UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Aparat Tetap Perketat Pengamanan Gereja di Surabaya

Mei 17, 2018

Aparat Tetap Perketat Pengamanan Gereja di Surabaya

Aparat berjaga-jaga di Gereja St Maria Tak Bercela. (Foto: Ryan Dagur/ucanews.com)

Menyusul terjadinya serangan bom bunuh diri secara beruntun terhadap tiga gereja dan satu kantor polisi di Surabaya, aparat menerapkan pengamanan ketat untuk gereja-gereja di ibukota Provinsi Jawa Timur tersebut.

Sebagaimana disaksikan ucanews.com, Selasa, 15 Mei, para polisi, tentara dan Satpol PP tampak berjaga-jaga di sejumlah gereja, juga  fasilitas umum yang dinilai rawan.

Hingga kini, total 13 orang korban dan 12 pelaku yang dinyatakan meninggal, sementara puluhan lainnya luka-luka akibat serangan yang dilakukan selama dua hari.

Serangan pertama yang terjadi pada Minggu, 13 Mei berlokasi di Gereja Katolik St Maria Tak Bercela di Ngagel; Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro dan Gereja Pentekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuna. Pada hari yang sama, terjadi ledakan bom di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo.

Hari berikutnya, Senin, 14 Mei, Mapolresta Surabaya menjadi sasaran, di mana empat pelaku kemudian tewas.

Mimik Sugiono, salah satu kordinator Satpol PP yang ditemui di GKI Jalan Diponegoro mengatakan, penjagaan ketat itu atas instruksi Polda Jawa Timur dan Walikota Risma, demi memastikan tidak ada lagi kejadian serupa.

“Kami tidak mau kecolongan lagi,” katanya. “Pemerintah berkomitmen untuk melindungi semua warga negara,” katanya.

Selain Gereja, sekolah-sekolah Kristen dan Katolik juga menjadi pusat pengamanan, katanya.

“Kita selalu berkoordinasi dengan intelijen. Penentuan objek yang menjadi prioritas pengamanan mengacu pada informasi mereka,” katanya.

Setiap lokasi yang dianggap rawan ancaman, kata dia, ditempatkan lebih dari 10 petugas.

Di Gereja Katolik St Maria. penjagaan ketat dilakukan sejak 13 Mei, yang melibatkan belasan pasukan gabungan.

“Umat memang saat ini masih dihantui trauma dan kehadiran aparat bisa membuat umat bisa beribadah dengan tenang,” kata Fransiskus Xaveris Ping Tedja, ketua keamanan di paroki tersebut.

Ia menjelaskan, kini di Gereja itu yang bagian depannya hancur, masih berlangsung sejumlah kegiatan Gereja, termasuk Misa harian.

“Ada peningkatan jumlah umat, karena mereka mau bersama-sama mendoakan para korban,” katanya.

Di Gereja Katedral, Surabaya, jalan di depannnya masih disterilkan dan aparat kepolisian selalu mengadakan patroli rutin ke lokasi tersebut, kata Indra Tewa, koordinator penjaga keamanan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi