UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Dua Gereja yang Rusak Akibat Bom Bunuh Diri Mulai Diperbaiki

Mei 17, 2018

Dua Gereja yang Rusak Akibat Bom Bunuh Diri Mulai Diperbaiki

Kondisi GPPS rusak parah akibat serangan bom bunuh diri. (Foto: Ryan Dagur/ucanews.com)

Dua dari tiga gereja yang menjadi sasaran bom bunuh diri di Surabaya, Propinsi Jawa Timur, mulai melakukan perbaikan gedung gereja dan membantu para korban yang selamat agar terhindar dari trauma.

Gereja ketiga belum bisa melakukan perbaikan pada 16 Mei karena tim forensik polisi masih melakukan penyelidikan di lokasi kejadian.

Upaya perbaikan gedung gereja Paroki St. Maria Tak Bercela dimulai sehari setelah serangan bom bunuh diri terjadi pada Minggu (13/5). Fokusnya adalah memperbaiki menara, pintu utama, dinding dan jendela di bagian depan gedung gereja.

“Kami berharap perbaikan ini selesai minggu ini,” kata Pastor Alexius Kurdo Irianto kepada ucanews.com.

Selain perbaikan gedung gereja, paroki juga memfokuskan upaya bantuan bagi para korban yang masih trauma.

Pastor Kurdo dan dewan paroki telah mengunjungi semua korban yang masih dirawat di rumah sakit dan juga keluarga mereka.

“Saya sangat terkesan, mereka menerima apa yang telah terjadi dan ingin memaafkan para pelaku,” katanya.

Ia menambahkan bahwa paroki sepakat membantu para korban termasuk memberi bantuan finansial untuk anak-anak yang orangtuanya meninggal, termasuk kedua anak Aloysius Bayu Rendra Wardhana.

Bayu tewas saat berusaha menghadang dua pelaku bom bunuh diri yang mencoba menerobos masuk ke gereja.

Di Gereja Kristen Indonesia (GKI), upaya perbaikan dimulai pada Selasa (15/5) setelah polisi selesai melakukan investigasi di lokasi ledakan.

Gedung gereja GKI mengalami kerusakan ringan.

Ledakan melukai beberapa pertugas keamanan gereja, kata Josua Poli, anggota dewan gereja. Gereja juga tengah melakukan program penyembuhan trauma.

Sementara itu, upaya perbaikan di Gereja Pentekosta Pusat Surabaya (GPPS) yang mengalami kerusakan parah belum dimulai. Polisi masih melakukan pengumpulan barang bukti terkait jenis bom yang digunakan.

Soehendro, seorang jemaat yang berada di dalam gereja saat terjadi ledakan, mengatakan gedung gereja membutuhkan perbaikan besar karena interior rusak parah.

“Ledakannya besar dan menyebabkan atap roboh. Jemaat lari karena panik,” katanya kepada ucanews.com.

Seorang wanita yang berada di dalam gereja ketika terjadi ledakan dan minta tidak disebutkan namanya mengatakan ledakan itu meninggalkan rasa takut luar biasa sehingga ia tidak mau datang kembali ke gereja itu selama beberapa hari ke depan.

“Saya berani datang hari ini (Rabu) saja setelah suami saya minta berkali-kali,” katanya.

Serangan terhadap ketiga gereja tersebut dilakukan oleh satu keluarga termasuk anak-anak yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Serangan ini menewaskan 12 umat Kristiani dan mencederai banyak umat lainnya.

Serangan lain terjadi di Mapolrestabes Surabaya keeseokan harinya oleh sebuah keluarga. Sedikitnya empat orang tewas dan 10 orang cedera.

Densus 88 menemukan 54 bom rakitan di rumah keluarga pelaku bom bunuh diri yang menyerang Mapolrestabes Surabaya.

Pada 16 Mei, beberapa teroris menyerang kantor polisi di Pekanbaru, Propinsi Riau. Serangan ini menewaskan satu polisi, dan empat teroris yang berafiliasi dengan ISIS ditembak mati oleh polisi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi