UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja Katolik Kecam Serangan Bom di Jawa Timur

Mei 14, 2018

Gereja Katolik Kecam Serangan Bom di Jawa Timur

Polisi menyisir lokasi setelah terjadi aksi bom bunuh diri di luar GPPS, satu dari tiga gereja yang diserang bom pada 13 Mei. (Foto: Juni Kriswanto/AFP)

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo dan sejumlah organisasi Katolik mengecam serangkaian serangan bom di tiga gereja dan dua tempat lainnya di Propinsi Jawa Timur dalam dua hari terakhir ini.

Satu keluarga – bapak, ibu dan tiga anak – melakukan aksi bom bunuh diri di areal Mapolrestabes Surabaya pada Senin (14/5) pagi. Pelaku mengendarai dua sepeda motor untuk melakukan aksi mereka.

Sehari sebelumnya, pada Minggu (13/5) pagi, satu keluarga – bapak, ibu dan empat anak – melakukan aksi serupa di Gereja Katolik St. Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia (GKI) dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), ketiganya terletak di ibukota propinsi.

Malam harinya, pada hari yang sama, ledakan bom terjadi di Rusunawa Wonocolo di Kabupaten Sidoarjo.

Hingga berita ini diturunkan, jumlah korban tewas mencapai 25 orang termasuk 13 pelaku bom bunuh diri. Sisanya adalah masyarakat umum.

“Setelah melihat dan mencermati secara seksama peristiwa terorisme di tiga gereja di Surabaya, dan tentu masih bisa ditambah yang terjadi pada hari ini, menunjukkan adanya suatu gerakan yang terpola, terstruktur dan berjenjang yang sengaja ingin melakukan kekacauan dan mengubah haluan negara,” kata Mgr Suharyo saat membacakan pernyataan para tokoh lintas-agama pada konferensi pers yang digelar di komplek Gereja Katedral St. Maria Diangkat Ke Surga di Jakarta, Senin (14/5).

“Indonesia adalah negara yang berdiri atas dasar konsensus bersama di atas semua golongan, ras, etnis dan agama. Itulah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka negara tidak boleh kalah oleh ulah segelintir orang yang mengatasnamakan jihad tetapi justru merusak dan menodai makna jihad yang sesungguhnya yaitu menegakkan makna amar maruf nahi mungkar. Bukan dengan menebar teror, membunuh dan menggunakan kekerasan,” lanjut prelatus itu.

Mgr Suharyo, juga ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), mengatakan bahwa para tokoh agama “mengutuk keras pelbagai tindakan terorisme atas dasar dan latar belakang apapun” dan “tindakan-tindakan yang menggunakan kekerasan, terorisme, menebarkan rasa benci dan juga mengkafirkan mereka yang di luar keyakinannya bukanlah ajaran agama.”

Para tokoh agama, lanjutnya, juga mendesak dan mendukung sepenuhnya upaya dan langkah-langkah pemerintah dan aparat keamanan untuk mengusut secara cepat dan tuntas motif, pola serta gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut.

“Gerakan terorisme sudah semakin merajalela, maka diperlukan penanganan khusus dan ekstra yang lebih intensif dari pelbagai pihak, utamanya negara melalui keamanan. Negara wajib hadir untuk menjamin keamanan hidup setiap warganya,” katanya.

Sebelumnya, Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), Presidium Dewan Pimpinan Pusat Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), Pengurus Pusat Pemuda Katolik (PK), Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Sekretaris Nasional Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) dan Forum Masyarakat Katolik Indonesia Keuskupan Agung Jakarta mengeluarkan pernyataan yang juga berisi kecaman terhadap serangan bom di propinsi tersebut.

“Ledakan bom ini tidak hanya merusak harta benda dan (menimbulkan) korban meninggal dunia dan luka berat, tetapi juga mengoyak kerukunan umat beragama yang sudah kita jaga,” kata mereka.

“Kami memandang persatuan dan kesatuan serta kebhinekaan adalah keniscayaan yang harus terus menerus kita jaga, rawat dan pertahankan dengan segenap jiwa dan raga sebagai sebuah bangsa yang berdaulat,” lanjut mereka.

Menurut mereka, tragedi kemanusiaan itu telah melukai hati anak-anak bangsa.

“Kita memang masih berduka, tetapi kita ingin bangkit dan melawan kejahatan terorisme dan semua tindakan intoleransi di Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegas mereka.

Selain Gereja Katolik, kecaman terhadap serangan bom tersebut juga berasal dari tokoh agama Protestan dan Muslim.

Pendeta Jeirry Sumampow, kepala humas Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), menegaskan bahwa kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

“Sesungguhnya tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan dan pembunuhan. Agama apapun mengajarkan kemanusiaan, damai dan cinta kasih. Kesesatan berpikirlah yang membawa penganut agama melakukan kekerasan dan tindak terorisme,” katanya.

Ia pun mengimbau para tokoh agama agar lebih mewaspadai munculnya para pendukung kekerasan dan terorisme yang berbalutkan penginjil atau pendakwah.

“Program deradikalisasi BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) akan sias-sia jika masyarakat justru memberi panggung kepada para pemimpin agama yang menyebarkan paham radikalisme dan kekerasan lewat dakwah-dakwahnya,” lanjutnya.

Sementara itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak masyarakat untuk bersatupadu menahan diri  dan tidak terprovokasi serta terus menggalang solidaritas kemanusiaan.

“Jika mendapati peristiwa sekecil apapun yang menjurus pada radikalisme dan terorisme, segera laporkan ke aparat keamanan. Segala hal yang mengandung kekerasan sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Islam dan bahkan bertentangan dengan ajaran agama apapun,” demikian pernyataan PBNU yang ditandatangani oleh Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj dan Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini.

Doa Bagi Korban

Misa arwah untuk mendoakan Aloysius Bayu Rendra Wardhana, salah seorang umat yang menjadi korban serangan bom di Paroki St. Maria Tak Bercela, diadakan di rumah korban pada Minggu (13/5) malam.

Sekitar 200 umat Katolik dari paroki itu dan beberapa paroki lainnya menghadiri acara itu. Salah satunya Alexander Erik Lega dari Paroki St. Aloysius Gonzaga.

“Saya dan almarhum Bayu sama-sama alumni dari Universitas Katolik Darma Cendika di Surabaya,” kata Erik kepada ucanews.com.

Ia juga menceritakan bahwa Misa Minggu dan kebaktian di seluruh gereja di Surabaya ditiadakan pasca serangan bom di tiga gereja tersebut sampai situasi menjadi kondusif.

“Kalau waspada iya, tapi tidak takut. Kalau takut kita malah kalah,” lanjutnya.

Doa juga digelar di beberapa wilayah lain di Indonesia dan diikuti oleh masyarakat dari berbagai latar belakang agama.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi