekspor total 28 juta ton minyak kelapa sawit, senilai 31 trilium rupiah, 40 persen di antaranya diekspor ke Eropa untuk dikonversi menjadi biofuel.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi