UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat Kristiani di Surabaya Masih Trauma Akibat Serangan Bom

Mei 16, 2018

Umat Kristiani di Surabaya Masih Trauma Akibat Serangan Bom

Rosalia Siswaty memegang sebuah foto keponakannya, Aloysius Bayu Rendra Wardhana, yang tewas pada 13 Mei saat berusaha menghadang dua pelaku bom bunuh diri yang mencoba menerobos masuk ke lingkungan gereja Paroki St. Maria Tak Bercela. (Foto: Ryan Dagur/ucanews.com)

Umat Kristiani di Surabaya, Propinsi Jawa Timur, masih berjuang menghilangkan rasa trauma dan dukacita mendalam setelah terjadi serangan bom di tiga gereja termasuk Paroki St. Maria Tak Bercela di kota terbesar kedua di Indonesia tersebut pada 13 Mei lalu.

Serangan bom bunuh diri di ketiga gereja yang dilakukan oleh satu keluarga yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan juga serangan bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya pada keesokan harinya yang dilakukan oleh satu keluarga lainnya menewaskan sedikitnya 25 orang termasuk para pelaku dan mencederai puluhan orang.

“Umat paroki masih dihantui rasa trauma,” kata Fransiskus Xaverius Ping Tedja, koordinator keamanan di paroki tersebut.

Meskipun demikian, kegiatan paroki tetap berlangsung seperti biasa, termasuk Misa harian, lanjutnya.

“Ada kenaikan jumlah umat yang menghadiri Misa karena mereka ingin berdoa bersama bagi para korban,” katanya.

Rosalia Siswaty, tante dari Aloysius Bayu Rendra Wardhana yang tewas saat berusaha menghadang dua pelaku bom bunuh diri yang mengendarai sepeda motor dan mencoba menerobos masuk ke lingkungan gereja, mengatakan ia dan keluarganya sangat bangga dengan aksi keponakannya.

“Kami sangat sedih dengan insiden ini. Tapi kami juga bangga karena ia meninggal untuk menyelamatkan banyak orang,” katanya kepada ucanews.com.

Pastor Alexius Kurdo Irianto, selaku pastor paroki, mengatakan parokinya kini memfokuskan pemberian bantuan kepada keluarga korban.

Josua Poli, jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) – gereja yang juga menjadi sasaran serangan bom, mengatakan umat Protestan masih trauma.

Tetapi “sejauh ini hubungan kami dengan penduduk setempat baik-baik saja,” katanya.

Sementara itu, keamanan ketat masih dilakukan di kedua gereja tersebut serta di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) yang juga menjadi sasaran serangan bom.

Walikota Surabaya Tri Rismaharini memerintahkan agar keamanan diperketat untuk memastikan “tidak akan ada lagi insiden,” kata Mimik Sugiono, juru bicara Satpol PP.

“Kami tidak mau kehilangan lebih banyak orang,” katanya kepada ucanews.com.

Keamanan juga diperketat di sekolah-sekolah Katolik dan Protestan, lanjutnya.

“Kami selalu berkoordinasi dengan intelijen dan langkah-langkah pengamanan diambil berdasarkan informasi mereka,” katanya, seraya menambahkan bahwa sedikitnya 20 aparat keamanan dikerahkan di setiap lokasi.

Orang muda Katolik juga diminta untuk menjaga keamanan, termasuk di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus, kata Indra Tewa, koordinator keamanan gereja katedral.

“Sejak insiden terjadi, setiap malam, ada sekitar 30 orang muda Katolik ikut berjaga-jaga,” katanya.

 

One response to “Umat Kristiani di Surabaya Masih Trauma Akibat Serangan Bom”

  1. ANTONIUS NAIBAHO says:

    semakin tinggi tekanan tekanan kejiwaan manusia, didorong oleh berbagai perlakuan perlakuan yang tidak manusiawi, sehingga pengaruh nafsu jahat seolah putus asa telah menguasai diri manusia,musuh kebenaran sudah semakin besar. lalu tergantung niat mempertahankan kebenaran selalu diatas segalanya. kita ikhlaskan yang sudag terjadi.
    Rasa trauma takut, memang tidak bisa terlupakan dengan peristiwanya, tetapi roh kudus akan tetap menjadi kekuatan segalanya. Semoga ujian ini kembali kepada kehendakNYA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi