UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kelompok Amal Katolik Taiwan Berikan Harapan bagi Kaum Difabel

Mei 2, 2018

Kelompok Amal Katolik Taiwan Berikan Harapan bagi Kaum Difabel

Pastor Hugo Peter, diretur Yayasan Kesejahteraan Sosial Tobias Keuskupan Tainan. (Foto: ucanews.com)

Sebuah keuskupan di Taiwan sedang bernapas lega setelah mengadakan  lomba lari amal, yang diselenggarakan untuk menggalang dana dan meningkatkan kesadaran akan isu-isu yang didukungnya, tampak ditakdirkan menjadi kegagalan besar sebelum lonjakan pendaftar yang tiba-tiba dimana jumlah pendaftaran berlipat ganda 10 kali  lebih banyak hanya dalam beberapa hari.

Yayasan Kesejahteraan Sosial Tobias Keuskupan Tainan telah menjadwalkan Piala Tobias pertama akan dimulai pada 26 Mei di Hutoupei, kota Xinhua,  kota Tainan, dengan tujuan mengumpulkan dana sekitar 9 miliar rupiah.

Tapi minat di awalnya tidak besar.

“Sebelum saya pergi  pertemuan di Vatikan pada 8 April, kami hanya memiliki 100 pendaftar ,” kata direktur yayasan, Pastor Hugo Peter, kepada ucanews.com.

“Tapi, ketika saya kembali ke Taiwan pada 18 April, lebih dari 3.000 pendaftar yang telah mendaftar. Ini sangat memuaskan. Ini menunjukkan sentuhan manusia Taiwan.”

Dia mengatakan bahwa bagian penggalangan dana dari acara itu tidak sepenting peningkatkan kesadaran akan isu-isu sosial yang penting, tetapi  uang itu akan berguna dalam membantu kelanjutan lembaga amal yang didukung Gereja.

“Saya berharap orang lain mengetahui tentang (yayasan kami) dan memilih untuk membantu bayi, anak-anak dan orang dewasa dengan cacat mental, keluarga yang kurang beruntung dan orangtua,” katanya.

Hsu Kuorui adalah direktur eksekutif Asosiasi Pelari Ang Hia Tshu,  yang telah melakukan 40 kegiatan amal dan membantu yayasan Tobias dalam mengatur penyelenggaraan tahun ini.

Hsu mengatakan banyak orang memutuskan untuk memakai sepatu olahraga mereka karena mereka terinspirasi oleh dedikasi Pastor Peter untuk membantu kelompok etnis yang kurang beruntung di Taiwan selatan, dan mereka ingin berpartisipasi.

“Bahkan mereka menelpon untuk mendaftar dan ingin membuat janji untuk yayasan. Semua ini memberikan dorongan besar kepada sang imam dan kepada guru pendidikan khusus di Taiwan,” kata Hsu.

Pastor Peter, dari Societas Auxiliarium Missionum (S. A. M) yang berpusat Belgia, ditahbiskan  tahun 1970 di Swiss dan pindah ke Taiwan  tahun berikutnya.

Dengan dorongan dan dukungan dari teman-temannya dan Gereja, dia mendaftar di Universitas Nasional Taiwan di Fakultas  Seni Rupa. Setelah lulus tahun 1979, ia pergi ke Kepulauan Penghu (atau Pescadores), sebuah kepulauan dari 90 pulau di Selat Taiwan, atas undangan para imam dan tinggal di sana selama 13 tahun ke depan.

Ketika berada di sana, ia menjadi relawan di waktu luangnya  mengajar lukis, seni, dan kerajinan kepada siswa yang berkebutuhan khusus di Pusat Pendampingan Huimin. Ini adalah awal dari misi panjangnya  membantu para penyandang cacat.

Setelah menyelesaikan pekerjaan misionarisnya di Penghu, dia diundang oleh Uskup Joseph Cheng Tsai-fa dari Keuskupan Tainan  melayani sebagai direktur Pusat Pendampingan Santo Raphael di Tainan.

Pastor Peter menerima dan  mulai karier untuk bekerja penuh waktu bersama orang cacat – peran yang masih ia sukai dan ia tekuni setelah 26 tahun.

Ia merasa perlu melanjutkan studinya demi memberikan perawatan dan pelayanan yang lebih baik untuk tugas barunya, dia kemudian mendaftar  belajar tentang pendidikan untuk orang yang berkebutuhan khusus di Universitas Tunghai, juga di Taiwan.

Sejak 1990-an, Pusat Pendampingan Santo Raphael telah mengurus pendidikan anak-anak dengan kebutuhan khusus dari taman kanak-kanak hingga usia 6 tahun.

Pusat Pendampingan Santo Raphael telah mendapatkan reputasi sebagai perintis perawatan anak usia dini dan layanan pendidikan di Taiwan, didukung oleh tim profesional yang membantu perkembangan kognitif, linguistik, dan emosi anak-anak.

Di bawah kepemimpinan Pastor Peter, layanan anak usia dini telah berkembang selama bertahun-tahun dan  tahun 2006, Santo Raphael mendirikan Pusat Intervensi dan Pendidikan anak usia dini di Guangming.

Karena program-programnya terus berkembang, menjadi jelas bahwa pusat pendampingan itu akan segera tumbuh dari akar yang sederhana dan dibutukan kerangka hukum  memanyungi kegiatan Santo Raphael.

Dengan demikian, para pengurus menyadari bahwa mereka harus merekonstruksi lembaga tersebut sebagai yayasan independen untuk terus menyediakan pelayanan yang sesuai dengan kode hukum Taiwan.

Pada waktu itu, Pastor Petrus berusia 66 tahun dan meminta pensiun.

“Saya berniat  pensiun dan telah mempersiapkan momen itu selama sekitar satu tahun” katanya.

Tetapi rencana itu berubah ketika Uskup Tainan Mgr Bosco Lin Chin-an memberinya satu misi terakhir  mengumpulkan dana sekitar 5 miliar rupiah  untuk mendongkrak pundi-pundi yayasan sehingga bisa terus merawat yang terabaikan dan kurang beruntung.

Pastor Peter mengenang bagaimana seorang pasangan Buddha memberikan sumbangan sebesar hampir seperempat juta dolar dan jugaa mengajak teman-teman mereka  menyumbang.

Imam itu  memenuhi semua persyaratan hukum dan birokrasi dan setelah 12 bulan bekerja keras dan persiapan, Yayasan Kesejahteraan Sosial Tobias didirikan  tahun 2010.

Itu didasarkan pada prinsip  menjaga “martabat untuk semua.”

“Martabat diberikan oleh Tuhan, dan tidak ada yang dapat merampasnya. Semua orang, terlepas dari kondisi fisik dan mental mereka, dapat merasakan cinta dan hormat,” kata Pastor Peter.

Dengan dukungan pemerintah kota Tainan, yayasan tersebut mendirikan pusat kebugaran pertama di Taiwan yang dirancang bagi para penyandang cacat.

Sementara itu, imam itu juga telah bekerja tanpa lelah  memberikan perhatian khusus untuk pengembangan yayasan yang masih muda itu.

Sebagai contoh, sekarang mengirim stafnya ke rumah-rumah orang-orang yang mobilitasnya sangat terbatas karena masalah bawaan atau lainnya, membantu mereka  mandi dan makan sendiri.

Imam itu mengatakan dia peduli pada kesetaraan untuk semua orang yang sekarang berada di bawah perlindungannya.

Sementara beberapa anggota masyarakat mungkin membuang atau mengabaikan mereka karena hambatan fisik atau mental mereka, dia melihat mereka sebagai bunga rapuh yang bisa mekar di bawah perawatannya.

Beberapa tahun  lalu ia bahkan mendesain logo khusus untuk Santo Raphael yang menampilkan bunga teratai yang tidak sempurna untuk menunjukkan penderitaan mereka maupun potensi mereka.

“Mereka semua seperti bunga teratai,” katanya. “Walaupun mereka tidak sempurna, mereka semua masing-masing memiliki keunikan mereka sendiri.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi