UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja Menjadi Tempat Perlindungan Pengungsi di Myanmar

Mei 16, 2018

Gereja Menjadi Tempat Perlindungan Pengungsi di Myanmar

Para pengungsi yang meninggalkan rumah-rumah mereka menyusul bentrokan di antara militer dan pemberontak di daerah terpencil negara itu sedang menyusun bambu untuk membangun tempat penampungan sementara di sebuah pelataran gereja di Negara Bagian Kachin pada 12 Mei. (Foto: Ye Aung Thu/AFP)

Serangan militer Myanmar yang berkelanjutan terhadap para pemberontak di Negara Bagian Kachin utara telah mengakibatkan ribuan orang berlindung di gereja-gereja.

Pastor Peter Hka Awng Tu, pastor paroki  Santo Columban Katedral di Myitkyina, mengatakan lebih dari 600 orang dari kota Ingyanyang ingin melarikan diri dari serangan militer.

Militer diminta menyelamatan mereka, kata Pastor Awng Tu.

Imam itu menambahkan  hampir 2.000 orang telah berlindung di gereja-gereja Katolik di kota-kota – Myitkyina, Tanai, Tangphre dan Namti.

Kelompok lain yang berjumlah sekitar 200 orang diberi perlindungan di sebuah kamp pengungsi internal yang dikelola orang Katolik di kota Waimaw, dekat Myitkyina.

“Situasinya mengkhawatirkan karena makin banyak orang meninggalkan rumah-rumah mereka sebagai akibat dari serangan besar militer di beberapa kota di Kachin,” kata Pastor Awng Tu kepada ucanews.com.

Lebih dari 600 orang yang terperangkap di hutan dekat Tanai dan amber dan wilayah emas sejak 11 April mencapai kota-kota minggu lalu dengan bantuan dari kelompok-kelompok Gereja.

Negara Bagian Kachin memiliki  90 persen Kristen dan telah dilanda pertempuran sporadis selama beberapa dekade. Lebih dari 100.000 orang terlantar di Kachin dan negara bagan  tetangga Shan setelah diusir dari rumah mereka sejak pertempuran berlanjut tahun 2011.

 Militer Myanmar meningkatkan operasi ofensif di Negara Bagian Kachin pada awal April, meluncurkan serangan terhadap Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA) menggunakan artileri berat, helikopter dan jet tempur.

Pemerintah telah berjanji mengakhiri konflik yang telah berlangsung puluhan tahun, tetapi bentrokan  baru terjadi telah merusak inisiatif perdamaian. Pertempuran itu juga menimbulkan pertanyaan tentang seberapa besar pengaruh yang dimiliki Penasihat Negara Aung San Suu Kyi atas militer.

Lebih dari 8.000 orang telah menjadi pengungsi  di Negara Bagian Kachin dan Negara Bagian Shan sejak awal April.

Ini termasuk lebih dari 7.400 orang di Kachin yang terlantar karena pertempuran antara militer dan KIA.

Ada laporan bahwa di Negara Bagian Shan utara lebih dari 600 orang telah mengungsi akibat bentrokan antara pasukan pemerintah dan beberapa kelompok etnis bersenjata.

Pertempuran di Kachin berlanjut ke Negara Bagian Shan bagian utara akhir pekan lalu, mengakibatkan banyak korban mati dan terluka.

Gum Sha Awng, juru bicara  Aliansi Tim Strategi Gabungan dari sembilan kelompok kemanusiaan, mengatakan bentrokan berlanjut pada 14 Mei tetapi dia tidak memiliki informasi tentang apakah ada lebih banyak korban sipil.

Orang yang ketakutan bisa mengungsi ke Cina, kata Gum Sha Awng kepada ucanews.com.

Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang (TNLA) dan KIA menyerang pasukan polisi kota Muse dan pangkalan militer lokal Namkham Myoma di jembatan Pan Khan pada 12 Mei, menyebabkan 19 orang tewas; 14 warga sipil dan lima anggota militer lokal serta seorang perwira polisi, menurut laporan media negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi