UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Konferensi Waligereja India Bantah Surat Palsu Bernuansa Politis

Mei 11, 2018

Konferensi Waligereja India Bantah Surat Palsu Bernuansa Politis

Uskup Agung Bangalore Mgr Bernard Moras menyambut Ketua Partai Kongres Rahul Gandhi ketika pemimpin politik itu berkampanye di negara bagian, India selatan, pada pemilu 12 Mei. (Foto: IANS)

Sebuah surat palsu yang menjadi viral di media sosial telah menyebabkan konferensi waligereja India dituduh   memecah belah komunitas Hindu di Karnataka sesaat menjelang pemilu di negara bagian selatan India.

Surat dua halaman yang pertama kali muncul di media sosial pada 9 Mei, menyatakan  konferensi waligereja India mendukung tuntutan yang dibuat oleh komunitas Lingayat untuk diakui sebagai  agama minoritas  terpisah.

“Kami dapat meyakinkan Anda bahwa ini adalah surat palsu,” kata Sekjen  Konferensi Waligereja India, Mgr Theodore Mascarenhas, dalam sebuah pernyataan resmi.

Konferensi waligereja India sedang mempertimbangkan langkah  hukum terhadap mereka yang terlibat dalam pembuatan dan peredaran surat palsu ini.

Komunitas Lingayats – cabang dari Hindu – memperkirakan 17 persen dari 66 juta penduduk negara bagian Karnataka. Mereka sangat menguasai hampir 100 dari 224 konstituen, sebagian besar di utara negara itu, kata laporan setempat.

Komunitas Lingayat secara tradisional adalah pendukung Partai Bharatiya Janata (BJP) selama pemilu di India.

Surat palsu yang beredar itu  seakan ditulis oleh Kardinal Oswald Gracias, ketua konferensi waligereja India. Surat itu ditujukan kepada Uskup Keuskupan Agung Bangalore Mgr Bernard Moras.

Surat itu salah menunjuk Kardinal Gracias sebagai sekjen konferensi waligereja India padahal dia adalah ketuanya.

“Jelas bahwa para pengkhianat itu bahkan tidak mengetahui para pimpinan Gereja di India,” kata Uskup Mascarenhas.

Konferensi Waligereja India tidak akan “mendapat keuntungan dari taktik memecah belah seperti yang ditunjukkan dalam surat itu,” katanya.

“Kesalahan bahasa dalam surat itu merupakan indikasi  jelas bahwa itu tidak mungkin berasal dari konferensi waligereja India,” kata uskup.

Pemilu di  Karnataka pada 12 Mei telah dijuluki sebagai pelopor pemilu April 2019 dan hasilnya akan mengukur seberapa populer BJP pro-Hindu dan Perdana Menteri Narendra Modi di antara para pemilih.

Untuk Partai Kongres yang bersaing, yang saat ini sedang berkuasa, kemenangan sangat penting untuk menghidupkan kembali peluangnya dalam pemilu nanti.

Pada 19 Maret, kabinet negara menyetujui permintaan lama dari komunitas Lingaya bahwa mereka terdaftar sebagai kelompok agama minoritas di negara bagian itu, keputusan yang sebagian besar dilihat sebagai upaya  merayu komunitas ke Partai Kongres.

Presiden BJP dan kandidat perdana menteri negara bagian B.S. Yeddyurappa adalah seorang Lingayat. Keputusan itu juga mengurangi Yeddyurappa  menjadi pemimpin komunitas minoritas.

“Surat palsu” tertanggal 23 Maret berusaha  menghubungkan para pemimpin Gereja dengan keputusan Kongres untuk memberikan daftar Lingayats sebagai kelompok agama minoritas.

“Doa kami telah didengar,” kata surat itu yang konon juga mengatakan  konferensi waligereja India, termasuk seorang wakil Vatikan, bertemu dengan pejabat negara yang menekan kabinet negara  membuat keputusan dalam daftar itu.

“Mari bekerja keras  menyelamatkan banyak jiwa di Karnataka,” kata surat palsu yang mencantumkan beberapa langkah untuk menginjili komunitas Lingayat. Surat itu menginginkan Gereja Katolik membangun “jembatan emosional” dengan para pemimpin agama Lingayat dan mengubah setidaknya lima persen dari orang-orang Lingaya  tahun 2043.

Komunitas Lingayat mengklaim berbeda dengan Hinduisme karena mereka hanya menyembah Siwa dan mereka menentang politeisme, ajaran Veda dan tradisi dan adat Hindu populer lainnya, khususnya yang terkait dengan sistem kasta.

Orang Kristen, yang berjumlah 1,8 persen atau 1,1 juta dalam populasi negara itu, secara tradisional dipandang sebagai pendukung Partai Kongres.

Ketua Partai Kongres  Rahul Gandhi mengadakan  kunjungan kehormatan ke Uskup Agung Moras pada 8 Mei.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi