UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Harga BBM di Sri Lanka “Mencekik” Para Nelayan

Mei 16, 2018

Harga BBM di Sri Lanka “Mencekik” Para Nelayan

Nelayan mempertontonkan bendesa hitam di perahu dan kapal pemukat mereka di Negombo pada 15 Mei. Pasar ikan juga tutup dan banyak perahu tetap berada di pelabuhan. (Foto: Quintus Colombage/ucanews.com)

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) telah memicu aksi protes di kalangan nelayan di Sri Lanka. Banyak nelayan menolak melaut sejak Senin (14/5) karena mereka menuntut pemerintah agar mendengarkan permintaan mereka untuk mengontrol harga BBM.

Sebagai bagian dari aksi protes, mereka juga mengibarkan bendera hitam di perahu dan kapal pemukat. Hal ini memaksa pasar ikan untuk tutup dan meninggalkan pelabuhan.

Pada 10 Mei, pemerintah menaikkan harga minyak tanah menjadi 57 rupee (sekitar 0,36 dolar AS) per liter, premium menjadi 20 rupee dan solar menjadi 14 rupee.

Sebuah perahu bermesin tunggal membutuhkan 20-35 liter minyak tanah untuk melaut sepanjang hari. Akhirnya banyak nelayan tidak bisa melanjutkan aktivitas melaut mereka dan memutuskan untuk tidak melaut sampai harga BBM diturunkan, kata Loyal Pieris, ketua Perhimpunan Nelayan Nasional.

“Biaya yang dikeluarkan untuk membeli BBM naik dari 1.500 menjadi 3.000 rupee per hari (sekitar 9,40-18,80 dolar AS),” kata Pieris yang mewakili 2.000 anggota perhimpunan itu.

Menyusul aksi protes di seluruh negeri dan aksi boikot melaut yang masih berlanjut, pemerintah sepakat untuk menyediakan subsidi BBM mulai 18 Mei.

Namun Pieris mengatakan anggotanya tidak akan puas dengan langkah yang pernah dilakukan ini dan mendesak pemerintah agar menurunkan harga BBM di seluruh negeri itu.

“Ketika mereka memberi subsidi BBM beberapa waktu lalu, sejumlah pejabat meminta suap dan memberi subsidi kepada orang lain dan bukan mereka yang pergi ke laut untuk bertahan hidup,” katanya kepada ucanews.com.

“Ribuan nelayan turun ke jalan pada 2012 untuk menentang kenaikan harga BBM yang diperkenalkan di bawah kepemimpinan Mahinda Rajapaksa,” lanjutnya.

“Kemudian polisi menembak para demonstran yang melakukan aksi protes secara damai, dan sedikitnya satu orang Katolik, Anton Fernando, tewas,” kata Peiris dari Barudalpola di Kota Maravilla, Propinsi Barat Laut.

Ia mengatakan pekerja teh dan petani juga mengalami kesulitan akibat kenaikan harga BBM secara mendadak.

Seorang nelayan lainnya, Anton Samare dari Negombo, mengatakan harga suku cadang mesin dan jaring juga meningkat beberapa kali baru-baru ini sehingga cukup sulit bagi nelayan untuk membeli membiayai kebutuhan hidup sehari-hari.

“Saya punya tiga anak. Maka sangat sulit bertahan hidup sekarang. Belum lagi kami harus membeli BBM,” kata Samare.

“Beberapa hari kami tidak menangkap ikan. Tapi kami masih harus membayar minyak tanah yang naik 130 persen,” lanjutnya.

Kardinal Malcolm Ranjith mengatakan nelayan adalah orang yang paling terdampak dan pemerintah bertanggungjawab untuk membantu mereka.

Banyak nelayan di Sri Lanka beragama Kristen dari komunitas marginal yang secara rutin mengorbankan penghasilan harian mereka setiap Hari Minggu untuk menghadiri Misa dan menghormati Hari Sabat sebagai hari istirahat.

Mereka mengaku sulit karena jaring yang rusak bisa merogoh penghasilan mingguan mereka dan jika mereka kembali ke pelabuhan dengan tangan kosong, mereka hanya menghabiskan uang dan tidak membawa pulang apa pun.

Mangala Samaraweera, perdana menteri Sri Lanka, mengatakan pemerintah tidak akan mampu memulihkan harga BBM seperti sebelumnya akibat kenaikan harga minyak di pasar dunia.

Sementara itu, para pengusaha bus meminta kenaikan ongkos minimum sebagai dampak dari kenaikan harga BBM.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi