UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Negara Bagian Jammu dan Kashmir Upayakan Gencatan Senjata

Mei 14, 2018

Negara Bagian Jammu dan Kashmir Upayakan Gencatan Senjata

Aparat keamanan India melakukan aksi saat terjadi pertempuran senjata antara pasukan keamanan dan terduga pemberontak di Srinagar pada 5 Mei. (Foto: Habib Naqash/AFP)

Negara Bagian Jammu dan Kashmir telah meminta pemerintah federal di India untuk mengupayakan gencatan senjata antara militan dan pasukan keamanan selama Bulan Suci Ramadan yang akan mulai pada Kamis (17/5).

Menteri Utama Negara Bagian Jammu dan Kashmir Mehbooba Mufti berharap gencatan senjata bisa diperpanjang hingga Agustus guna menjaga suasana saat Idul Fitri dan Amaranth Yatra, musim ziarah bagi umat Hindu.

Ketegangan dan kekerasan mulai terjadi sejak Minggu (6/5) lalu ketika tentara membunuh lima militan termasuk seorang mantan dosen sosiologi dari Universitas Kashmir, yakni Mohammad Rafi Bhat.

Akademisi itu meninggalkan rumah untuk bergabung dengan militan hanya selang dua hari sebelum kematiannya.

Berita tentang pembunuhan itu memicu aksi protes besar-besaran. Enam warga sipil pun meninggal dunia. Hal ini mendorong sejumlah pemimpin separatis untuk melakukan aksi balasan.

Perguruan tinggi masih tutup bahkan setelah jam malam yang diberlakukan selama tiga hari di wilayah-wilayah yang rawan dicabut pada Rabu (9/5).

Ulama dan pemimpin separatis di Negara Bagian Jammu dan Kashmir, Mirwaiz Umar Farooq, mengatakan kepada ucanews.com bahwa pemerintah India terlibat dalam “pembantaian” warga Kashmir dan gagal mengatasi isu pokok terkait kebebasan.

Ia menambahkan bahwa Negara Bagian Jammu dan Kashmir telah menjadi koloni India yang diduduki oleh 700.000 tentara.

“Amarah di Negara Bagian Jammu dan Kashmir dan generasi muda yang mulai melawan merupakan indikasi nyata bahwa India gagal di sana,” katanya.

Ia mengatakan usulan gencatan senjata saat Ramadan, jika disetujui, bisa membantu menciptakan perdamaian.

Sejak Januari, 53 militan, 33 warga sipil dan 13 tentara tewas dalam kekerasan.

Tasleem Ahmad, seorang pria muda di Negara Bagian Jammu dan Kashmir, mengatakan perlawanan bersenjata merupakan dampak dari pernyataan yang dikeluarkan oleh pemerintah India terkait perang terhadap masyarakat.

Kekerasan di Negara Bagian Jammu dan Kashmir meningkat pada Juli 2016 ketika terjadi pembunuhan terhadap pemimpin militan, Burhan Wani, oleh tentara India. Dalam waktu kurang dari 24 jam, 30 demonstran tewas.

Perlawanan yang berlangsung selama enam bulan menewaskan 90 orang dan mengakibatkan 11.000 orang lainnya cedera.

Banyak warga setempat menganggap militan sebagai pejuang kebebasan.

Konflik mulai terjadi pada 1947 ketika India dan Pakistan terpisah pasca berakhirnya pemerintahan Inggris.

Kedua negara tersebut mengklaim Negara Bagian Jammu dan Kashmir dan telah terlibat dalam sejumlah perang yang mengakibatkan banyak korban.

Pembicaraan masa lalu yang didukung oleh pejabat Gereja dan beberapa kelompok lainnya gagal menemukan solusi abadi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi